Selasa, Mei 31, 2011

Polisi Bantah Payudara Melinda Dee Kena Radang

JAKARTA, M86 - Kabar kalau tersangka kasus pencucian uang dan pembobolan dana nasabah Citibank senilai Rp17 miliar, Melinda Dee kena radang payudara sehingga harus dilarikan ke RS Polri Kramat Jati, dibantah Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Anton Bachrul Alam.

"Tidak ada keterangan itu (radang payudara-red). Dia dibawa ke rumah sakit karena tensinya naik," jelas Anton, kepada wartawan di Mabes Polri, Selasa (31/5).

Anton mengatakan banyak faktor yang menyebabkan naiknya tekanan darah Malinda, salah satunya stress. Namun, dia enggan memberikan penjelasan lebih lanjut karena merasa tidak berwenang memberikan penjelasan medis."Saya kira banyak masalah, nanti kita tanya dokter," kata dia.

Anton juga yakin RS Polri masih mampu menanganinya, sehingga Malinda tak perlu berobat ke luar negeri.

Tindak pidana perbankan dan pencucian uang yang dilakukan mantan Relation Manager Citibank cabang Landmark Jakarta Selatan itu terungkap atas laporan Citibank yang mengaku mendapat aduan dari tiga nasabahnya.

Atas perbuatannya itu, Malinda dijerat dengan sangkaan pasal 49 ayat 1 dan 2 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan atau pasal 6 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Polisi telah menyita barang bukti berupa sejumlah dokumen transaksi, sebuah mobil Hummer H3 putih bernomor polisi B 18 DIK, Ferrari bernomor polisi B 5 DEE, Mercedez Benz putih tipe E350 Nopol B 467 QW atas nama Malinda Dee dan Ferrari merah bernomor polisi B 125 DEE seri California yang ditaksir seharga Rp5 miliar. (red/*b8)

Kemalaman, Penumpang Gadis Diperkosa Bergiliran

LAMPUNG, M86 - Kemalaman di jalan, seorang gadis, Feni (19), warga Pematang Panggang, Mesuji, diperkosa bergilir oleh 2 kernet bus P.O. Kencana Jaya di atas kendaraan ketika melintas di Desa Mulyasari, Tulang Bawang, sekitar pukul 19.00 WIB malam.

Usai diperkosa ke-2 kernet, Agus (30) dan Heri (27), korban langsung melapor ke Polres Tulang Bawang. Satu tersangka, Heri, berhasil ditangkap saat berada di atas bus, sedangkan Agus masih dalam pengejaran.

Kedua tersangka merupakan warga Gunung Batin, Terusan Nunyai, Lampung Tengah, kernet bus Kencana Jaya jurusan Rajabasa - Way Abung.

Menurut Kapolres Tulang Bawang, AKBP. Shobarmen menjelaskan, pemerkosaan berawal ketika korban menunggu bus jurusan Rajabasa - Pematang Panggang di Bundaran Tugu Raden Intan, Bandar Lampung. Siang itu, datang bus Kencana Jaya yang mengaku siap mengantar korban ke tujuan.

Korban langsung naik bus, sesampainya di Simpang Gunung Batin, sopir bus tersebut, Komarudin (40), turun dan mengalihkan kemudi kepada Agus selaku kernet untuk mengantar penumpang ke Way Abung.

Sampai di Pasar Daya Murni, seluruh penumpang turun. Tinggal korban sendiri di bus bersama Agus dan kernet lainnya, Heri.

"Pada saat bus melanjutkan perjalanan melalui Kampung Margomulyo - Tunasasri. Di tengah perjalanan bus tersebut berhenti. Agus dan Heri beralasan bus rusak lalu mereka mengancam korban dan memperkosa korban secara bergiliran," kata Kapolres. (red/*jno)

Bekas Perawat Simpan Heroin Senilai Rp1,1 Miliar Dalam Anus

JAKARTA, M86 - Flory binti Sopikit, bekas perawat dari Malaysia ditangkap petugas Bea dan Cukai Soekarno-Hatta karena berusaha menyelundupkan heroin seharga Rp1,1 miliar.

Heroin yang dikemas dalam kapsul dengan total berat 545 gram itu sebagian disembunyikan dalam saku kanan dan kiri celana pendek yang dilipat dan diikat lalu dimasukkan dalam tas punggung. Sisanya, sebanyak 20 butir, disembunyikan dalam anus.

"Tersangka membawa heroin dari Kuala Lumpur atas perintah seorang warga Nigeria berinisial A yang tinggal di Malaysia," kata Kepala seksi penindakan dan penyidikan Bea Cukai Soekarno-Hatta, Gatot Sugeng Wibowo, Selasa (31/5).

Menurut Gatot, Flory 'diumpankan' untuk menguji pengamanan di Bandara Soekarno-Hatta Sabtu lalu.

"Mereka anggap pengawasan di Bandara Soekarno-Hatta dan bandara di Indonesia lengah karena konsentrasi ke siaran langsung final Piala Champions Barcelona melawan Manchester United," kata Gatot.

Untuk tugasnya itu, jelas Gatot, Flory dijanjikan upah US$ 1.000 dan biaya untuk akomodasi sebesar US$ 300.

Dari penangkapan di bandara, petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan pengembangan dan menggiring Flory ke hotel tujuannya di Cikini, Jakarta Pusat. Di hotel itulah petugas menangkap seorang tersangka penerima paket yang identitasnya masih dirahasiakan. (red/*b8)

Gayus Bikin Paspor Palsu Bermula Ngobrol Bisnis Tambal Ban

JAKARTA, M86 - Kasus paspor palsu Gayus Holomoan Tambunan diawali dengan obrolan soal bisnis ban dan asuransi dengan tersangka Ari Nur Irwan alias Ari Kalap, Agung Sutiastoro, dan Jhon Jerome Grice, warga negara Amerika Serikat (buronan) di rumah Gayus di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara, sekitar Agustus 2010.

Setelah pertemuan, Jhon mengatakan kepada Gayus bahwa ia dapat membuat berbagai dokumen seperti paspor, KTP, visa. Gayus lalu menanyakan apakah bisa membuat paspor tanpa harus datang ke kantor Imigrasi.

"Jika bisa, Gayus menjanjikan uang 20.000 dollar AS," papar Jaksa Penuntut Umum (JPU) Semeru, dalam persidangan kasus pemalsuan paspor dengan terdakwa Gayus Tambunan di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Selasa (31/5).

Setelah disanggupi, John bersama Ari lalu mulai membuat proyek pembuatan paspor palsu untuk Gayus atas nama Sony Laksono dengan nomor seri T 116444. "Selanjutnya terdakwa menyerahkan uang tunai sebesar 20.000 dollar AS," kata jaksa.

Jaksa juga memastikan bahwa foto pria yang menggunakan wig dan berkacamata dalam paspor adalah wajah Gayus Tambunan. Jaksa menyimpulkan hal tersebut berdasarkan hasil pemeriksaan tim dari Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri serta pemeriksaan dengan metode super imposed.

Dalam dakwaannya Jaksa menjerat Gayus dengan Pasal 55 Huruf a atau c UU Nomor 9 tahun 1999 tentang Keimigrasian atau Pasal 266 ayat (2) KUHP, atau Pasal 263 ayat (2) KUHP. (red/*b8)

Senin, Mei 30, 2011

LIMA: KPK Masih Lemah Tangani Kasus Nunun Nurbaeti

JAKARTA, M86 - Direktur Lingkar Mardani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti,menilai kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) belum maksimal dalam menyelesaikan kasus Nunun Nurbaety selaku tersangka kasus suap pemenangan Miranda S Gultom sebagai gubernur senior Bank Indonesia.

Dia menekankan kepada KPK untuk secepatnya menghadirkan tersangka Nunun yang dikabarkan sedang berada di luar negeri dalam masa pengobatannya.

"Itu kan dia sudah lama ditetapkan tersangka, saya tidak apresif dengan kinerja KPK yang sekarang," ujar Ray, Senin (30/5).

Ray menyayangkan, KPK masih belum berani untuk bertindak cepat atas penanganan kasus istri dari mantan Wakapolri Adang Daradjatun ini, meskipun sudah ditetapkan sebagai tersangka dan belakangan, Kementerian Hukum dan HAM juga telah menarik paspor Nunun Nurbaeti, dan penarikan tersebut atas permintaan resmi KPK.

"Sudahi saja massa kerja KPK yang saat ini, sudah selesai, " tegasnya. (red/*tdc)

Polda Awasi Peredaran Narkoba Via Jasa Paket

JAKARTA, M86 - Model pengiriman konvensional menggunakan kurir sabu-sabu perlahan mulai ditinggalkan. Namun saat ini para pengedar barang haram tersebut mulai membidik sasaran jasa pengiriman paket menjadi model baru untuk mengelabuhi petugas.

Ini setelah Jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Jatim berhasil mengamankan barang bukti 14,1 gram sabu-sabu yang dikemas dalam 43 paket. Setiap kemasan memiliki berat dan harga bervariasi mulai Rp 200 juta – 300 juta. Hal ini ditegaskan oleh Direktur Reserse Narkoba (Direskoba) Polda Jatim, Kombes Pol Jan De Fretes saat ditemui di Mapolda Jatim.

Dikatakannya, Dari beberapa kasus yang ada, model peredaran obat-obatan terlarang dan narkotika dengan menggunakan jasa pengiriman paket tergolong efektif. Modus baru peredaran narkoba tersebut dinilai bisa mengalihkan kecurigaan aparat terhadap pengiriman barang haram tersebut.

Kelebihan lainnya, suplai pengiriman barang bisa sampai ke tujuan dengan jumlah yang lebih besar sesuai pesanan. Bahkan, cara tersebut dianggap bisa memberikan ketepatan lokasi tujuan tanpa melibatkan langsung antara pemesan dan jaringan pengedar. “Jadi, kami harus lebih hati-hati dan jeli dalam membongkarnya. Karena, barang yang dikirimkan tersamar dengan barang-barang kiriman lainnya,” tuturnya.

Menurutnya, fenomena tersebut, sudah bisa dipastikan, para pengedar, khususnya bandar dan penyuplai kebutuhan narkoba bisa melenggang tanpa tersentuh aparat. Hal ini terbukti dengan kaburnya seorang anggota penyuplai jaringan ibukota yang mengedarkan narkobanya di kawasan Sidoarjo dan Surabaya.

“Sekarang, kami sedang memburunya. Dia (supplier sindikasi Jakarta, red) juga kami masukkan dalam daftar pencarian orang (DPO). Sedangkan, tiga pelaku lainnya sudah kami tangkap,” tegas Direskoba Polda Jatim saat didampingin oleh Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Rachmat Mulyana.

Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan terhadap 3 tersangka pengedar sabu-sabu yang diringkus Polda Jaitm itu antara lain, Khoirul, (25) warga Sedati, Sidoarjo, Musgito (49) tinggal di Sukorejo, Blitar dan Alex (41) domisili Peterongan, Jombang. Ketiganya ini merupakan tangan kanan yang mengedarkan narkobanya ke wilayah Sidoarjo dan Surabaya. “Barangnya disuplai dari Jakarta, tapi terpusat di Blitar. Dari Blitar itulah, barang diedarkan hingga 2 wilayah tadi,” ujarnya. (red/*jno)

Sabtu, Mei 28, 2011

Mau Ngeseks, Tewas Minum Obat Kuat di Atas Perut Pemandu Lagu

LAMPUNG, M86 - Mau main seks dengan seorang pemandu lagu, lantas minum obat kuat, Jie Chen (32), warga Jl. Ikan Tembakang Lk. II, Bandar Lampung, tewas di Hotel Laut Intan kamar 1A, Jl. Yos Sudarso, Teluk Betung Selatan, Bandar Lampung, sekitar pukul 06.00 WIB.

Teman kencannya, Mega Fransiska (26), warga Kampung Kebun Sayur Lk. II Panjang Utara, Bandar Lampung, hanya bisa menjerit saat melihat laki-laki yang membokingnya mengeluh sesak nafas lalu terjatuh di tubuhnya dengan kondisi sekarat hingga akhirnya tewas.

Mega lalu memanggil karyawan hotel lalu pihak hotel melapor ke Polresta Bandar Lampung. Korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek untuk divisum.

Menurut Mega, tamunya memboking dari mulai ke karaoke lalu kemudian melanjutkan bokingnya di hotel. Sesampainya di hotel, laki-laki tersebut minum obat kuat dan saat akan melakukan hubungan seks langsung ambruk menimpa tubuhnya dan setelah diperiksa ternyata laki-laki tersebut tewas.

Kasatreskrim Polresta Bandar Lampung, Kompol. Takdir Matanette, membenarkan adanya laporan pengunjung hotel yang tewas akibat obat kuat.

"Kami langsung melakukan penyidikan terhadap penyebab tewasnya korban. Beberapa orang saksi sudah kami mintai keterangan," kata Kasat. (red/*jno)

Pendaftaran Calon Pimpinan KPK Dibuka 30 Mei

JAKARTA, M86 - Menteri Hukum dan HAM yang juga Ketua Panitia Seleksi (Pansel) Patrialis Akbar mengumumkan pendaftaran calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) secara resmi mulai dibuka pada 30 Mei dan ditutup pada 20 Juni 2011.

"Pendaftaran dimulai pada Senin, hari kerja," tukas Patrialis usai memimpin rapat perdana Pansel KPK di Kementerian Hukum dan HAM.

Dalam rapat perdana yang berlangsung tertutup itu, selain membahas sejumlah agenda penting, juga dibicarakan pula mengenai tahap-tahap seleksi calon Pimpinan KPK.

Ada enam tahapan yang harus dilalui bagi calon yang mendaftar, antara lain Seleksi Administrasi, Tanggapan Masyarakat, Pembuatan Makalah (Paper), Personal Assesment, Process Tracking, dan Wawancara.

Dalam tahap tanggapan masyarakat, Patrialis mempersilakan masyarakat yang ingin memberi masukan terhadap calon Pimpinan KPK. "Nanti ada waktunya," ujarnya.

"Sedangkan untuk process tracking, dengan dua model, yaitu permintaan penjelasan atau keterangan beberapa instansi yang terkait seperti KPK, Kepolisian, Kejaksaan, Komisi Yudisial (KY), dan lainnya," papar Patrialis.

Calon Pimpinan KPK yang berhasil lolos hingga tahap akhir wawancara, selanjutnya akan dilaporkan kepada Presiden. Setelah itu, 10 nama calon Pimpinan KPK akan dibawa ke DPR.

"Proses waktu secara keseluruhan memakan 3,5 bulan. Mudah-mudahan selesai.
Kami memprogram pertengahan Desember sudah selesai, karena masa kerja KPK periode sekarang berakhir 18 Desember 2011," terang Patrialis.

Untuk kriteria calon Pimpinan KPK, Patrialis menyebutkan tidak ada kriteria atau persyaratan khusus. "Mereka yang mendaftar sudah punya pengalaman, baik di bidang hukum, perbankan, ekonomi, sekurang-kurangnya 15 tahun. Kualifikasinya hanya itu. Tidak ada kualifikasi perwakilan," imbuhnya.

Pendaftaran calon Pimpinan KPK juga terbuka bagi Ketua KPK saat ini, Busyro Muqoddas, jika masih ingin kembali menjabat. Bahkan kandidat calon Pimpinan KPK di tahun lalu seperti Bambang Widjajanto juga diperbolehkan mendaftar.

"Boleh, siapa pun boleh mendaftar. Yang pasti mereka yang kembali mendaftar akan menjalani proses seleksi yang sama dengan calon lainnya," pungkas Patrialis. (red/*mi)

Kejagung Dalami Dugaan Korupsi di Merpati

JAKARTA, M86 - Kejaksaan Agung saat ini mendalami dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan pesawat Merpati Airlines 60 buatan China Xian Aircraft.

"Pemeriksaan kasus Merpati itu, karena dimungkinkan adanya tindak pidana korupsi," kata Wakil Jaksa Agung, Darmono, di Jakarta.

Sebelumnya, Kejagung telah memeriksa Direktur Utama PT Merpati Nusantara Airlines, Sardjono Jhony Tjitrokusumo, yang diduga terkait dengan pembelian pesawat tipe MA-60 buatan China Xian Aircraft.

Ia mengatakan dirinya sudah meminta Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) untuk segera mengumpulkan data dan fact supaya ditelaah sejauhmana ada tidaknya tindak pidana korupsi dalam kasus itu.

Dikatakan, penyidik Kejagung sendiri akan terus memeriksa sejumlah pihak terkait dalam kasus tersebut.

"Nanti setelah ada data-data lengkap, akan dievaluasi."

Sebelumnya Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu melaporkan dugaan praktik mark-up atau penggelembungan harga pembelian pesawat Merpati jenis MA-60 kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Ada indikasi memperkaya diri sendiri dan orang lain dalam dugaan mark up itu," kata juru bicara Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu, Tri Sasono di Jakarta, Kamis, pekan lalu.

Sasono mengatakan, dugaan pengelembungan pembelian pesawat jenis MA-60 milik maskapai Merpati itu, melibatkan aparat lembaga pemerintah dan anggota DPR RI.

Ia menyebutkan, pembelian pesawat seharga 46 juta dolar Amerika Serikat dari China tersebut, memiliki kualitas yang rendah.

Sasono menjelaskan, rencana pembelian pesawat MA-60 melalui proses kerja sama bilateral antara Pemerintah Indonesia dan China dengan pengadaan sejak tahun 2005 hingga 2010.

Pemerintah China menawarkan pembelian pesawat kepada Indonesia, dengan cara konsep pinjaman sejak 29 Agustus 2005.

Kemudian, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama Kementerian Perhubungan mengadakan kajian pada bidang angkutan udara, terkait faktor keekonomian penggunaan pesawat MA-60. (red/*mi)

Jumat, Mei 27, 2011

Polda Metro Selidiki Sekolah yang Runtuh di Senen

JAKARTA, M86 - Polda Metro Jaya akan turun langsung untuk menyelidiki kasus runtuhnya bangunan sekolah dasar negeri (SDN) 02 Kwitang, Senen, Jakarta Pusat pada beberapa waktu lalu. Dugaan sementara runtuhnya bangunan tersebut akibat kelalaian dalam pembangunannya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Baharudin Djafar mengatakan, pihaknya juga telah menurunkan tim ke lokasi rubuhnya sekolah tersebut untuk menyelidiki sebab insiden yang melukai tiga murid dan satu orang penjaga kantin itu.

"Kami sudah mulai lakukan penyelidikan, pertama kami selidiki kenapa bangunan tersebut rubuh," ujar Baharudin, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Jumat (27/5).

Dikatakannya, sampai saat ini pihak kepolisian masih melakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi yang melihat peristiwa. Dalam pemeriksaan awal petugas masih belum menemukan adanya dugaan kelalaian dalam peristiwa tersebut. Untuk itu, pihak kepolisian khususnya Polres Jakarta Pusat akan melakukan pemeriksaan tehadap kontraktor yang membangun gedung sekolah tersebut.

"Kami pasti juga akan memintai keterangan saksi ahli, apakah yang kontraktor lakukan sudah sesuai atau tidak," tuturnya.

Lebih lanjut Baharudin menegaskan, bila memang terdapat unsur kriminal dalam kasus tersebut maka tidak menutup kemungkinan kontraktor akan dikenakan pidana. Namun demikian pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan. "Kalau memang ada unsur pidana, maka akan segera kami tindak," tegasnya.

Baharudin juga belum bisa menyampaikan kesimpulan apapun karena proses penyelidikan masih terus dilakukan. Menurutnya, sampai kemarin penyidik gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Pusat serta Polsek Senen masih melakukan pendalaman dan penyelidikan. (red/*tdc)

Motor Hasil Curian Dilarikan ke Muara Gembong

JAKARTA, M86 - Kepolisian Sektor Jatiasih, Kota Bekasi, Jawa Barat, menangkap AB (24), selaku anggota jaringan besar pencurian kendaraan bermotor yang biasa melakukan aksinya di wilayah DKI Jakarta, Bekasi dan Depok.

Kapolsek Jatiasih, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Darmawan Karosekali, di Bekasi, Jumat (27/5), mengatakan komplotan asal Palembang dan Lampung itu, ditangkap dalam razia kendaraan bermotor di Jalan Cagak depan Perumahan Puri Nusphala Jatiasih Kota Bekasi pada Rabu malam (25/5).

Menurut dia, kelompok ini selalu melakukan aksinya sebanyak tiga kali dalam sehari dengan sasaran kendaraan yang di parkir di tempat sepi tanpa dilengkapi kunci ganda.

Barang hasil curian yang umumnya sepeda motor, kemudian dijual ke penadah seharga Rp1,4 juta per unit. Transaksi dilakukan di sekitar Kecamatan Bantar Gebang Bekasi.

"Setelah transaksi dilakukan motor-motor hasil curian kemudian di bawa ke Muara Gembong, untuk selanjutnya didistribusikan ke Kecamatan Rengas Dengklok Kabupaten Karawang melalui Sungai Citarum. "Motor curian kelompok ini, dipasarkan ke wilayah Karawang," kata Karosekali.

AB ditangkap petugas saat naik sepeda motor berboncengan dengan rekannya S. Ketika akan diperiksa surat-surat kendaraan, tersangka S kemudian melarikan diri ke arah hutan sehingga membuat curiga petugas.

Tersangka AB yang mengendarai motor kemudian diamankan, sedangkan polisi melakukan pengejaran ke arah hutan di Perumahan Puri Nusaphala.

"Sempat kita beri tembakan peringatan ke udara sebanyak dua kali, namun tersangka tidak mau menyerah," katanya.

Setelah pencarian selama beberapa menit di hutan, kata dia, tersangka akhirnya di temukan tengah bersembunyi di saluran air.

Berdasarkan keterangan AB dan S Polsek Jatiasih kemudian melakukan pengembangan hingga ke rumah kontrakan tersangka lainnya berinisial A yang ada di daerah Cileungsi Kabupaten Bogor.

"Sebelumnya kita mengamankan motor tersangka AB yang diketahui hasil curian karena tidak dilengkapi surat-surat, jenis Yamaha Jupiter Z dengan nomor polisi B 6082 KYM. Sementara di rumah kontrakan A diamankan sejumlah senjata tajam jenis badik, obeng, kunci leter T dan beberapa plat nomor palsu," ungkapnya.(red/*b8)

Gila Tak Digaji 2 Bulan, 17 Karyawan Indosiar Lapor ke Polda

JAKARTA, M86 - Sebanyak 17 orang karyawan PT Indosiar Visual Mandiri Tbk melaporkan tiga pimpinannya ke Polda Metro Jaya. Pelaporan itu dilakukan karena pihak perusahaan tidak memenuhi kewajibannya membayarkan gaji selama dua bulan kepada para karyawan itu.

"Sejak April dan Mei ini, gaji kita tak dibayarkan. Nilainya kira-kira Rp80 jutaan. Dasarnya adalah sebuah surat yang katanya putusan Mahkamah Agung yang mereka unduh dari website MA," kata Sekretaris Jenderal Serikat Karyawan Indosiar, Yandri Silitonga di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (27/5).

Dalam pelaporan itu, tiga pimpinan PT Indosiar Visual Mandiri Tbk dilaporkan mereka, diantaranya Handoko, Triandy Suyatman, dan Dudi Ruhendi. Laporan itu tercatat dalam surat laporan bernomor TB L 1698/V/2011/PMJ/Ditreskrimum, dengan sangkaan pasal yang dilaporkan dengan pasal penggelapan dalam jabatan.

Kasus pengaduan ini bermula ketika 17 karyawan Indosiar menerima surat dari perusahaan mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK). Surat keputusan itu dikeluarkan perusahaan setelah pihak perusahaan mengunduh surat itu dari situs Mahkamah Agung.

Dalam surat itu disebutkan berdasarkan putusan tanggal 28 Maret 2011 nomor 188 K/pdt.sus/2011 (putusan) yang diunduh di website resmi MA, menyebutkan Mahkamah Agung RI menolak permohonan kasasi dari para pemohon kasasi (17 pekerja).

Dengan ditolaknya permohonan kasasi tersebut, maka putusan pengadilan hubungan industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat tertanggal 5 Oktober 2010 No 144/PHI.G/2010/PN.JKT.PST (putusan PHI) telah berkekuatan hukum tetap.

Dengan mengacu kepada surat yang diunduh tersebut maka terhitung sejak 28 Maret 2011, perusahaan tidak lagi berkewajiban untuk membayakan upah dan hak 17 karyawan tersebut. Untuk selanjutnya, Indosiar akan memproses pembayaran hak kompensasi pemutusan hubungan kerja.

"Indosiar mengatakan itu sudah final, padahal barang bukti yang diberikan ke kita hanya print out website. Harusnya kan salinan putusan. Lagi pula yang mengeksekusi perkara itu pengadilan, bukan perusahaan," kata Yandri.

Menurutnya, kasus dugaan penggelapan ini merupakan buntut dari pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran terhadap sekitar 300 orang karyawan Indosiar beberapa waktu lalu. PHK yang dilakukan Indosiar saat itu karena alasan untuk efesiensi perusahaan. Dari 300 karyawan itu, 22 orang diantaranya memilih bertahan. Sedangkan selebihnya memilih keluar.

"Nah, dari 22 orang itu, lima di antaranya juga memilih mundur dan sudah menerima pesangon. Tinggal 17 orang ini yang masih bertahan memperjuangkan hak-hak kami," kata Yandri. (red/*tdc)

Siswi SMA Hilang Diduga Korban NII

BOYOLALI, M86 - Seorang siswi sekolah menengah atas (SMA) Negeri 1 Simo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menghilang sejak sembilan hari lalu dan diduga menjadi korban doktrinisasi dan perekrutan kelompok Negara Islam Indonesia (NII).

Anaknya masih duduk di bangku kelas II tersebut bernama Sintia Muhaini (16) itu sebelum menghilang dari rumah sejak Kamis (19/5) kemarin, kelakuannya berubah aneh," kata orang tua Sintia, Maryono (39), warga Gringsing, Desa Bendol, Kecamatan Nogosari, di Boyolali, Jumat.

"Anaknya hilang entah ke mana sejak Kamis (19/5) hingga sekarang belum kembali ke rumah. Dia hanya pamit pergi ke sekolah, tetapi hingga kini belum pulang. Saya kemudian melaporkan kejadian itu, ke polisi, Jumat ini," katanya.

Ia menjelaskan, anaknya selama ini tidak ada persoalan apa-apa dengan keluarganya. Dia aktivitasnya salah satunya ikut mengajar kursus di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) di lingkungan rumah.

Namun, Sintia sebelum menghilang pergi meninggalkan rumah, dia menunjukkan gelagat yang aneh.

Menurut dia, pihak keluarga curiga terhadap anaknya yang pertama di antaranya, semua foto Sintia saat ini ikut lenyap. Hal ini, diduga dia sudah merencanakan sebelumnya.

Sintia tiga hari sebelumnya pergi atau pada Senin (16/5) berpamitan mengikuti seminar ke Manahan Solo yang diselenggarakan oleh sekolahnya. Tetapi, pihak keluarga setelah mengecek ke sekolahnya, ternyata tidak pernah mengadakan seminar.

Padahal, Sintia sepengatahuan keluarganya tidak pernah berbohong, tetapi dia saat ikut seminar hanya untuk alasan saja.

Bahkan, Sintia tiba-tiba memutuskan untuk mengenakan jilbab sekitar dua bulan ini, dan semenjak itu, dia perilakunya banyak berubah.

"Guru bimbingan konseling (BK) sekolah, sebelumnya sempat memanggil Sintia. Karena, dia bersikap berubah menjadi tertutup dan menyendiri," katanya.

Menurut dia, Sintia sempat minta dibelikan hand phone, tetapi keluarganya saat menghubungi hingga sekaranh tidak dapat. Keluarganya khawatir jika dia menjadi korban rekrutmen kelompok NII, karena peristiwanya hampir sama yang sering diberitakan di media.

Agus Ali Rosidi (44) tokoh masyarakat Nogosari, pihaknya berharap kepolisian segera menindaklanjuti kasus tersebut. Karena, hilangnya siswi SMA itu diduga kuat ada kaitannya dengan NII.

Menurut Kepala Polres Boyolali AKBP Romin Thaib saat dikonfirmasi membenarkan adanya kasus hilangnya anak siswi tersebut. Tetapi, pihaknya belum berani menyimpulkan keterlibatan NII dalam kasus orang hilang itu.

Kendati demikian, kepolisian saat ini sedang menyelidiki dan mendalami kasus tersebut. (red/*b8)

Nenek Pemilik Warnet Sekarat Digolok Rampok

JAKARTA, M86 - Wahyuni, perempuan pemilik warnet (warung internet) berusia 70 tahun,Jumat (27/5), ditemukan terkapar bermandikan darah.

Nenek dua cucu ini diduga menjadi korban kekerasan perampok yang ingin menguras uang di warnet Omega, Jalan Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Menurut Kanitreskrim Polsek Tanjung Duren Johari Bule, SH, korban pertamakali ditemukan oleh pengunjung warnet sekitar pukul 07.30 WIB. Saat itu, pengunjung bernama Tora terkejut melihat ceceran darah di kepala korban.

"Korban sudah tidak sadarkan diri di meja kasir. Kepalanya berdarah," kata Johari.

Dia menambahkan, sebelum kejadian, ada seorang warga melihat tiga pria masuk ke dalam Warnet Omega dengan mengendarai sepeda motor. Tak lama berselang, mereka pergi dengan memacu motornya dalam kecepatan tinggi.

Warga sama sekali tak menaruh curiga, karena dikira mereka adalah pengunjung warnet.

"Dia tinggal bersama anak dan cucunya. Tapi, saat kejadian mungkin tidak ada di rumah. Sementara, pembantunya sedang sibuk di dapur," tutur Johari.

Polisi masih terus menyelidiki kasus ini dengan meminta keterangan dari beberapa saksi. Sementara korban Wahyuni masih menjalani perawatan intensif di RS Royal Taruma karena kondisinya yang sanagt kritis. (red/*b8)

Ibu Dua Anak Pengedar Uang Palsu Ditangkap

JAKARTA, M86 - Kepolisian Sektor Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat, menangkap seorang tersangka pengedar uang palsu dengan barang bukti uang tiruan senilai Rp1.240.000.

Kapolsek Bekasi Timur, Komisaris Polisi Yana Darmayana kepada wartawan di Mapolsek Bekasi Timur, mengatakan pelaku berinisial SI (25), seorang ibu beranak dua, ditangkap saat bertransaksi di pasar tradisional.

"Uang palsu itu berupa tujuh lembar pecahan Rp100.000, tujuh lembar pecahan Rp50.000, dan 19 lembar pecahan Rp10.000," kata Yana.

Menurut pengakuan tersangka, uang palsu tersebut diperolehnya dari kerabatnya berinisial HT yang hingga kini masih buron dengan cara menukar Rp500.000 menjadi Rp3.000.000 uang palsu.

Uang yang diperoleh pelaku pada Sabtu (21/5) itu, kata dia, kemudian digunakannya untuk berbelanja cabai di Pasar Baru Kota Bekasi. Dengan menggunakan uang palsu pecahan Rp100.000, pelaku membeli dua kilogram cabai seharga Rp12.000 kepada Zulfikri.

"Kembaliannya berupa uang belanja itu yang menjadi keuntungannya. Sementara cabai yang dibelinya diserahkan kepada HT untuk dijual kembali di Pasar Pegangsaan, Kelapa Gading, Jakarta," ujarnya.

Dikatakan Yana, pelaku tertangkap tangan saat tengah melakukan transaksi kedua kalinya di kios Zulfikri. Zulfikri yang menaruh curiga dengan uang palsu yang pernah diperolehnya kemudian melapor pada polisi.

Aparat dari Polsek Bekasi Timur yang datang tak lama kemudian langsung mengamankan Sl berikut barang bukti berupa uang palsu dalam dompetnya.

"Sementara ini kami menduga ada jaringan besar yang mendukung di belakang HT. Untuk kepastiannya, masih akan kami telusuri lagi," katanya.

Uang palsu yang diedarkan Sl warnanya memang mirip dengan uang asli, tapi pada pita pembatasnya tidak didapati nomor seri. Nomor seri lembaran uang yang satu dengan yang lain pun sama. "Jenis kertasnya juga beda," ujarnya.

Sl dijerat pasal 244 KUHP dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun.

"Saya terpaksa karena butuh uang untuk membiayai kebutuhan dua anak saya. Baru dua kali mencoba termasuk saat tertangkap," kata SI usai dimintai keteragan polisi.

Perempuan asal Madura, Jawa Timur, yang menetap di Kecamatan Medan Satria, Kota Bekasi ini, mengaku tidak mengetahui lokasi pembuatan uang palsu tersebut. (red/*b8)

Kamis, Mei 26, 2011

Dugaan Pemalsuan Dokumen, 10 Pengurus Al-Zaytun Diperiksa

JAKARTA, M86 - Penyidik Bareskrim Mabes Polri hari ini akan melakukan pemeriksaan terhadap 10 pengurus Al-Zaytun Indramayu terkait pemalsuan dokumen yang diduga dilakukan oleh ketua yayasan Ponpes Al-Zaytun.

"Hari ini dari Bareskrim dari Dir I rencananya melakukan pemeriksaan terhadap 10 pengurus yayasan," ujar Kabagpenum Kombes Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (26/5).

Boy mengatakan bahwa dari 10 orang yang dijadwalkan dipanggil tidak ada nama Panji Gumilang. "Tidak ada nama itu, ini kan yang tertera dalam akte ya," katanya.

Kemudian, menurut Boy bahwa pemeriksaan tersebut tidak ada kaitannya dengan 6 orang anggota NII yang ditangkap di Semarang. "Lihat saja kita akan melakukan pemeriksaan secara proporsional, saudara juga tahu bagamina upaya yang dilakukan Bareskrim dan Polda Jawa Tengah (Jateng), semuanya bertahap semuanya proporsional nggak bisa lompat-lompat," imbuhnya.

Sekedar informasi Imam sebelumnya pada hari ini, Rabu (4/5) mengadukan pimpinan Ponpes Al Zaytun Panji Gumilang terkait dugaan pemalsuan surat yayasan. Imam dan pihaknya mengakui mempunyai 12 saksi yang akan siap membantunya menyelesaikan perkaranya. (red/*tdc)

Sadis, Gara-gara Kesal Tante Tega Setrika Tubuh Keponakannya

BITUNG, M86 - Hanya karena merasa kesal dengan ulah keponakannya yang dinilai nakal, Fitria Saman (32) warga Keluarahan Pateten Tiga, Kecamatan Aertembaga, Bitung, tega menyetrika tubuh Vicki Samad (6) hingga melepuh. Akibat ulahnya itu, Fitria harus berurusan dengan polisi.

Fitria Saman menjalani serangkaian pemeriksaan di kantor Kepolisian Sektor Bitung Tengah. Fitria ditangkap aparat kepolisian setelah dilaporkan telah melakukan penyiksaan terhadap keponakannya, Vicki Samad.

Menurut keterangan Vicki Samad, dia disiksa tantenya itu saat tengah bermain di dalam rumah Fitria. Saat itu, tidak tahu kenapa tiba-tiba Fitria marah dan menarik Vicki mendekatinya. "Tante menempelkan setrika panas di tangan dan kaki saya," kata Vicki.

Tidak hanya itu, tanpa alasan yang jelas, Fitria juga tega menempelkan setrika panas yang sedang dipakainya untuk menyetrika pakaian ke bagian pipi Vicki. "Saya memang tinggal dengan tante. Kata tante, saya nakal," kata Vicki.

Usai menyiksa anak dari kakaknya itu, Fitria menyuruh Vicki untuk tutup mulut dan tidak bercerita pada siapa pun tentang penyiksaan itu. "Nggak diobati, cuma tante bilang jangan nakal lagi," kata Vicki.

Sementara itu, selama menjalani pemeriksaan kepolisian, Fitria memilih bungkam seribu bahasa. Dan hanya mau menjawab pertanyaan yang diajukan penyidik kepolisian saja.

Terkait kasus ini, Kepala Polsek Bitung Tengah, Kompol Muhammad Zamroni mengatakan, akan melakukan penahanan terhadap Fitria. "Pelaku akan dijerat dengan undang-undang perlindungan nomor 23 tahun 2002 dengan ancaman hukuman kurungan penjara enam bulan dan denda Rp 72 juta," katanya. (red/*tdc)

Rabu, Mei 25, 2011

Memalukan, Polisi Perkosa dan Siksa Gadis Belia

PANGKALPINANG, M86 - Di saat kepolisian tengah berduka karena kematian dua anggota Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah yang ditembak orang tak dikenal. Seorang anggota Kepolisian Rsor Pangkal Pinang justru harus berurusan dengan unit Provost karena diduga telah memperkosa dan menganiaya seorang gadis belia.

Masa depan Bripda HR terancam hancur setelah YS mendatangi Markas Polres Pangkal Pinang untuk melaporkan perbuatan Bripda HR. Bripda HR terancam dipecat dari kesatuannya akibat perbuatan tidak terpujinya.

Briptu HR diduga telah memperkosa dan menganiaya seorang gadis belia berinisial YS (18) warga Kolong Ijo, Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkal Pinang, Bangka Belitung.

Menurut penuturan ayah YS, Lutfi, YS diperkosa Bripda HR di sebuah penginapan di wilayah Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka hingga putrinya itu kini hamil 6 bulan. "Kami sudah kenal dengan Bripda YS, waktu itu dia minta ijin untuk ngajak anak saya ke acara reuni sekolah, tapi kenyataanya dia memaksa YS untuk ke penginapan," kata Lutfi.

Lutfi menambahkan, saat dipenginapan, YS dipukuli oleh Bripda HR karena saat ini YS tidak mau diajak untuk berhubungan badan. Karena tidak tahan dengan penyiksaan, YS akhirnya pasrah.

Terkait laporan permerkosaan dan penganiayaan itu, petugas unit Provost Polres Pangkal Pinang telah mengamankan Bripda HR untuk diperiksa dan menjalani proses hukum. Sementara, Kepala Bagian Operasi Polres Pangkal Pinang, Kompol Mito mengatakan, jika terbukti bersalah, Bripda HR akan dikenakan pasal pidana umum pemerkosaan. "Kalau sudah masuk ruang hukum pidana, maka pelaku akan dipesat dari kesatuan," kata Mito. (red/*tdc)

Adang akan Bantu Pemulangan Nunun

JAKARTA, M86 - KPK akan membawa pulang Nunun Nurbaeti ke Indonesia menyusul penetapan status tersangka dirinya dalam kasus cek pelawat. Suami Nunun, Adang Daradjatun berjanji tidak akan menghalangi pemulangan tersebut.

"Kalau memang KPK melakukan upaya paksa, ya silakan. Saya ikut koridor hukum saja kalau KPK katakan mau menjemput paksa ibu, ya silakan," kata Adang ditemui wartawan di ruang Rapat Paripurna, Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (25/5).

Namun politisi PKS ini mengelak ketika ditanya apakah akan membantu upaya KPK untuk memulangkan istrinya itu. Dia meminta posisinya sebagai suami dihormati.

"Itu urusan saya dan saya punya hak pribadi sebagai suami bukan sebagai saksi. Saya bilang ini tolong sesuai dengan koridor hukum," tegas pria yang pernah diusung sebagai calon gubernur DKI ini.

Sebelumnya Adang sudah membenarkan keberadaan istrinya di Singapura. "Iya," jawab dia ketika wartawan menegaskan apakah benar Nunun berada di Singapura.

Pengumuman status Nunun sebagai tersangka dilakukan KPK saat menggelar RDP dengan Komisi III DPR pada Senin 23 Meil lalu.

Ketua KPK Busyro Muqoddas menegaskan pihaknya akan segera memulangkan Nunun yang diketahui berada di luar negeri untuk dimintai keterangan. "Kami sedang melakukan upaya-upaya ekstradisi," kata Busyro usai mengikuti RDP. (red/*b8)

Tukang Bakso Perkosa dan Membunuh PRT di Tangerang

JAKARTA, M86 - Sarni, (22), dan Maryani, (25), seorang pekerja rumah tangga (PRT) ditemukan tewas dengan kedua tangan terikat ke belakang dan luka bocor di kepala akibat pukulan benda keras di perumahan elit Modernland Jalan Raya Taman Golf Block DG 2 Nomor 118 RT.01/RW.14, Kelurahan Poris Plawad, Kecamatan Cipondoh pada 17 Mei lalu.

Bukan hanya itu, kedua korban juga ditemukan dengan keadaaan posisi setengah telanjang. Dan juga ditemukan kondom bekas dipakai.

Kapolres Metro Tangerang Kombes Pol Tapip Yulianto mengatakan, pihaknya masih pengejar pelaku pemerkosaan dan pembunuhan terhadap kedua pekerja rumah tangga di Modernland.

“Kami masih mengejar pelaku pembunuhan dua PRT tersebut. Dari keterangan para saksi termsuk, pacar korban yang semula kami tetapkan sebagai tersangka, sudah ada titik terang soal pelaku ini. Sedangkan pacar korban sendiri sementara kami bebaskan karena belum terbukti sebagai pelaku,” katanya, Rabu (25/5).

Tapip juga mengatakan, Pihaknya mencurigai pedagang tukang bakso keliling yang juga masih orang dekat korban dan dikenal baik oleh korban.

“Kami mencurigai tukang bakso langganan korban pelakunya. Dan kini sedang kami kejar pedagang keliling ini, karena menghilang sejak kejadian tersebut,” terangannya. (red/*b8)

Curanmor Meningkat Setiap Bulan 300 Motor Raib

JAKARTA, M86 - Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) mencatat rata-rata terjadi lebih dari 300 kasus pencurian kendaraan roda dua setiap bulan di wilayah hukum DKI Jakarta dan sekitarnya.

"Kejadian tertinggi terjadi di wilayah Jakarta Pusat mencapai 117 kasus selama April 2011," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Baharudin Djafar di Jakarta.

Baharudin menyebutkan kasus pencurian kendaraan roda dua selama Januari 2011 mencapai 546 kasus dengan perincian kasus tertinggi terjadi di Polrestro Jakarta sebanyak 120 kasus, Polrestro Jakarta Utara (65 kasus) dan Polrestro Tangerang Kabupaten (62 kasus).

Kasus selama Februari tercatat kasus pencurian motor sebanyak 301 kasus dengan jumlah terbanyak di wilayah Polrestro Jakarta Pusat mencapai 40 kasus, Polrestro Depok (39 kasus) dan Polrestro Jakarta Timur (34 kasus).

Selanjutknya, jumlah pencurian selama Maret sekitar 352 kasus, meliputi wilayah Polrestro Jakarta Pusat sebanyak 104 kasus, Polrestro Depok (53 kasus) dan Polrestro Jakarta Selatan (46 kasus).

Periode terakhir selama April, jumlah kasus pencurian motor mencapai 356 kasus terdiri dari kejadian di Polres Jakarta Pusat sebanyak 117 kasus, Polrestro Depok (43 kasus) dan Polrestro Jakarta Selatan (37 kasus).(red/*b8)

Selasa, Mei 24, 2011

Ki Kusumo Resmi Laporkan Aa Gatot Ke Polisi

JAKARTA, M86 - Paranormal Ki Kusumo, Senin (23/5) sore, resmi melaporkan Ketua Pelaksana Kongres Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Gatot Brajamusti alias Aa Gatot ke Polda Metro Jaya.

Aa Gatot diduga telah memanipulasi hasil Pemilihan Ketua Umum Parfi Periode 2011-2015 pada Kongres ke-14 Parfi sehingga Aa Gatot terpilih menjadi Ketua Umum Parfi.

"Saat itu terjadi deadlock dan sudah tidak kondusif lagi. Setelah kita bubaran (kongres), ternyata tetap lanjut. Padahal, saat itu sudah kosong, peserta sudah meninggalkan ruang kongres," ujar Ki Kusumo.

Pada kongres tersebut ada empat orang masuk dalam bursa pencalonan ketua umum, yakni Boy Tirayoh, Sultan Saladin, Gatot Brajamusti, dan Ki Kusumo. Ki Kusumo menduga ada upaya penggelembungan suara dan manipulasi data peserta kongres.

"Bagaimana bisa saya dapat suara sekian, Aa Gatot dapat suara sekian, padahal saat itu kami sudah deadlock dan bubaran. Saya juga mengatakan dalam forum, saya keluar tidak mau melanjutkan kondisi yang tidak kondusif itu. Kami menduga ada manipulasi data," ujarnya lagi.

Selain itu, diduga oleh Ki Kusumo, telah pula terjadi pemalsuan keanggotaan. Untuk bisa memilih dan dipilih, seorang anggota Parfi harus berstatus anggota biasa (AB). Status itu merupakan status tertinggi dalam Parfi.

"Untuk dapat status itu, harus main film banyak dan mulai dari bawah jadi figuran dulu, ikut pelatihan, enggak bisa sehari, dua hari. Ini Aa Gatot, sudah merasa artis ya?" katanya.

Paranormal itu melanjutkan bahwa di area parkir kongres juga terjadi aksi penggelembungan suara dengan membagikan kartu anggota AB kepada pihak yang tidak berhak.

"Masa ibu rumah tangga, remaja 16 tahun, sudah dapat AB. Padahal, mereka enggak tahu apa-apa. Kan aneh? Ini adalah hasil kongres cacat. Ketua yang terpilih bukan berdasarkan hasil sebenarnya," katanya lagi.

Di tempat terpisah, Aa Gatot mengaku tidak paham terhadap gugatan tersebut. "Saya kurang paham, apa yang akan digugat. Karena saya mengupayakan kongres ini dengan sebaik-baiknya. Apalagi sudah di sah kan oleh ketua kongres," ucapnya, dalam jumpa pers yang berlangsung di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta. (red/*b8)

KPK 'Cium' Keberadaan Nunun Nurbaeti

JAKARTA, M86 - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku telah 'mencium' lokasi keberadaan tersangka kasus suap cek pelawat Nunun Nurbaeti. Istri mantan Wakapolri Adang Darajatun itu diketahui pernah berada di Singapura dan Thailand.

"Terakhir kita deteksi ada di dua tempat yaitu di Thailand dan Singapura," kata Juru Bicara KPK, Johan Budi, di KPK, Jakarta, Selasa (24/5).

Johan mengaku, pihaknya belum pernah bertemu dengan Nunun. Menurut Johan, Informasi keberadaan Nunun yang terakhir diperoleh dari mitra KPK yang berada di luar negeri.

"Kita belum pernah ketemu (Nunun). Tapi yang tadi disampaikan beberapa kali dapat info bukan dari pihak keluarga, tapi dari luar bahwa yang bersangkutan pernah di Singapura, pernah di Thailand," kata Johan.

Johan mengatakan, pihaknya tengah berkoordinasi dengan mitra KPK yang berada di luar negeri agar bisa membawa Nunun ke Indonesia. KPK, lanjut Johan, juga akan berkordinasi dengan pihak keluarga untuk menghadirkan Nunun.

"Kita akan koordinasi dengan keluarga untuk bisa menghadirkan ibu Nunun ke KPK. Kalau upaya buntu tentu kita akan menghadirkan upaya berikut dengan melakukan koordinasi dengan CPIN Singapura atau Interpol. Kita punya jaringan dengan Interpol atau juga dengan pihak yang lain untuk bisa membantu mnghadirkan yang bersangkutan ke KPK, dan upaya itu sedang dilakukan," kata Johan.

Johan mengaku terkejut Ketua KPK Busyro Muqoddas mengumumkan status tersangka Nunun saat RDP dengan Komisi III DPR kemarin. "Kan ada taktik tadi, demi kepentingan penyidikan, meski saya juga tidak tahu kenapa disana tiba-tiba muncul. saya juga kaget," katanya.
(red/*b8)

Serangan Jantung, Terdakwa Cek Pelawat Poltak Sitorus Wafat

JAKARTA, M86 - Satu lagi terdakwa penerima cek pelawat pemilihan Deputi Gubernur Senior BI tahun 2004, Poltak Sitorus meninggal dunia. Poltak meninggal di Rutan Cipinang sekitar pukul 10.00 WIB

"Ya benar begitu. Baru saja sekitar pukul 10.00 WIB," kata Kepala Rutan Cipinang, Edi Kurniadi.

Menurut Edi, pagi tadi Poltak mengeluh sakit dan dibawa ke klinik Rutan Cipinang. Namun tak lama kemudian Poltak meninggal.

Diduga Poltak meninggal akibat serangan jantung. Jenazah politisi PDIP itu kini masih berada di Rutan Cipinang untuk diperiksa tim dokter.

Poltak ditahan di Rutan Cipinang sejak 28 Januari 2011. Saat itu, KPK yang memeriksa 19 penerima cek pelawat memutuskan untuk langsung menahan semua penerima cek, termasuk Panda Nababan dan mantan Menteri PPN/Bappenas Paskah Suzetta.

Poltak adalah penerima cek kedua yang meninggal. Sebelumnya, rekan Poltak sesama politisi PDIP yakni Jeffrey Tongas Lumban Batu juga meninggal akibat serangan jantung pada 12 November 2010 di Rumah Sakit Mitra Keluarga. (red/*b8)

Polri: Jika Terbukti, Nadila Ernesta Diancam Pasal Pelecehan

JAKARTA, M86 - Kepala Divisi Hubungan Masyaraka Markas Besar Polisi Republik Indonesia (Mabes Polri), Inspektur Jenderal Anton Bahrul Alam menyesalkan ada artis yang menggunakan topi organisasi Polri." Kita kecewa kok bisa gitu," Ujar Anton.

Namun, menurutnya polisi saat ini masih lidik apakah benar mereka ini memakai itu sengaja atau hanya rekayasa elektronik.

"Kita sedang lidik. Karena busa juga dicroping dipasangkan dan sebagainya, jadi ini masih dalam lidik," kata Anton saat memberikan keterangan pers di Mabes Polri, Jakarta.

Anton menambahkan jika dalam penyelidikan nanti pihaknya menemukan bukti bahwa itu memang foto asli dan pelakunya dengan sengaja melakukan foto nakal, maka dikenakan pasal 307 semacam melecehkan dan sebagainya terkait dengan institusi Polri

Saat ditanya apakah akan dipanggil dia mengatakan, pihaknya masih akan mengecek terlebih dulu kebenaran foto itu

"Kita cek dulu, kan bisa dicroping atau. Dikrim ke ahlinya, ahli forensik nanti kalau sudah jelas dipakek dengan sengaja baru akan kita panggil" tandasnya. (red/*b8)

Tergiur Penghasilan Besar, TKW Selundupkan Heroin Dalam Perut

JAKARTA, M86 - Psikotropika Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba berhasil membekuk penyelundup heroin seberat 489,3 gram. Petugas mendapatinya di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Yanuary Maryani adalah Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Singapura, ia melakukan penyelundupan itu, karena tergiur pendapatan yang besar dibanding pekerjaannya sebagai TKW, ia akhirnya banting setir menjadi kurir narkoba.

Mariani dijanjikan bayaran $2 Juta oleh bandar narkoba bernama Tony Appiah, warga negara Ghana yang tinggal di Malaysia, bila heroin 489,3 gram milinya sampai di Jakarta. Demikian pengakuannya.

Tergiur upah besar, Mariyani pun menyanggupinya. Tersangka kemudian menyelundupkan heroin yang sudah dikemas dalam 54 kapsul dan dimasukkan ke dalam perutnya.

"Kita masih menyelidikinya. Para tersangka masih menjalani pemeriksaan secara intensif," kata Kepala Unit II Psikotropika Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Polri, Kombes Pol Drs Siswandi yang didampingi Kabag Penum Div Humas Polri, Kombes Pol Drs Boy Rafli Amar di kantor Ditrektorat IV Tindak Pidana Narkoba, Jaktim.

Dikatakan Siswandi, kasus ini terungkap setelah Polri menerima laporan dari Kepolisian Narkoba Malaysia yang menyebutkan ada seorang wanita yang menyelundupkan heroin dari Malaysia dengan menggunakan pesawat Air Asia nomor penerbangan (QZ7592) melalui Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jabar, Minggu (08/05), sekitar pukul 09.40 WIB, dimana pesawat akan tiba sekitar pukul 11.20 WIB.

Namun, petugas yang tiba di Bandara Husein Sastranegara tidak mendapatkan tersangka. Maryani diketahui menumpang bus menuju Terminal Pasar Minggu, Jaksel, dan menginap di kamar 327 Hotel Puri In Cikini, Jakpus.

"Tersangka mengeluarkan kapsul- kapsul dengan cara BAB (buang air besar)," jelas Siswandi.

Selanjutnya, kapsul-kaspul itu diambil oleh Priyettin Debora Wuisan, pacar Tony Appiah, dan dibawa ke rumah kontrakan tersangka di Jalan Musyawarah III RT8/1 No 21, Srengseng, Kembangan, Jakbar.

Disanalah kemudian Polisi membekuk Tony dan Priyettin (09/05). Keesokannya, tersangka Maryani dibekuk di kamar 327 Hotel Puri In Cikini, Jakpus.

"Tersangka dijerat Pasal 114 ayat 2 junto Pasal 132 ayat 1, subsider Pasal 112 ayat 2 junto Pasal 132 ayat 2, lebih subsider Pasal 112 ayat 2 junto Pasal 132 ayat 1 UU RI No 35/2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara atau mati," ujanya. (red/*jno)

Sadis, Bayi Dipotong-potong Dibuang ke Selokan

AMBON, M86 - Potongan tubuh bayi yang diduga telah dimutilasi ditemukan di sebuah aliran pembuangan air di kawasan Mardika, Kota Ambon. Di lokasi temuan hanya ditemukan potongan tangan, kaki serta paha tanpa tubuh dan kepala.

Potongan bagian tubuh bayi ditemukan dalam kondisi sudah separuh membusuk, Selasa (24/5). Potongan tubuh bayi secara tidak sengaja ditemukan seorang warga bernama Dewi(30) di selokan tidak jauh dari pangkalan angkutan kota jurusan Latuhalat-Terminal Mardika. "Saya lagi menyapu selokan ini, tahunya saya menemukan potongan kaki dan tangan. Akhirnya saya lapor ke polisi," kata Dewi.

Kepolisian Sektor Sirimau Kota Ambon yang tiba di lokasi temuan potongan tubuh bayi langsung melakukan olah tempat kejadian dan melakukan penyisiran untuk mencari potongan tubuh yang lain.

Menurut Kepala Polsek Sirimau, AKP Suryono, kuat dugaan bayi malang itu memang sengaja di potong-potong orang tuanya sebelum dibuang ke selokan. "Kemungkinan di mutilasi dulu untuk menghilangkan jejak," kata AKP Suryono.

AKP Suryono menuturkan, sehari sebelumnya petugas kepolisian juga menemukan potongan tangan dan kaki bayi tidak jauh dari lokasi temuan potongan bayi saat ini."Kemungkinan potongan tubuh bayi yang kemarin kami temukan dan hari ini berasal dari satu bayi," katanya.

Sampai saat ini, kepolisian dibantu warga tengah melakukan pencarian di aliran selokan untuk mencari potongan kepala dan tubuh bayi lainnya yang diduga berada di sekitar lokasi temuan. Untuk kepentingan penyidikan, kepolisian membawa potongan tubuh bayi ke kamar jenazah Rumah Sakit Bhayangkara Tantui, Kota Ambon. (red/*tdc)

Hukuman Bahasyim Ditambah Jadi 12 Tahun

JAKARTA, M86 - Pengadilan Tinggi DKI Jakarta memperberat hukuman terdakwa tindak pidana korupsi dan pencucian uang, Bahasyim Assifie dari sepuluh tahun penjara menjadi 12 tahun penjara.

Selain itu, terdakwa juga diharuskan membayar uang denda Rp1 miliar atau kurungan lima bulan.

Juru Bicara Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, Ahmad Sobari, Selasa membenarkan putusan yang dikeluarkan pada 19 Mei 2011 itu dengan pimpinan majelis hakim banding, Jurnalis, anggota Haryanto, Sudiro, Abdurrahman Hasan, dan Hadi Widodo. "Putusannya, hukuman terhadap Bahasyim diperberat," katanya.

Sebelumnya di pengadilan tingkat pertama, Bahasyim divonis 10 tahun penjara dan Rp250 juta atau kurungan tiga bulan.

Menurutnya yang memperberat hukuman bagi Bahasyim diantaranya karena perbuatan terdakwa memberi dampak ekonomis yang besar. "Perbuatan terdakwa dapat berpengaruh pada sistem budgeting," katanya.

Serta, perbuatan terdakwa juga masuk dalam kejahatan global yang berpengaruh pada nama baik pemerintah di mata dunia internasional.

Di dalam putusan Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, menyatakan terdakwa terbukti melanggar pasal 11 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi dan pasal 3 ayat 1 huruf a UU Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Sebelumnya di dalam dakwaan, jaksa Fachrizal mengungkapkan, berdasarkan rekening koran dalam kurun waktu sejak 2004 sampai 2010, terdapat mutasi berupa pengambilan uang, pemindahbukuan, transfer atau uang ke luar sebesar Rp843,4 miliar.

Kemudian terhitung sejak sekitar pertengahan April 2010, saldo akhir pada rekening Sri Purwanti (istri Bahasyim) sebesar Rp41,7 miliar, katanya.

"Bahwa jumlah harta kekayaan terdakwa berupa uang yang ditransfer tersebut mencapai Rp932,2 miliar," kata Fachrizal.

Uang tersebut ditranfer ke rekening Sri Purwanti sebesar Rp905 miliar dan Winda Arum Hapsari (anak dari Bahasyim) sebesar Rp26,5 miliar. (red/*b8)

Polri Tangkap Gubernur NII Jateng

JAKARTA, M86 - Bareskrim Mabes Polri Senin (23/5) sore menangkap enam orang yang diduga terlibat dalam jaringan Negara Islam Indonesia (NII). Mereka ditangkap di daerah Ungaran, Semarang. Dari enam orang yang ditangkap tersebut, diduga salah satunya merupakan Gubernur NII wilayah Jawa Tengah berinisial TD.

"Kita berhasil menangkap ada 6 orang yang terkait NII. TD diduga merupakan Gubernur wilayah Jawa Tengah," kata Kabag Penum Kombes Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selasa (24/5)

Boy menjelaskan, penangakapan berawal dari proses hukum terhadap para tersangka yang sudah vonis, penyelidikan terus berlanjut, jadi sampailah penyelidikan ke Jawa Tengah. Sebenarnya, lanjut Boy, tujuan utama ingin mencari orang yang masih menjadi DPO dalam penyelidikan tersebut.

Menurut Boy, yang dicari polisi sebenarnya adalah A, tapi untuk mencari A, polisi harus dapatkan M terlebih dulu.

"Ini ternyata pada saat penangkapan M ada yang lainnya. Keenam orang ini merupakan hasil pengembangan dari 17 orang anggota NII yang sudah divonis pada 2008 lalu," terangnya lagi.

Menurut Boy, guna mendalami penyelidikan, polisi pun akhirnya membawa keenam orang tersebut ke Polda Jawa Tengah. "Penyidik kita dari kabareskrim dan Direskrim umum Polda Jateng telah mengamankan mereka untuk diperiksa lebih lanjut, mereka dibawa dan diperiksa di Polda Jateng," terangnya lagi.

Dari hasil pemeriksaan sementara, terang Boy, keenam orang tersebut diduga kuat bagian dari NII wilayah dua Jawa Tengah. Salah satu dari mereka, TD adalah gubernur NII Jawa Tengah.

"Hasil sementara, diduga mereka bagian NII di Jateng, wilayah dua Jateng, dan diduga satu orang adalah Gubernur NII Jateng, TD. Namun identitas lengkapnya masih belum diketahui. Kita minta waktu 1 x 24 untuk menyelesaikan pemeriksaan," tuturnya.

Ia menambahkan, dari lokasi penangakapan, polisi menemukan bukti-bukti berupa dokumen yang diduga kuat terkait aktivitas NII.

"Untuk sangkaan awal keenam orang tersebut dikenakan pasal 107 tentang makar," tutupnya. (red/*tdc)

Hobi Ngintip Wanita Mandi Terseret ke Penjara

TULANGBAWANG, M86 - Ini contohnya kurang baik dan bahkan tidak baik untuk ditiru. Mengintip wanita mandi. Nah, kebiasaan buruk itu pulalah yang membawa seorang pemuda bernama Erwan (25) ke hadapan aparat kepolisian. Mau tahu kenapa?

Erwan pemuda aasl Panaragan, Tulangbawang Tengah, Lampung, tertunduk lesu di salah satu kursi di ruang pemeriksaan penyidik Kepolisian Sektor Tulangbawang Tengah. Berbagai pertanyaaan mau tidak mau harus di jawab Erwan meski dia harus menutupi rasa malunya.

Erwan diamankan aparat kepolisian bukan karena mencuri atau merampok. Tapi, Erwan dilaporkan tujuh gadis belia ke polisi karena Erwan telah mengintip ke tujuh gadis itu saat tengah mandi di rumah mereka masing-masing.

Namun, bukan hanya masalah mengintip wanita mandi sajalah yang membuat aparat kepolisian geram. Tapi ternyata Erwan juga merekam ke tujuh gadis saat tengah mandi dengan kamera video telepon genggam miliknya. Lalu apa jawaban Erwan atas tuduhan perbuatan itu?

"Saya dari kecil memiliki kebiasan mengintip wanita mandi dan yang sekarang sengaja saya rekam agar saya tidak perlu lagi mengintip tapi cukup melihat rekaman video itu saja," kata Erwan.

Erwan mengaku terpaksa mengintip ke tujuh gadis karena Erwan mencintai ke tujuh gadis tersebut. "Setiap pagi atau sore saya sengaja main di sekitar rumah mereka, lalu setelah mereka akan mandi, saya naik ke atap dan mengintip," kata Erwan.

Atas dasar laporan ke tujuh gadis dan barang bukti rekaman video tujuh gadis yang sedang mandi serta pengakuan Erwan. Maka kepolisian pun memutuskan untuk menjerat Erwan dengan undang-undang nomor 44 tahun 2008 tentang pronografi dengan ancaman kurungan penjara selama dua tahun. (red/*tdc)

Mahasiswi Diperkosa Kenalan Baru di Facebook

KLATEN, M86 - Bagi anda pengguna situs jejaring sosial terutama kaum hawa, sebaiknya jangan mudah percaya dan mudah jatuh cinta pada teman baru yang anda kenal melalui dunia maya tersebut. Seperti yang dialami DN, seorang mahasiswi perguruan tinggi swasta di Klaten, Jawa Tengah. DN diperkosa dan diperas seorang pria bernama Subandi yang baru saja dikenal melalui situs jejaring sosial Facebook.

Dari laporan kepolisian yang dibuat DN di Markas Kepolisian Resor Klaten, DN mengaku diperkosa Subandi (37) disebuah hotel yang ada di wilayah Klaten, Jawa Tengah. Pemerkosaan terhadap Dn terjadi pada awal bulan Mei lalu. DN diperkosa sebanyak dua kali.

Dalam laporannya, DN mengaku tidak kuasa melawan Subandi karena DN telah diancam akan dibunuh jika menolak berhubungan badan. Tidak itu saja, Subandi sengaja mengabadikan DN yang telah dalam kondisi bugil usai ditelanjangi dengan kamera telepon genggam milik Subandi.

Hasil foto bugil tubuh DN yang diabadikan. Digunakan Subandi untuk mengancam DN agar mau melayani Subandi berhubungan badan untuk yang kedua kalinya.

Subandi warga asal Kecamatan Tambun, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, ditangkap petugas kepolisian di wilayah Klaten saat akan menjemput DN untuk diperkosa. Polisi menemukan sepucuk surat ancaman, buku memori dan foto-foto bugil DN di telepon genggam milik Subandi.

Di hadapan penyidik kepolisian, Subandi mengaku mengenal DN melalui pertemanan di situs jejaring sosial Facebook. Dari pertemanan itu, Subandi mengajak DN untuk bertemu. "Semua saya lakukankan karena saya takut ditinggal sama dia, saya mencintai dia," kata Subandi.

Dan yang lebih mengejutkan, Subandi ternyata sudah memiliki anak dan istri di rumahnya di wilayah Bekasi, Jawa Barat. Subandi nekat bertolak ke Klaten hanya demi merampas kehoramatan DN. "Istri saya tidak tahu saya disini dan DN juga belum tahu saya sudah punya anak dan istri," kata Subandi.

Atas perbuatannya itu, Subandi terancam akan berpisah dengan DN dan istri serta anaknya karena kepolisian akan menjeratkan pasal berlapis tentang tindak pidana pemerkosaan dengan ancaman kurungan penjara maksimal 15 tahun. (red/*tdc)

Gara-gara Menipu, Adjie Notonegoro Ditahan di Kejati Jakarta

JAKARTA, M86 - Perancang busana kenamaan, Adjie Notonegoro, Selasa (24/5) ditahan di Rumah Tahanan Cabang Salemba Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta terkait penipuan dan penggelapan uang muka pengadaan seragam pegawai Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasie Penkum) Kejati DKI Jakarta, Suhendra, membenarkan adanya penahanan terhadap Adjie Notonegoro tersebut setelah pihaknya menerima penyerahan berkas tahap dua ---barang bukti dan tersangka dari Polda Metro Jaya. "Adjie dijerat Pasal 372 dan 378 KUHP (penipuan dan penggelapan -red)," katanya.

Kasus yang menimpa Adjie Notonegoro tersebut, merupakan yang kedua kalinya setelah sebelumnya tersandung dalam kasus pidana penipuan dan penggelapan dana Rp860 juta dari seorang pengusaha perhiasan, Melvin Chandrianto Tjin.

Suhendra menjelaskan kasus perancang busana itu bermula dari adanya proyek pengadaan baju seragam untuk karyawan BRI dimana ia meminjam uang ke sejumlah pihak sebagai modal awal.

Ia memjam uang tersebut ke Yusuf Wahyudin sebesar Rp147 juta, PT Apac Inti Corpora sebesar Rp113 juta dan Dewi Cinta Rp107 juta.

"Namun Adjie Notonegoro tidak juga membayar pinjaman uang itu," katanya.

Disebutkan, penyerahan berkas tahap dua Adjie Notonegoro itu dilakukan pada Selasa (24/5) sekitar pukul 14.00 WIB.

Sebelumnya, korban tindak pidana Adjie Notonegoro, Dewi Cinta menuturkan dirinya meminjamkan uang sebesar Rp100 juta kepada Adjie untuk modal membuat seragam salah satu perusahaan maskapai penerbangan sekitar setahun lalu.

Perancang busana itu, berjanji akan mengembalikan uang kepada Dewi, namun hingga saat ini belum juga dilunasi.

Akhirnya, Dewi melaporkan Adjie dengan dugaan melanggar Pasal 378 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) tentang penipuan dan Pasal 372 tentang penggelapan dengan ancaman kurungan penjara lima tahun.

Dewi sempat memberikan kesempatan kepada Adjie untuk menyelesaikan persoalan utang-piutang itu, namun ia menilai tidak ada niat baik dari perancang busana tersebut. (red/*b8)

Akhirnya, Mahfud Laporkan Nazaruddin ke KPK

JAKARTA, M86 - Setelah sempat enggan melaporkan dugaan gratifikasi politikus Partai Demokrat, M. Nazaruddin, ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mendatangi lembaga antikorupsi tersebut.

Mahfud mendatangi gedung lembaga antikorupsi di Jakarta, Selasa (24/5), ditemani Sekretaris Jenderal (Sesjen) MK, Janedjri M. Gafar, dan keduanya tidak banyak berkomentar ke wartawan.

Sebelumnya Mahfud sempat menyampaikan kepada media bahwa dirinya enggan melaporkan ke KPK mengenai pemberian uang 120.000 dolar Singapura dari M. Nazaruddin untuk Sesjen MK pada Oktober 2010 tersebut.

Namun, saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) KPK dengan Komisi III DPR RI pada Senin (23/5), Ketua KPK Busyro Muqoddas mengatakan bahwa dirinya telah menelpon langsung Mahfud MD terkait dugaan gratifikasi M Nazaruddin.

Busyro, yang juga Ketua Komisi Yudisial (KY), mengatakan akan segera menindaklanjuti dugaan gratifikasi tersebut, apabila Mahfud MD melaporkannya secara resmi ke lembaga antikorupsi.

"Ya, kami akan menindak lanjutinya sesegera mungkin kalau memang sudah menerima langsung laporan dari Pak Mahfud," ujar Busyro disela-sela RDP.

Namun demikian, ia tidak dapat menjanjikan akan langsung memanggil mantan Bendahara Umum Partai Demokrat tersebut. "Semua berjalan dengan proses, semua informasi dan data yang masuk dikaji terlebih dahulu, baru ditindak lanjuti dengan pemanggilan," ujarnya.

Mahfud MD juga telah mendatangi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, karena merupakan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, terkait pemberian uang bernilai total 120.000 dolar Singapura oleh M. Nazaruddin kepada Sesjen MK.

Pada Senin malam (23/5), Partai Demokrat secara resmi telah mencopot M Nazaruddin dari posisi bendahara umum partai pemenang Pemilu 2009 itu. (red/*b8)

Dugaan Markus Kasus TPI Harus Segera Diusut

JAKARTA, M86 - Kemenangan Siti Hardiyanti Rukmana atas gugatan perdata PT Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (CTPI) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terus menuai perdebatan. Disebut-sebut dalam kemenangan tersebut karena ada campur tangan mafia kasus yang disebut-sebut Robert Bono.

Pengacara Maqdir Ismail melalui rilis yang diterima wartawan, Selasa (24/5) menilai bila benar isu yang menyebutkan Kuasa hukum Tutut, Hary Ponto dan Robert Bono diisukan pernah bertemu Ketua PN Jakarta Pusat, Syahrial Sidik, maka sang hakim sudah melakukan pelanggaran kode etik. "Bukan hanya melanggar etika tetapi juga menyalahgunakan wewenannya," terangnya.

Meski demikian, Maqdir yang juga pengacara tersangka kasus Sisminbakum, Yusril Ihza Mahendra ini mengaku secara pribadi dirinya tidak tahu menahu terkait Robert Bono. Namun, secara hukum bilamana isu tersebut benar maka institusi penegak hukum yakni Kejaksaan Agung dan Kepolisian harus mengusutnya. "Kalau untuk membongkr markus polisi dan kejaksaan harus turut serta,"lanjutnya.

Sama halnya dengan Maqdir, pengamat Hukum Pidana Chairul Huda menilai putusan. PN Pusat harusnya dieksaminasi kembali," Tentunya pertama tama mempelajari putusannya, semacam melakukan eksaminasi publik,"kata Chairul ketika dimintai tanggapanya.

Lalu Komisi Yudsial, lanjut Chairul dapat melakukan pemeriksaan apakah ada pelanggaran etik yang dilakukan hakim PN Pusat tersebut, "Hasilnya dianalisis apakah terkait satu sama lain, lalu memeriksa para pihak, markusnya dan jika mungkin panitera dan hakimnya," sambung Chairul yang juga staf ahli polri ini.

Seperti diketahui,kuasa hukum Tutut, Hary Ponto dan Robert Bono diisukan pernah bertemu Ketua PN Jakarta Pusat, Syahrial Sidik. Namun, kabar itu sudah dibantah Syahrial. Nama Robert Bono sebelumnya juga diduga berperan dalam kasus pemailitan TPI yang disidang di pengadilan yang sama. (red/*b8)

Senin, Mei 23, 2011

Merasa Dilecehkan, Polisi akan Usut Foto Panas Nadila Ernesta

JAKARTA, M86 - Foto panas artis Nadila Ernesta yang menggunakan atribut kepolisian, dinilai telah melecehkan institusi Polri. Terkait hal itu, Mabes Polri pun langsung melakukan kajian adanya unsur pidana dalam kasus ini.

"Tadi saya sudah koordinasi dengan Kabareskrim pak Ito, saya tanyakan tentang masalah ini. Bisa kita kenakan pasal 307 itu mungkin semacam pelecehan intitusi Polri," kata Kadiv Humas Polri, Irjen Anton Bahrul Alam, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (23/5).

Menurut Anton, saat ini Bareskrim telah melakukan penyelidikan, terkait beredarnya foto Nadila di dunia maya.

"Kita menyesalkan ada artis yang pakai topi organisasi Polri kita kecewa kenapa sampai begitu. Maka dari itu sekarang sedang dilidik apakah memakai itu sengaja atau dikruping," papar dia.

Anton menjelaskan polri melakukan penyelidikan dengan melakukan pemeriksaan pemeriksaan digital forensik terhadap foto-foto Nadila.

"Tentu akan kita cek dulu ke ahli forensik. Kalau nanti sudah jelas tentu nanti akan kita mintai keterangan," ujar dia.

Sebelumnya beredar foto Nadila berbaju bikini hitam. Dalam pose seksinya Nadila menggunakan topi Polri untuk aksesoris. (red/*b8)

Ketua DPP PPP Dilaporkan ke Mabes Polri

JAKARTA, M86 - Terkait melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan, Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Provinsi Papua, Muchdi Purwopranjono, melaporkan Ketua Dewan Pimpinan Pusat PPP, Suryadharma Ali, ke Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri, Senin (23/5).

"Hari ini kita melaporkan Suryadharma Ali, Emron Pangkapi, M. Romahurmuzy, dan Husnan Bey karena melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap orang lain yakni Muchdi," kata Kuasa hukum Muchdi, Eggi Sudjana di Jakarta, Senin (23/5).

Penyesatan atau kebohongan publik yang dilakukan oleh Suryadharma Ali, Emron Pangkapi, M. Romahurmuzy, dan Husnan Bey dengan memberikan pernyataan yang tidak benar telah menegaskan bahwa perbuatan yang dilakukan merupakan perbuatan tindak pidana, ujarnya.

"Mereka telah melakukan penyesatan atau kebohongan publik dengan memberikan keterangan bohong atau pernyataan yang tidak benar dalam sejumlah pernyataan di media massa, di mana mereka menyatakan bahwa Muswil yang diadakan di hotel Muspagco yang telah memilih Muchdi," kata Eggi.

Muswil tersebut dinyatakakan liar dan tidak jelas, dan dinyatakan kemudian bahwa Muswil tersebut tidak dihadiri oleh mayoritas DPC dan tidak sesuai dengan AD/ART padahal faktanya bahwa Muswil tersebut telah dibuka secara resmi oleh Ketua DPP PPP sendiri, katanya.

"Mengingat status Suryadharma Ali sebagai Menteri Agama RI, maka tidaklah pantas dan tidak layak baginya untuk bertindak atau berlaku tidak jujur, bohong dan menindas rakyatnya sendiri dalam hal ini warga partai PPP," kata Eggi.

Eggi mengharapkan secara bijaksana yang bersangkutan dapat mengambil sikap untuk menyelesaikan sengketa permasalahan ini secara terbuka dan adil dengan memperhatikan semua fakta-fakta dan bukti-bukti.

"Serta mampu bersikap obyektif dengan meredam kepentingan-kepentingan politik pihak-pihak tertentu, termasuk kepentingan pribadi dan golongannya sendiri, yaitu segera menerbitkan SK dan mengakui hasil Muswil DPW PPP Papua yang terpilih saudara Muchdi," kata Eggi. (red/*b8)

Nunun Jadi Tersangka Kasus Suap Miranda S Goeltom

JAKARTA, M86 - Komisi Pemberantasan Korupsi telah menetapkan Nunun Nurbaeti sebagai tersangka kasus dugaan suap dalam pemilihan deputi gubernur senior Bank Indonesia periode 2004 yang memenangkan Miranda Goeltom.

"Atas rapat putusan pimpinan KPK yang terakhir, Ibu Nunun Nurbaeti telah ditetapkan sebagai tersangka," kata Ketua KPK, Busyro Muqoddas, di dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) KPK dengan Komisi III DPR di Jakarta, Senin (23/5).

Busyro juga menegaskan bahwa KPK akan segera mengupayakan ekstradisi untuk tersangka dari dugaan suap kasus pemilihan Miranda Goeltom tersebut. Nunun berulang kali disebut-sebut terlihat di Singapura.

Namun ketika hendak menjelaskan proses ekstradisi tersebut penjelasan Busyro terputus oleh interupsi salah satu anggota Komisi III DPR.

Dalam beberapa sidang pemeriksaan para terdakwa dari kasus dugaan penerimaan suap berupa traveller`s cheque (TC) oleh mantan anggota Komisi IX DPR di Pengadilan Khusus Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Nunun Nurbaeti yang juga merupakan istri dari anggota Komisi III DPR Adang Daradjatun berulang kali disebut sebagai pemberi TC melalui Dudhie Makmun Murod.

Pemberian TC diduga dilakukan staf Nunun, Arie Malangjudo di salah satu restoran di daerah Senayan kepada Dudhie Makmun Murod. Dudhie sendiri mengaku mendapat perintah dari politikus senior PDI Perjuangan Panda Nababan untuk menemui staf dari isti mantan Wakapolri tersebut.

Dalam sidang pemeriksaan saksi-saksi untuk Panda Nababan cs di Pengadilan Khusus Tipikor, mantan anggota DPR Emir Moeis mengaku menolak TC yang dibawa Dudhie yang ia duga berasal dari pemilihan Miranda Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia periode 2004.

Emir, mengikuti perkataan Dudhie, dalam sidang pemeriksaan saksi tersebut mengatakan bahwa TC tersebut merupakan uang lelah untuk para anggota Komisi IX DPR RI 1999-2004 yang telah melakukan rapat dua hari dua malam untuk memilih deputi gubernur senior Bank Indonesia kala itu. (red/*b8)

Gara-gara Hutang Rp 40 Ribu, Tukang Duren Tewas Ditusuk

LAMPUNG, M86 - Sesama tukang jual duren ribut masalah hutang Rp 40 Ribu mengakibatkan satu orang tewas, Muso (22), warga Dusun I, Desa Gunung Raya, Kecamatan Marga Sekampung, Lampung Timur, ditusuk temannya sendiri, pada sekitar pukul 18.00 WIB kemarin malam.

Tersangka Shahbudin (26), warga Dusun II, Desa Gunung Raya, Marga Sekampung, Lampung Timur, mengaku kesal saat menagih hutang kepada temannya yang bukannya membayar malah marah saat ditagih.

"Kami sama-sama tukang jual duren, sudah satu bulan kawan saya hutang tapi gak ada kejelasan kapan mau bayar. Sore itu ketika sepi pembeli saya datangi teman saya dan menagih uang tapi bukannya minta maaf belum bisa bayar malah saya dimarahi."

"Kontan saja saya cabut pisau yang biasa saya gunakan untuk membelah duren. Pisau itu saya tusukkan ke paha kirinya lalu saya kabur. Saya gak sangka dia tewas kehabisan darah. Saya benar-benar menyesal," ujar tersangka saat ditangkap Polisi pukul 08.00 WIB.

Kapolres Lampung Timur, AKBP Bambang mengatakan, "Tersangka ditangkap di rumahnya pukul 08.00 WIB dan langsung diamankan berikut barang bukti sebilah pisau yang digunakan menusuk korban ke Polres. Pada saat diperiksa, tersangka mengaku melakukan penusukan karena kesal kena marah korban," kata Kapolres. (red/*jno)

Diduga Praktek Aborsi, Klinik Bersalin Digeledah Polisi

JAKARTA, M86 - Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara menggeledah klinik bersalin "Bunda Maria" yang terletak di Kelurahan Paal 2 Manado terkait kasus dugaan praktik aborsi.

Penggeladahan di klinik yang juga sebagai rumah pribadi dari tersangka dokter EM tersebut dilakukan tim penyidik Reserse Kriminal Umum Satuan Kejahatanan dan Kekerasan (Jatanras) Polda Sulut, Senin (23/5).

Penggeledahan dipimpin Kepala Satuan Jatanras Polda Suawesi Utara (Sulut) AKBP Sumitro disaksikan antara lain penasehat hukum tersangka Reinhard Mamalu SH serta Abner Laderu Kepala Lingkungan 10 Kelurahan Paal 2 Manado.

Saat dilakukan penggeladan, di luar klinik tersebut dilingkari garis polisi dan dijaga petugas polisi.

Kepala Bidang Humas Polda Sulut, AKBP Benny Bela mengatakan, petugas datang ke lokasi itu antara lain untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

"Ada penambahan sejumlah barang bukti, sehingga dilakukan pemeriksaan terhadap klinik tersebut," kata Bela didampingi Kasat Jatanras Polda Sulut AKBP Sumitro.

Benny Bela menambahkan, ada beberapa barang bukti yang dibutuhkan dalam penanganan kasus itu seperti alat-alat yang digunakan untuk penguguran kandungan.

Menurut Bela, dalam penanganan kasus ini, kepolisian baru menetapkan dua orang tersangka dan telah melakukan penahanan yakni dokter EM dan seorang bidan.

Kepolisian juga telah memeriksa sebanyak delapan saksi dalam penanganan kasus ini.

"Polisi masih terus melakukan pendalaman dan pengembangan penyidikan terkait dengan kasus aborsi tersebut. Tidak menutup kemungkinan jumlah saksi yang dimintai keterangan dan tersangka akan bertambah," kata Bela.

Tersangka dalam kasus ini diancam pasal 75 junto 194 Undang-undang (UU) Kesehatan dan pasal 83 UU Perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun.

Reinhard Mamalu, Pensehat hukum tersangka mengatakan, penggeledahan yang dilakukan polisi antara lain untuk mengambil dokumen yang dibutuhkan dalam penanganan kasus ini.

"Polisi hanya melakukan penggeladahan, tidak ada penggalian," katanya.

Sebelumnya pada pekan lalu, kepolisian juga telah menggali sejumlah tempat di sekitar klinik yang juga rumah dari tersangka itu, untuk mencari barang bukti yang diduga hasil aborsi ditanam di lokasi itu. (red/*b8)

Mahfud MD Siap Jadi Saksi Agus Condro

JAKARTA, M86 - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, menyatakan bahwa dirinya siap menjadi saksi dalam sidang terdakwa kasus suap pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank IndonesiaI, Agus Condro.

"Kalau untuk penegakan hukum, untuk kebenaran saya siap datang. Jangankan untuk Agus (Condro), siapapun saya datang," kata Mahfud di Jakarta, Senin (23/5)

Namun, dia menyatakan, hingga saat ini pihaknya belum diundang dari pengadilan tindak pidana korupsi (Tipikor) terkait kasus Agus Condro.

"Seharusnya ada undangan, SMS aja yang banyak dari wartawan," katanya.

Sebelumnya, mantan anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan di DPR, Agus Condro, mengajukan nama Mahfud MD untuk menjadi saksi yang meringankan bagi dirinya.

Kuasa Hukum Agus Condro, Firman Wijaya, mengatakan bahwa Agus pernah menceritakan kasus dugaan suap itu kepada Mahfud saat bertemu dalam sebuah kesempatan di Garut, Jawa Barat.

Agus Condro telah didakwa menerima sejumlah cek perjalanan setelah terpilihnya Miranda S. Goeltom sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.

Atas perbuatannya itu Agus dijerat dengan dakwaan pertama pasal 5 ayat (2) junto pasal 5 ayat (1) butir b UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan dakwaan kedua pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. (red/*b8)

Diancam Foto Bugil Disebar, Siswi SMP Kelas I Pasrah Diperkosa

LAMPUNG, M86 - Takut foto bugil saat mandi disebarkan, siswi kelas I SMPN di Bandar Lampung, Ami (15), hanya bisa pasrah saat diperkosa tetangganya sendiri, Opi (27), warga Teluk Bone Kota Karang, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung, pada Minggu (22/05) malam sekitar pukul 21.30 WIB., di rumah korban saat kondisi rumah sepi.

Terungkapnya kasus pemerkosaan ini saat korban dibangunkan ibunya untuk berangkat ke sekolah Senin (23/05) pagi tadi. Tiba-tiba saja anaknya mengeluh merasakan sakit yang luar biasa pada kemaluannya hingga tidak sanggup untuk berdiri.

Ibu korban lalu curiga dan meminta agar anaknya menceritakan apa yang sudah terjadi karena semalam hanya korban yang tinggal sendiri di rumah sedangkan yang lainnya pergi ke rumah kerabat dan pulang tengah malam.

Sambil menangis korban lalu cerita bahwa saat mereka pergi tersangka datang bertamu ke rumah. Tanpa curiga, tersangka yang rumahnya bersebelahan dipersilahkan masuk dan ternyata tersangka selama ini diam-diam memfoto korban lewat ventilasi udara saat korban mandi. Tersangka mengancam akan menyebarkan foto bugil tersebut jika korban tidak mau melayani nafsunya.

"Saya takut malu hingga terpaksa melayani nafsu bejatnya. Walau keadaan sakit saya hanya bisa diam saja saat dipaksa melayani dan diancam akan dibuat malu kalau cerita dengan ibu," ungkap korban.

Ibu korban yang mendengar cerita anaknya langsung visum ke rumah sakit lalu melaporkan tersangka ke Polresta Bandar Lampung. Tersangka yang mencium akan dilaporkan langsung cabut kabur dari rumahnya meninggalkan keluarganya.

Kasat Reskrim Polresta Bandar Lampung, Kompol Takdir Matanette membenarkan adanya laporan tersebut dan pihaknya sedang melakukan pengejaran terhadap tersangka. (red/*jno)

Pekerja Bangunan Tewas Jatuh dari Lantai 15

DEPOK, M86 - Naas nasib seorang pekerja bangunan yang tewas setelah terpeleset dan jatuh dari lantai 15 Apartemen Margonda Residence yang tengah dibangun.

Kapolsek Beji Kompol Ngadi di Depok, Senin (23/5) mengatakan saat ini pihaknya masih menunggu hasil visum rumah sakit. Korban adalah Anand bin Kamat, 21, warga Desa Kacangan, Bojonegoro Jawa Timur.

Korban mengalami luka parah pada bagian kepala yang menyebabkan dirinya meninggal. Korban jatuh dalam kondisi telentang, dan menghembuskan nafas terakhirnya ketika dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Tugu Ibu, Jalan Raya Bogor, Kecamatan Cimanggis. Korban mengalami banyak pendarahan.

"Kami masih menyelidiki penyebab kematiannya," kata Kapolsek sembari menambahkan bahwa pihaknya telah meminta keterangan sejumlah saksi.

Dari hasil oleh TKP lanjutnya korban sempat berusaha menyelamatkan diri, dengan adanya bekas tapak jari sepanjang 10 cm diatas dinding yang masih basah.

"Mungkin korban kurang hati-hati sehingga terpeleset dan jatuh," katanya.

Salah seorang yang enggan disebutkan namanya mengatakan saat berada di lantai 15, korban diketahui tidak menggunakan perlengkapan pengaman. "Korban sedang menghaluskan dindingnamun tiba-tiba terpeleset dan jatuh ke bawah," katanya.

Kejadian ini sempat menjadi perhatian kalangan pekerja lainnya. Mereka membantu korban yang berada dalam kondisi tidak sadar. Para pekerja bangunan kemudian melanjutkan pekerjaan. (red/*b8)

Memalukan, Lulusan Sarjana Nekat Nodong Tukang Bakso

LAMPUNG, M86 - Pusing udah jadi sarjana tapi belum juga dapat kerjaan membuat Sandy (24), warga Cilulu Ketapang, Kecamatan Limau, Kabupaten Tanggamus, akhirnya berbuat nekat menodong pakai senpi rakitan kepada penjual bakso di pasar Talang Padang, Tanggamus, pada Senin (23/05) sekitar pukul 10.00 WIB.

Korban Widodo (34), hanya bisa pasrah saja saat tersangka mengambil uang di dalam dompet korban sebesar Rp 500 Ribu yang rencananya akan dibayarkan untuk cicilan kredit motor. Usai mengambil uang tersangka langsung kabur menuju ke arah Bandar Lampung.

Untunglah saat tersangka belum jauh, Polisi datang untuk makan bakso dan melihat korban yang ketakutan menceritakan apa yang dialaminya hingga korban langsung ke Polsek.

Sempat terjadi kejar-kejaran terhadap tersangka dengan Polisi dan sampai akhirnya tersangka masuk ke dalam perkebunan sawit yang tembus ke Natar, Lampung Selatan. Tersangka akhirnya berhasil ditangkap saat jatuh dari motor.

Kapolres Tanggamus, AKBP Bayu Aji membenarkan ditangkapnya tersangka di wilayah Natar. "Kami masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka," kata Kapolres. (red/*jno)

Sabtu, Mei 21, 2011

Pembobol Indomart Pesanggrahan Dibekuk

JAKARTA, M86 - Polsek Pesanggrahan, Jakarta Selatan, berhasil membekuk dua pelaku perampokan minimarket Indomart di RT 01/06 Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

"Dalam pengakuannya kedua tersangka bilang tidak punya uang untuk membeli susu,'' kata Kapolsek Pesanggrahan Kompol Dermawan Simatupang.

Kapolsek memaparkan, aksi tersebut terjadi sekitar pukul 02.30 WIB. Saat itu, Indomart yang buka 24 jam didatangi oleh dua pelaku bernama Taufik dan Kusuma yang datang menggunakan sebuah motor Honda Beat.

Dijelakannya, dalam melakukan aksinya kedua pelaku membagi tugas masing-masing. Taufik sendiri bertuga untuk masuk kedalam, sedangkan Kusuma bertugas untuk menjaga diluar. Setelah Taufik masuk, ia kemudian berpura-pura meminta kepada pelayan untuk mengambilkan dua klaleng susu merk Nutrilon ukuran 800 gram.

Saat pelayan itu hendak mengambilkan susu itu, Taufik tiba-tiba menodongkan senjata ke arah pelayan. Setelah menodongkan senjata pelaku meminta pelayan tersebut untuk menyerahkan seluruh uang yang ada di laci.

"Pelayan ini kemudian melawan dan merebut senjatanya. Dia lalu berteriak,'' jelasnya

Mendengar teriakan tersebut, rekan pelaku yakni Kusuma lantas masuk ke dalam dan keduanya terkepung. Saat dikepung Taufik berhasil melarikan diri sedangkan Kusuma berhasil diamankan karyawan Indomart. "Kusuma lalu diserahkan ke Mapolsek Pesanggrahan,'' katanya.

Sedangkan Taufik berhasil ditangkap di kos-kosannya di Tangerang Selatan pada Jumat pagi. Dari kedua tersangka, polisi menyita barang bukti 2 kaleng susu Nutrilon dan uang tunai Rp 90 ribu. (red/*b8)

Pekan Depan, Cicit Soeharto Dilimpahkan ke Kejaksaan

JAKARTA, M86 - Penyidik Polda Metro Jaya akan melimpahkan berkas, barang bukti narkoba dan tersangka cicit mantan Presiden Soeharto, Putri Aryanti Haryowibowo kepada kejaksaan pada awal pekan depan.

"Rencananya pelimpahan tahap kedua kepada kejaksaan pada Senin (23/5)," jelas Kabid Polda Metro Jaya di Jakarta.

Kejaksaan secara resmi telah menetapkan berkas pemeriksaan Putri sudah lengkap (P-21) sehingga penyidik kepolisian tinggal melimpahkan tahap kedua.

Kejaksaan menyampaikan berkas Putri telah lengkap kepada pihak kepolisian pada Kamis (19/5). (red/*b8)

Jumat, Mei 20, 2011

Kasus Suap Sesmenpora Terus Melebar

JAKARTA, M86 - Pengamat Politik dari Universitas Indonesia, Iberamsjah berpendapat, kasus dugaan suap terhadap Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga sudah melebar dan berkembang tanpa arah serta berpotensi memecahbelah Partai Demokrat.

Akibatnya, katanya di Jakarta Jumat, saat ini muncul faksi-faksi yang saling menjelekkan satu sama lain.

Dia mengemukakan, perkembangan selanjutnya masih mungkin muncul hal-hal baru. "Terakhir itu bertemu dengan Ketua MK Mahfud MD. Apa urusannya Mahfud dengan urusan internal PD," katanya.

Ketika ditanyakan kemungkinan manuver ini untuk merontokkan citra Anas yang dalam berbagai survei menunjukkan hasil sebagai calon kuat Presiden 2014, Iberamsjah tidak mempercayainya.

Anggota Tim Investigasi Fraksi Partai Demokrat DPR RI Ruhut Sitompul menyatakan, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD semestinya melaporkan percobaan suap kepada Sekretaris Jenderal MK Djanedri ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bukan ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ruhut juga mempertanyakan laporan Mahfud MD kepada Presiden mengenai percobaan suap yang dilakukan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) Nazaruddin kepada Sekjen MK Djanedri berupa uang 120 ribu dolar Singapura yang telah dikembalikan.

Ruhut menantang Mahfud MD untuk melaporkan hal itu kepada KPK. Hal ini harus dilakukan agar ada fakta hukum yang pasti terhadap Nazaruddin yang kini masih menjabat sebagai Bendahara Umum PD.

"Indonesia adalah negara hukum. Maka mari kita hormati hukum dan segala sesuatunya yang dianggap melanggar hukum harus diselesaikan secara hukum. Harusnya, Pak Mahfud melaporkan Nazaruddin ke penegak hukum, ke polisi atau ke KPK. Jangan berkoar-koar di media," kata Ruhut Sitompul. (red/*ant)

Korupsi, Mantan Kadisdik Bekasi Mendekam di Penjara

BEKASI, M86 - Mantan kepala dinas pendidikan Kabupaten Bekasi, Tony Sukasah (54), divonis hukuman satu tahun penjara karena terbukti melakukan korupsi proyek laboratorium multimedia untuk 30 SMP dan merugikan negara hingga Rp510 juta.

"Dari hasil rapat majelis hakim menimbang dan memutuskan terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan menghukum terdakwa untuk menjalani satu tahun penjara dengan denda Rp52 juta," kata Hakim Ketua I Gusti Ngurah Artanaya dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Bandung, Jumat (20/5).

Vonis terhadap Tonny Sukarsah itu lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum KPK Agus Setiadi, yakni yang menuntut terdakwa selama 4,5 tahun.

Tony yang terlihat menggunakan kemeja putih lengan panjang serta celana hitam itu tertunduk setelah mendengarkan putusan itu.

Majelis hakim dalam memutuskan vonis terhadap Tony Sukarsah menggunakan dakwaan subsider dari JPU dengan pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999. Jo UU RI Nomor20 Tahun 2001.

"Yang memberatkan terdakwa adalah terdakwa tidak mengakui serta terdakwa juga merupakan pejabat publik. Akan tetapi yang meringankan, terdakwa berperilaku sopan saat persidangan dan tidak pernah terjerat masalah hukum sebelumnya," kata

Sementara itu, Kuasa Hukum terdakwa Cece Suryana menyatakan kecewa dengan putusan hakim dan menilai kliennya tersebut tidak bersalah. "Klien kami tidak bersalah, lagipula tidak ada bukti yang memberatkan klien kami," katanya.

Cece menyatakan siap untuk melayangkan surat banding terhadap putusan majelis hakim tersebut.

Mantan Kadisdik Kabupaten Bekasi, Tony Sukarsah terjerat kasus korupsi pengadaan laboratorium multimedia senilai Rp3 miliar di 30 SMP pada tahun anggaran 2008.

Namun dalam pelaksanaanya, terdakwa yang kini menjabat sebagai Staf Ahli Bupati mengatur hanya tiga rekanan perusahaan yang bergiliran mendapatkan proyek tersebut.

Ketika itu terdakwa, tidak melakukan lelang terbuka dan mengatur serta mengakali pemenang dengan memilih beberapa perusahaan rekanan proyek tersebut.

Ada 25 perusahaan rekanan yang seolah-olah dilibatkan dalam proyek tersebut meski pada kenyataannya hanya tiga perusahaan yang berbagi proyek tersebut. (red/*b8)

Tersandung Kasus Perkosaan, Bupati Bengkulu Dilaporkan Polisi

JAKARTA, M86 - Dua perempuan berinisial LR (39) dan SR (25) melaporkan Bupati Bengkulu Selatan Reskan Efendi ke Polda Bengkulu dengan tuduhan pemerkosaan dan pelecehan seksual. Kepala Kepolisian Daerah Bengkulu melalui Kepala Bidang Humas AKBP Hery Wiyanto mengatakan laporan pertama disampaikan LR, seorang warga Kelurahan Tanjung Mulya Kecamatan Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan.

"Kami menerima laporan kasus dugaan pemerkosaan dari LR pada Rabu (18/5) dan dari SR kami terima pada Kamis (19/5)," katanya di Bengkulu.

Kasus pemerkosaan terhadap LR dilaporkan terjadi pada 2010, sedangkan pelecehan seksual yang dialami SR terjadia pada 10 Agustus 2009.

Hery mengatakan laporan kedua perempuan yang sudah diterima Polda tersebut akan diproses jika terdapat cukup bukti."Kami akan serahkan kepada penyidik untuk melakukan tugasnya, kalau cukup bukti tentu akan ditindaklanjuti," tambahnya.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Bengkulu Tarmizi Gumay yang mendamping kedua pelapor mengatakan siap mendukung keduanya untuk mendapatkan keadilan.

Ia mengatakan tidak menutup kemungkinan jumlah pelapor akan bertambah karena diperkirakan terdapat sembilan perempuan lainnya yang mengaku pernah mendapat perlakuan tidak senonoh dari Reskan.

"Kami ingin ini diproses secara murni tanpa ada embel-embel politik di belakangnya, kalau ada unsur pelanggaran itu kami minta kepolisian tegas," katanya.

Sementara itu Bupati Bengkulu Selatan Reskan Efendi dalam jumpa persnya mengatakan semua laporan tersebut tidak benar dan bohong.

Ia mengatakan bahwa tuduhan tersebut hanya fitnah untuk menjatuhkan dirinya dan membuat malu masyarakat Bengkulu Selatan.

"Saya sudah puas difitnah. Tidak hanya kasus ini, sebelumnya saya dituduh ijazah palsu, mencuri mesin pengolah sawit dan banyak lagi, tapi satu pun tidak terbukti," ungkapnya.

Reskan mengatakan siap melapor balik perbuatan kedua pelapor tersebut karena sudah mencemarkan nama baiknya. (red/*b8)

Kamis, Mei 19, 2011

Demi Bisnis Rp 100 Miliar, Ibu Telantarkan Dua Anak

JAKARTA, M86 - Demi kerajaan bisnis di Bali dengan investasi senilai sekitar Rp 100 miliar lebih, Made Jati (50), dituduh oleh mantan suaminya Michael Donnelly (58) menelantarkan dan tidak mengakui dua anak kandung mereka Sean Donnelly (17) dan Brenden Donnelly (16). Karenanya Michael mengadukan apa yang terjadi pada kedua anak kandungnya itu ke Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), lalu mereka telah melapor ke Mabes Polri.

Dalam testimoninya di Kantor Komnas PA, Kamis (19/5) Michael menuturkan ia menikah dengan Made Jati, perempuan asal Bali pada tahun 1984 di California, Amerika Serikat. Michael mengenal Made saat ia berlibur di Bali pada tahun 1978.

Setelah menikah, Michael dan Made kembali ke Bali tahun 1985. Lalu dengan modal investasi dari Micahel, mereka membeli butik Uluwatu di Bali tahun 1988. "Kami membelinya atas nama Made. Karena pembelian harus memakai nama orang Indonesia," kata Michael.

Bisnis mereka pun berkembang dan butik Uluwatu memiliki belasan cabang di sana. Setelah itu mereka juga berbisnis restoran di Kuta. "Nilai bisnis kami termasuk rumah kami di Sanur senilai sekitar Rp 100 miliar," kata Michael.

Menurut Michael atas desakan keluarga Made, setelah mereka memiliki dua anak Sean dan Brenden, istrinya itu lalu meminta ia menikahinya di Bali agar tercatat di catatan sipil serta sesuai adat Bali. "Kami menikah lagi di Bali tahun 1994," kata Michael.

Namun karena pernikahan di Bali itu, tahun 2005 istrinya menuntut ia cerai. "Ia menuntut perceraian kami. Yang dituntut adalah pernikahan di Bali tahun 1994," kata Michael.

Michael menduga, tuntutan cerai Made, istrinya itu karena desakan keluarganya untuk menguasai bisnis mereka berupa butik, restoran dan rumah mewah mereka senilai Rp 100 miliar lebih. "Tuntutan cerai kami akhirnya dikabulkan pengadilan tahun 2007. Dan semua bisnis serta asset menjadi milik Made," kata Michael. (red/*wkc)

Rabu, Mei 18, 2011

Polda Jatim Gulung Jaringan Narkoba

JATIM, M86 - Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Jatim akan berkoordinasi dengan Mabes Polri dan Polda Bali guna mengungkap dan membongkar jaringan narkoba home Industry jenis heroin yang ditangkap Polda Jatim di Jalan Dukuh Kupang Barat, Surabaya, 13 Mei 2011 lalu, serta penangkapan narkoba di Juanda dengan senilai Rp 21 miliar oleh Bea Cukai Klas I Juanda.Dirnarkoba Polda Jatim, Kombes Pol Jan De Fretes saat dikonfirmasi di Mapolda Jatim, Rabu (18/5).

Ia mengatakan, koordinasi dengan Mabes Polri dinilai sangat penting karena diperkirakan jaringan tersangka juga berada di luar negeri. Sedangkan dari hasil penyidikan sementara, tersangka mengaku membuatnya sendiri. Akan tetapi wilayah edarnya mencapai Bali, sangat kuat dugaan tersangka memiliki jaringan di sana.

"Ini kan kasus heroin, dan biasanya jaringannya juga melibatkan jaringan internasional. Terlebih, disinyalir kalau pembelian bahan baku serbuk putih itu dari uang hasil pembobolan ATM yang dilakukan tersangka," tutur Direskoba Polda Jatim saat didampingi oleh Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Rachmat Mulyana.

Dalam kasus tersebut, polisi masih menetapkan satu tersangka saja, yakni berinisial Her (33), warga kelahiran Semarang yang tinggal di Jalan Dukuh Kupang Barat XII, Surabaya.

Dari hasil pengembangan penyidikan, ditengarai selain untuk membeli bahan baku heroin, uang hasil pembobolan ATM juga digunakan untuk membeli barang-barang mewah produk luar negeri.

Seperti halnya pemesanan bahan baku heroin, menurutnya, pemesan barang-barang seperti arloji, perhiasan dan barang-barang mewah produk luar negeri lainnya, dilakukan tersangka melalui internet. "Menyangkut dengan kasus pembobolan ATM yang dilakukan tersangka, kasusnya akan kami serahkan ke Direktorat Reskrim Polda Jatim," ujarnya.(red/*jno)

ATM Bank Jabar-Banten Dibobol Pencuri, Rp147 Juta Raib

KARAWANG, M86 - Kawanan penjahat membawa kabur uang sekitar Rp147 juta setelah membobol mesin anjungan tunai mandiri Bank Jabar-Banten di Jalan Raya Kosambi, Desa Duren, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Rabu (18/5) dini hari.

Aksi pembobolan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) Bank Jabar-Banten, Klari itu baru diketahui pada Rabu pagi oleh petugas pengamanan bank tersebut, setelah menerima laporan dari warga yang akan mengambil uang di ATM itu.

Kapolsek Klari, Kompol Wahidin Husodo bersama anggotanya kemudian mendatangi tempat kejadian untuk melakukan olah tempat kejadian perkara, setelah kejadian itu dilaporkan oleh petugas pengamanan bank.

Di lokasi kejadian, petugas menemukan barang bukti berupa hasil rekaman dari kamera CCTV di dalam ruang ATM.

Polisi kemudian memasang garis polisi dan kini kasus tersebut ditangani Polres Karawang.

Sementara itu, dari data CCTV pelaku melakukan aksinya pada Rabu (18/5) sekitar pukul 04.00 WIB. Pelaku diperkirakan lebih dari lima orang, dan di antaranya ialah memakai topi dan seorang lainnya menggunakan kaos hitam.

Aparat kepolisian dari Polres Karawang kini berupaya mengungkap kasus itu melalui barang bukti rekaman CCTV. (red/*b8)

Polisi Masih Telusuri Hacker Situs Resmi Milik Polri

JAKARTA, M86 - Mabes Polri menyatakan masih memburu pelaku peretas situs resmi milik Polri www.polri.go.id.

Polri berjanji akan memperbaiki dan meningkatkan keamanan situs resmi Kepolisian. Polri sudah mendapatkan indikasi peretas situsnya.

Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam di Jakarta, Rabu (18/05) mengatakan, Polisi masih memburu siapa peretas situs resmi Kepolisian.

"Untuk pelakunya kita harus lakukan penyelidikan yang memerlukan waktu, karena kami punya tim cyber crime, jadi tugas mereka untuk menyelidiki, untuk mencari pelaku dan lain-lain," jelasnya.

Polri sendiri mengaku sudah mendapatkan indikasi peretas situsnya. Namun hingga saat ini belum dapat menyampaikan ke publik. "Belum bisa kami sampaikan sekarang tunggu saja nanti dari tim secara keseluruhan dari mana asal dan sebagainya," Anton.

Sementara itu Direktur II Ekonomi Khusus Bareskrim, Brigjen Pol Arief Sulistyo mengatakan, Mabes Polri membutuhkan waktu untuk mencari siapa pelaku hacker tersebut.

"Tidak gampang tangkap hacker," katanya.

Sebelumnya, halaman utama situs Polri tidak bisa diakses tanpa sebab. Sementara pada bagian tertentu masih 'hidup', hanya saja berisi konten berbau agama.

Selain menampilkan pesan teks bernuansa agama, di dalam situs itu juga menampilkan sebuah gambar dan video yang dihubungkan ke YouTube dengan pesan sejenis.

Belum jelas apa motif pelaku melakukan aksi ini. Pelaku pun tidak meninggalkan pesan untuk menyisakan rekam jejaknya, seperti yang biasa dilakukan para peretas ketika menyusup suatu situs. (jek/*jno)

Waspada Modus Baru Pembobolan ATM

JAKARTA, M86 - Polda Metro Jaya menangkap dua pelaku pembobolan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dengan modus baru. Pelaku melakukan pembobolan total sekitar Rp 206 juta.

Kepala Satuan Reserse Mobil Direktorat Kriminal Umum (Ditkrimum) Kompol Herry Heryawan mengatakan, polisi telah menangkap dua tersangka berinisial AS (27) dan AB (26). Polisi menangkap pelaku pada Minggu (15/5). "Kasusnya dalam pengembangan," katanya di Mapolda Metro Jaya, Rabu (18/5).

Menurut Herry, para tersangka membobol ATM dengan modus baru. ATM yang dibobol, yaitu ATM Bank BCA. Modusnya, pelaku mengambil uang di ATM dengan cara penarikan biasa. Namun ketika uang keluar, pelaku langsung mematikan mesin ATM dengan menekan tombol power ATM yang berada di atas mesin tersebut. Sebelumnya, pelaku terlebih dahulu merusak rangka dari mesin ATM itu.

Dengan mematikan ATM, kata Herry, saldo rekening pelaku tidak berkurang karena mesin tidak sempat memproses data penarikannya. Tindakan itu dilakukan berulang-ulang. "Pelaku bisa mengambil sekitar Rp 10 juta dalam setiap penarikan. Total yang diambil Rp 206 juta."

Herry menambahkan, pelaku melakukan pembobolan ATM sejak 10 Desember 2010. Pembobolan dilakukan di tujuh ATM di lokasi berbeda. Lima ATM BCA yang dibobol berada di Mangga Dua Mall, Carrefour Pabelan, Stasiun Gambir, Villa Mas Melati dan di Stasiun Banyumanik, dan dua sisanya di Solo.

Kedua tersangka, AB dan AS, merupakan mantan karyawan PT Armorindo. PT ini bergerak dalam jasa pengiriman dan pengisian uang ATM. "Oleh sebab itu, pelaku sudah mengetahui cara mengakali mesin ATM tersebut. Triknya sudah tahu," kata Herry. (red/*rep)
Related Posts with Thumbnails