Minggu, Januari 31, 2010

Pelajar Tewas Tenggelam di Kali Cakung Drain

JAKARTA, MP - Seorang bocah, yang diperkirakan masih berstatus pelajar sekolah dasar, ditemukan tewas mengambang di Kali Cakung Drain, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Minggu (31/1) sore.

Bocah yang belum diketahui identitasnya itu dievakusi oleh warga ke tepian setelah beberapa meter terbawa arus dan mengambang di Kali Cakung Drain. Melalui perahu eretan yang dimanfaatkan warga sebagai sarana penyeberangan, warga mengadang mayat bocah itu.

Warga pun dapat mengevakuasi jenazah boca itu ke tepi Jalan Inspeksi Kirana, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Saat ditemukan bocah itu mengenakan seragam sekolah. Di kaos seragam sekolah berwarna hijau itu tertulis SDN 17 Duren Sawit Jakarta Timur di bagian belakangnya. Sedangkan celana olah raga yang dikenakan berwarna biru.

Warga sekitar yang mengangkut jenazah bocah itu maupun warga yang berkerumun ingin melihat jenazah bocah itu mengaku tidak mengenal identitas pelajar itu.

Namun beberapa ibu yang datang ke lokasi terlihat kasak-kusuk mencari tahu dari dekat jenazah bocah yang tewas tenggelam itu. Bahkan warga yang tidak sempat melihat wajah bocah yang tewas tenggelam itu meminta kepada beberapa wartawan media elektronik untuk ditunjukkan wajah korban.

Dari beberapa itu yang melihat wajah bocah itu, tidak satu pun mengenalnya dan menyatakan bahwa bocah itu bukan salah satu anggota keluarganya. Warga sekitar menduga, dari arah asal mayat itu, diperkirakan terbawa arus dari arah Cakung, Jakarta Timur.

Salah seorang warga, Bambang (30), menuturkan jasad bocah itu diadang oleh warga setelah warga melihat korban terbawa arus dan mengambang di permukaan kali. "Jadi ada warga lain yang melihat mayat di kali dan memberi tahu warga lainnya agar mengadang di tengah kali,"

Suasana di Kali Cakung Drain saat ditemukan jenazah boca itu cukup deras. Untuk beberapa saat jenazah bocah yang diperkirakan berusia sebelas tahun itu dievakuasi di tepi Kali Cakung Drain atau di Jalan Inspeksi Kirana sampai petugas Polsektro Cilincing dan petugas mobil jenazah datang. Kemudian jenazah dibawa ke RSCM.

Sementara itu sesosok mayat laki-laki juga ditemukan di Kanal Banjir Timur (KBT) atau tepatnya di Jalan Tipar Cakung, RT 6/9, Cakung, Jakarta Timur, Minggu (31/1) pukul 16.00. Sesosok mayat lelaki mengenakan baju putih dan celana pendek merah ditemukan warga setempat yang bernama Imron (24).

Kala itu, Imron yang sedang bermain bola bersama teman-temannya di sekitar KBT hendak mengambil bola yang masuk ke KBT. Saat hendak mengambil bola, Imron melihat ada sesosok mayat mengambang di pinggiran KBT. Temuan ini menggegerkan warga dan dilaporkan ke Polsekto Cakung. Lalu oleh bantuan warga dan polisi, jenazah tadi diangkat dari pinggiran KBT. Namun sayangnya warga setempat tidak mengetahui identitas mayat tersebut. Namun diperkirakan umur jenazah itu sekitar belasan tahun.

Kedua mayat tadi di atas diduga adalah mayat dua siswa SDN 017 Pagi, Durensawit, Jakarta Timur.Keduanya adalah warga Malakasari, RT 4/1, Durensawit, Jakarta Timur. Namun kepastian akan hal itu belum bisa dipastikan karena sampai saat ini polisi masih melakukan penyelidikan. Kapolsektro Durensawit, Kompol Titik Setyowati menjelaskan bahwa, pada Minggu (31/1) pukul 15.00 ada sepasang suami istri yang datang hendak melapor anaknya yang hilang.

"Tetapi mereka belum sempat membuat laporan secara tertulis, karena langsung ke KBT Cakung untuk memastikan temuan jenazah di sana. Saya langsung perintahkan anggota ke sana untuk memastikan apakah mayat di KBT Cakung benar anaknya atau bukan. Sampai saat ini saya belum memperoleh laporan dari anggota saya," jelas Titik. Oleh karena itu Titik tidak mengetahui nama dan alamat pasangan suami istri itu serta identitas dua anak yang hilang tersebut. (cok)

Jumat, Januari 29, 2010

Menolak Berhubungan Intim, Istri Babak Belur Dihajar

LAMPUNG, MP– Menolak diajak berhubungan intim, seorang istri dihajar suaminya hingga babak belur memar di seluruh tubuh, kepala benjol dan kelopak mata membengkak. Tersangka Sudiono ,40, warga Desa Tamn Sari, Gedongtataan, Pesawaran, melakukan aksinya Rabu (27/01) lalu sekitar pukul 22.00 WIB.

Korban kekerasan dalam rumah tangga, Juati ,30, ditemani adik laki-lakinya langsung melakukan visum dan melapor ke Polsek Gedongtataan, Kamis (28/1) sore kemarin.
Menurut korban, suaminya malam itu pulang ke rumah entah dari mana. Pada saat mau tidur, Sudiono mengajaknya untuk berhubungan intim tapi ditolak karena sudah 1 minggu Sudiono tidak pernah lagi memberi uang belanja.

Rupanya penolakan Juati membuat harga diri Sudiono sebagai suami terhina sehingga di atas tempat tidur itu tubuh istrinya dihajar hingga babak belur ditampar lalu ditinju. Walaupun Juati minta ampun tapi seperti orang kesetanan Sudiono tidak mengampuni istrinya dengan tetap menghajar istrinya hingga terkulai lemah.

Kanitreskrim Polsek Gedongtataan, Aiptu Darwin mengatakan. Tersangka Sudiono diancam dengan UU RI No 23 tahun 2004 dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun. (red/*pk)

Enam Terpidana Mati Siap Dieksekusi

JAKARTA, MP – Kejaksaan Agung siap mengeksekusi mati Acin alias Gunawan Santosa yang menjadi otak pembunuhan bos Asaba, Budiarto Angsono, bersama lima terpidana mati narkoba dan perkara pembunuhan lainnya.

Menurut Kapuspenkum, Didiek Darmanto, eksekusi mati kepada enam terpidana mati tersebut, setelah semua proses hukum ditempuh. “Status hukum final terhadap Acin dan lima terpidana mati lainnya itu diperoleh tahun 2009,” katanya.

Dia menyebutkan lima terpidana mati lainnya, adalah Meirika Franola (terpidana narkoba di Tangerang), Bahar bin Matsar (pembunuhan di Tembilahan Riau), Jurit bin Abdullah dan Ibrahim bin Ujang (pembunuhan di Sekayu, Sumsel) dan Suryadi Shabuana (pembunuhan di Palembang).

Dia menjelaskan jumlah terpidana mati, 1 Desember 2009 terdapat 112 orang. Namun di tahun 2009 terdapat dua terpidana mati meninggal dunia, yakni Benged Siahaan di Lapas Cirebon karena sakit, 26 Mei 2009, dan Edith Yunita Sianturi di Lapas Wanita Tangerang, 6 April 2009, karena sakit. Lalu tiga terpidana mati diubah menjadi terpidana seumur hidup. (red/*pk)

Ayah Biadab, 3 Tahun Putri Kandung Budak Seks

MEDAN, MP – Biadab, sebutan ini layak disandang Bahari Nasution,42, yang tega memperkosa putri kandungnya sendiri, kata satu petugas. Malah, nafsu setan Bahari dilakukannya selama tiga tahun.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya warga Bukit Tujuh Pondok LC, Kecamatan Torgamba, Labuhan Batu Selatan ini, mendekam di sel tahanan Mapolres Labuhan Batu.
Informasi yang diterima, perbuatan tersangka dilakukan terhadap putrinya RM, yang tidak tamat SMP, berulangkali di beberapa lokasi berbeda yakni di rumah, pondok kosong dan di bawah pohon kelapa sawit.

Awal kejadian itu tahun 2007 hingga 2010. Korban RM,15, yang hanya mencicipi bangku sampai kelas 1 SMP itu awalnya diperkosa di rumah tersangka.

Setiap kali melakukan aksi bejat tersebut, korban selalu diancam. Terus diancam, korban pun hanya memilih diam. Ternyata, aksi “tutup mulut” yang dilakukan RM membuat Bahari semakin ketagihan mencicipi tubuh mungil putri kandungnya sendiri.

Setiap ada kesempatan, Bahari selalu menyalurkan nafsu birahinya. Tentu saja dengan kata-kata berbau ancaman. Lagi-lagi RM hanya bisa pasrah dan perbuatan bejat itu terjadi berulang-ulang tanpa diketahui orang lain, termasuk sanak keluarga.

Terungkapnya kasus ini, saat korban angkat kaki dari rumahnya karena tidak tahan lagi jadi budak nafsu sang ayah. Korban sempat bekerja sebagai pembantu di Rumah Makan Ampera di Cikampak. Mengetahui korban bekerja di rumah makan tersebut, tersangka berusaha menjemput RM untuk pulang ke rumah. Namun RM menolak ajakan tersangka.

Pemilik rumah makan merasa curiga karena tersangka berulangkali datang ke rumah makannya dan memaksa korban agar menceritakan yang sebenarnya. Tanpa malu-malu, RM pun menceritakan perbuatan bejat Bahari kepada majikannya.

Mendengar cerita korban, si majikan jadi merasa iba dan menghubungi tetangga dan satpam di perkebunan tempat tersangka tinggal. Mendapat laporan tersebut, warga dan satpam langsung mendatangi rumah tersangka dan meringkusnya.

Kanit Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (UPPA) Polres Labuhanbatu, Iptu Ariasda Ginting, membenarkan kasus perkosaan tersebut. Menurut dia, tersangka saat ini sedang menjalani pemeriksaan. Saat diperiksa, tersangka mengaku aksi perkosaan terhadap RM, karena silap dan tergiur dengan kemolekan tubuh putrinya.

“Saat kejadian, istrinya sedang sakit-sakitan dan sudah meninggal dunia. Tersangka melanggar UU Tentang perlindungan anak No 23 tahun 2002 dengan ancaman hukuman penjara 15 tahun penjara,” kata Ariasda Ginting. (red/*pk)

Mertua Dibakar Akhirnya Tewas

BEKASI, MP - Mertua yang dibakar menantunya akhirnya tewas setelah dirawat 9 jam di RSUD Bekasi, Jawa Barat, Kamis pagi.Waslah, 45, dibakar menantunya diduga karena pelaku kesal istrinya minggat setelah ribut.

Seperti diberitakan sebelumnya peristiwa tragis ini terjadi di rumah kontrakan Kampung Kaliabang Nangka, Kelurahan Perwirasari, Bekasi Utara, Kamis (28/1) dinihari.
Waslah,45, luka bakar sekujur tubuh dilarikan ke RSU Bekasi bersama suaminya yang juga menderita luka bakar Imam Mahmudin,53. Namun setelah dirawat 9 jam, Waslah yang menderita luka bakar sekitar 80 persen tubuhnyam akhirnya meninggal. Sementara Imam Mahmudin masih dalam perawatan.

Mengetahui istrinya meninggal, Iman sangat sedih dan mendesak petugas Polsek Bekasi Utara mencari Kusari alias Alex,40, mantu yang kurang ajar ini.”Saya berharap polisi meringkusnya dan menghukum seberat-beratnya,”kata Imam Mahmudin .

Menurut Imam, sekitar pukul 24.05 mantunya Alex datang ke rumahnya. Alex memang sudah setahun ini ribut terus dengan Ny Leli, istrinya yang anak pasangan Waslah dan Imam. Rabu siang, mantu dan anaknya ini ribut soal ekonomi. Lantas Leli minggat membawa anak semata wayang Janepi, (2).

Sorenya Alex kembali ke rumah mertuanya. Di sana tak mendapati sang istri dan anaknya. “Saya kira mantu tadinya mau nginap,” papar Imam.

Rupanya, ketika mertua sedang tidur, Alex masuk kamar menyiramkan bensin ke tubuh mertua perempuan Ny Waslah. Berkobarlah api di tubuh ibu empat anak ini. Ny Waslah berteriak kelojotan, sementara Imam melihat istrinya berkobar berusaha memadamkan dengan menyiramkan air. Namun api malah menyambar tubuh Imam. Warga berdatangan memadamkan kobaran.

Ny Waslah dan suaminya dilarikan ke rumah sakit akibat luka bakar. Kasur tempat tidur sang mertua ini habis terbakar. Sedangkan Alex yang kabur masih dikejar oleh petugas Polsek Bekasi Utara.(red/*pk)

Kamis, Januari 28, 2010

13 Penjudi Dibekuk dari Kompleks Perumahan Mewah

JAKARTA, MP - Mabes Polri berhasil mengamankan 35 orang yang diduga terkait kasus judi. Mereka ditangkap saat tengah melakukan permainan judi Pay Qiu di sebuah rumah di kawasan perumahan mewah.

"Telah terjadi perjudian jenis permainan Pay Qiu di Jl Jurumudi Kompleks Alam Raya Blok B, Tangerang, milik Lauw Yana Lia," ujar Kabareskrim Mabes Polri, Komjen Pol Ito Sumardi, ketika dihubungi wartawan, Kamis (28/1).

Dari 35 orang yang diamankan terdiri dari penyelenggara, pemain, cleaning
service dan penonton. 13 Di antaranya telah ditetapkan sebagai tersangka.

"7 Orang pelaku sebagai penyelenggara telah ditahan yaitu DMS, TN, NG SWNT,
BN, YG, MST dan AMN. 6 pelaku sebagai pemain tidak ditahan yaitu SDRM, AFDL, DJ, HDN, SPRM dan HRM," terang jenderal bintang tiga tersebut.

Menurut informasi di antara tersangka tersebut salah satunya merupakan oknum perwira menengah polri.

Ito menambahkan, omset dari judi tersebut mencapai Rp 1,2 juta perhari.
Kegiatan ini telah dilakukan sejak Oktober 2009.

Polisi yang melakukan penggerebekan pada Rabu 27 Januari kemarin berhasil
mengamankan sejumlah barang bukti. Antara lain 1 meja, 32 kartu domini, 15
belas dadu dan uang tunai Rp 18.464.000.

Polisi mengaku masih mengambangkan kasus ini. "Dua orang di DPO selaku bandar, atas nama ACG dan MNR," tandas Ito.(red/*dtc)

Berkas Pembelaan Antasari 500 Halaman

JAKARTA, MP - Mantan Ketua KPK Antasari Azhar akan membacakan pembelaan dalam sidang kasus pembunuhan Direktur PT PRB Nasrudin Zulkarnaen. Tidak tanggung-tanggung, berkas pembelaan yang akan disampaikan jumlahnya mencapai 500 halaman.

"Pembelaan yang akan kita sampaikan kira-kira 500 halaman," kata Pengacara Antasari, Ari Yusuf Amir, saat dihubungi lewat telepon.

Menurut Ari, pembelaan setebal 500 halaman itu adalah berkas yang akan disampaikan tim kuasa hukum. Antasari secara pribadi juga akan menyampaikan pembelaan. "Jumlahnya kira-kira 50 halaman," imbuhnya.

Jumlah halaman, lanjut Ari, bukanlah sebuah ukuran pembelaan. Namun ia menegaskan, semua tudingan jaksa akan terjawab seluruhnya lewat pembelaan tersebut.

Rencananya, sidang akan digelar pada pukul 09.00 WIB di PN Jaksel, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan. Keluarga Antasari dipastikan akan hadir, termasuk istrinya, Ida Laksmiwati.

"Keluarga akan datang. Kalau Ibu Ida sehat, beliau juga akan datang," lanjutnya.

Terkait adanya kabar aksi demonstrasi yang digelar oleh keluarga Nasrudin, Ari mengaku tidak khawatir. Sebab, antara Antasari dan keluarga Nasrudin ada keterkaitan secara psikologis sebagai korban.

"Kita nggak ada yang dikhawatirkan, karena kita sama-sama korban," tutupnya.

Antasari sebelumnya dituntut hukuman mati oleh jaksa. Mantan Kapolres Jaksel, Kombes Wiliardi Wizar dan pengusaha Sigid Haryo Wibisono juga dituntut hukuman yang sama. Hanya Jerry Hermawan Lo yang dituntut 15 tahun penjara. (red/*dtc)

Antasari akan Jawab Tudingan Pelecehan Seksual

JAKARTA, MP - Sidang pembunuhan Direktur PT PRB Nasrudin Zulkarnen dengan terdakwa Antasari Azhar mulai memasuki babak akhir dengan agenda pembacaan pledoi. Sejumlah bantahan atas tudingan jaksa telah disiapkan. Termasuk soal konspirasi pembunuhan dan tudingan pelecehan seksual pada istri Nasrudin, Rhani Juliani.

"Banyak fakta persidangan yang tidak utuh disampaikan dalam tuntutan JPU. Kita akan jawab semuanya," kata pengacara Antasari, Ari Yusuf Amir, lewat telepon.

Ari berjanji akan mengungkap semua hal yang berkaitan dengan konspirasi untuk menjatuhkan Antasari sebagai Ketua KPK. Hal ini penting untuk membantah asumsi jaksa.

Selain itu, tudingan pelecehan seksual terhadap Rhani yang begitu detil dijelaskan oleh jaksa, akan dijawab tuntas oleh Antasari dan kuasa hukumnya. Menurut Ari, apa yang disampaikan jaksa di berkas dakwaan dan tuntutan, seperti sidang kasus pemerkosaan, bukan kasus pembunuhan.

"Buktinya pun yang jelas tidak ada. Hanya berdasarkan keterangan Rhani," imbuhnya.

Meskipun ada rekaman pembicaraan antara Antasari dan Rhani, tidak ada dialog yang dapat membuktikan perbuatan tercela tersebut. Sejumlah kalimat yang ada dalam transkrip cenderung kabur.

"Di transkrip Rhani bilang 'jangan Pak, jangan Pak'. Tetapi dalam rekaman itu nggak terdengar ada kalimat itu. Artinya bertentangan," tutupnya.

Sidang rencananya akan digelar pada pukul 09.00 WIB di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jakarta Selatan. Antasari sebelumnya dituntut hukuman mati oleh jaksa. Mantan Kapolres Jaksel, Kombes Wiliardi Wizar dan pengusaha Sigid Haryo Wibisono juga dituntut hukuman yang sama. Hanya Jerry Hermawan Lo yang dituntut 15 tahun penjara. (red/*dtc)

Pick Up Tabrak Pohon Kelapa

JAKARTA, MP - Ini imbauan bagi Anda yang kelelahan saat mengemudi. Sebaiknya Anda menyisihkan sedikit waktu untuk beristirahat daripada mengalami kecelakaan.

Seperti yang baru saja terjadi, sebuah pick up bernomor polisi B 9141 CT sekitar pukul 04:30, Kamis (28/2) tadi mengalami kecelakaan. Diduga, lantaran sang sopir mengantuk, mobil yang dikemudikannya menabrak sebuah pohon kelapa di Jalan Lapangan Bola, Kebon Jeruk.

Seorang polisi yang berada di dekat lokasi melaporkan, korban mengalami luka serius. oleh petugas, ia langsung dilarikan ke rumah sakit Al Kamal Jakarta Barat.

Informasi yang dilansir situs TMC Ditlantas Polda Metro Jaya, kendaraan pick up tersebut sudah dievakuasi petugas, sementara korban masih dalam pemeriksaan tim medis. (red/*kcm)

Menantu Tega Bakar Mertua Hingga Gosong

BEKASI, MP - Huseri (45) tega membakar tubuh mertuanya, Wasla (45) hingga mengalami luka bakar cukup parah. Tubuhnya gosong dan terpaksa dilarikan ke Unit Gawat Darurat RSUD Kota Bekasi.

Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 00.15 WIB, Kamis (28/1) dini hari. Wasla disiram bensin dan langsung dibakar oleh menantunya tersebut saat sedang tertidur pulas.

Mengetahui istrinya terbakar, Imam (53) sang suami, berusaha menolong. Namun, karena api sudah membesar, Imam juga ikut terbakar dan mengalami luka bakar.

Akhirnya, dengan pertolongan warga sekitar, Wasla berhasil diselamatkan. Kondisi terakhir wanita yang sehari-hari berjualan sayur tersebut kini masih belum diketahui. Namun, 90 persen tubuhnya mengalami luka bakar.

Menurut cerita Imam, kejadian ini dipicu akibat kemarahan Huseri kepada istrinya, Nurleli. Pasangan suami-istri tersebut cekcok, hingga membuat Nurleli kabur ke rumah orangtuanya.

"Sebulan terakhir, mereka sering cekcok. Akhirnya Leli pulang ke rumah. Tapi pas dicari sama Imam, Leli nggak ada di rumah. Saya juga nggak tahu di mana dia sekarang," tutur Imam pada wartawan di kediamannya, di Kampung Nangka, Kelurahan Perwira, Bekasi Utara.

Imam menduga, gara-gara tidak bisa menemukan Nurleli, Huseri pun naik pitam dan kemudian melampiaskannya pada Wasla. "Sampai dia akhirnya membakar istri saya," lanjutnya.

Saat ini pihak kepolisian Metro Bekasi masih terus melakukan penyelidikan. Pelaku pembakaran, Huseri masih dalam pengejaran. Belum ada keterangan resmi dari aparat. Rencananya, Wasla akan dipindahkan ke RSCM. (red/*dtc)

Dirikan Posko, Karyawan Berkot Tuntut Penjelasan Pemilik

JAKARTA, MP - Semenjak dibeli oleh manajemen Warta Kota, ratusan pegawai harian Berita Kota (Berkot) mengalami pemutusan kerja. Oleh karenanya, para mantan pekerja Berita Kota akan membuka Posko Krekot, Pasar Baru, Jakarta Pusat, untuk meminta penjelasan kepada pemilik Berita Kota Rudi Santoso.

"Nanti kita di situ akan membuka posko untuk teman-teman Berita Kota karena nasib kita sudah tidak jelas," ujar salah salah satu pegawai Berita Kota yang diberhentikan, Edison Siahaan di Jakarta.

Edison juga mengaku prihatin melihat ratusan teman-temanya yang tidak mempunyai kejelasan atas nasib mereka setelah mengalami pemecatan sepihak dari Berita Kota.

"Saya sangat sedih karena melihat kondisi ini. Banyak teman-teman yang menggantungkan hidupnya di Berita Kota," tuturnya.

Di posko ini nantinya, ratusan karyawan Berita Kota akan membahas langkah ke depan yang akan di tempuh oleh para mantan karyawan dengan kuasa hukum mereka.

"Kita seperti orang tidak punya harga diri. Rudi Santoso tidak pernah mengatakan rencana penjualannya. Bahkan Rudi pernah membantah penjualan tersebut," jelasnya.

Edison menceritakan, pada Senin (25/1) lalu, dirinya pernah menanyakan isu penjualan Berita Kota kepada Rudi Santoso. Namun saat itu, Rudi membantah isu penjualan tersebut.

"Namun tiba-tiba pada Rabu (27/1) pagi, dia mengatakan Berita Kota dijual. Kami tidak tahu sampai kapan akan menentukan sikap kami. Ini seperti tsunami yang datang tiba tiba," pungkasnya. (red/*dtc)

26 Nasabah Bank Lapor Kebobolan ke Polda Metro

JAKARTA, MP - Nasabah korban pembobolan rekening bank diperkirakan mencabai ratusan ribu orang. 26 Korban sudah melapor ke di wilayah Polda Metro Jaya. "Sudah ada 26 orang yang melaporkan, kemarin 14 orang, dan bertambah menjadi 12 orang," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Boy Rafli Amar saat dihubungi wartawan.

Menurut Boy, para pelapor mengadukan kurangnya uang tabungan di rekening mereka. Lebih jauh Boy mengatakan, polisi akan segera memanggil pihak bank terkait.

"Itu otomatis akan dilakukan. Tapi teknisnya biarkan penyidik yang akan melakukan," terang Boy.

Boy menambahkan, polisi berharap pihak bank dapat bekerjasama dalam mengatasi kasus ini. Bank pun harus mau merespon keluhan yang disampaikan para nasabahnya.

"Pihak perbankan dihimbau untuk tetap reponsif terhadap keluhan nasabah. Hak-hak yang harus dipenuhi terkait informasi wajib diberikan," pungkasnya.(red/*dtc)

Rabu, Januari 27, 2010

Dua Pembobol Kartu Kredit Ditangkap

JAKARTA, MP - Kepolisian Metro Jakarta Barat berhasil menangkap pelaku pencuri data kartu kredit dan penjual kartu kredit palsu. Dua pelaku yang berhasil ditangkap bernama Empih Rasita (26) dan Wang Zhen alias Franky (27). Kedua pelaku saat ini tengah ditahan di Polres Jakbar. Kedua pelaku kejahatan ini memanfaatkan skimmer (alat perekam data kartu magnetik), untuk mencuri data kartu kredit milik korban-korban mereka.

Terbongkarnya kasus ini berawal dari laporan dua korban bernama Ngoh Inn Seng dan Irwan Tanuwijaya. Mereka adalah nasabah Citibank. Kedua korban melapor ke polisi karena menemukan kejanggalan pada transaksi kartu kredit mereka.
Kartu kredit korban digunakan di luar negeri seperti di Kanada, Australia, dan Yunani. Padahal, korban tidak pernah ke negara tersebut. "Total transaksi yang dilakukan di ketiga negara tersebut diperkirakan sebesar Rp 30 juta," ujar Suyudi Ario Seto, Kasat Reskrim Polres Metro Jakbar, di Polres Jakarta Barat, Rabu, (27/1) sore.

Suyudi menjelaskan, penyelidikan yang dilakukan polisi bekerja sama dengan Pihak Citibank melalui AKKI (Asosiasi Kartu Kredit Indonesia) menemukan kedua kartu kredit itu terakhir dipakai di Restoran Seafood di Jalan Hayam Wuruk, Tamansari, Jakarta Barat.

Polisi pun langsung bergerak ke lokasi dan manangkap seorang karyawan restoran bernama Empih Rasita. Empih yang bekerja sebagai pelayan (waiter) tersebut akhirnya mengaku kepada polisi bahwa ia melakukan pencurian data pemilik kartu kredit menggunakan skimmer dan menyerahkan data tersebut kepada Franky alias Wang Zhen seorang warga China. "Dari Empih disita sebuah hand skimmer dan uang sebesar Rp 200 ribu," jelas Suyudi.

Berdasarkan keterangan Empih, polisi kemudian menangkap Wang Zhen alias Franky di Apartemen Mitra Bahari Jl Paking No 1, Penjaringan Jakarta Utara, yang sudah setahun membeli data hasil curian Empih. Di kediaman warga asal Fujian, China ini, polisi juga menemukan satu unit hand skimmer serupa serta beberapa kartu identitas palsu terdiri atas 3 KTP, SIM A dan C serta kartu NPWP seluruhnya atas nama Franky. Selain itu, di dalam laptopnya terdapat sejumlah foto kartu kredit berbagai bank yang diduga telah dipalsukan. "Sedikitnya terdapat 20 foto kartu kredit palsu dari laptop tersangka," tutur Suyudi.

Dari situ polisi yakin korban Wang Zhen tidak hanya dua orang dalam melakukan kejahatan tetapi lebih dari itu. Menurut pengakuan Empih, ia mendapat upah Rp 30 ribu untuk setiap data kartu kredit gold dan platinum Citibank. Sementara untuk data dari kartu kredit BCA, CIMB Niaga, Standar Charter, Mandiri dan BNI 46, ia mendapat upah Rp 100 ribu per kartu. "Sejak September 2009 saya baru sembilan kali mengambil data pelanggan restoran," ujar pria asal Cirebon ini.

Selama menjalankan aksinya, atasan maupun rekan-rekannya tidak pernah curiga karena aksinya tak pernah terlihat. Hand Skimmer yang digunakan untuk mencuri data tersebut memang relatif mudah disembunyikan, bisa dengan mudah ditaruh di kantong baju atau celana. Ukurannya hanya sekitar 8cm x 4cm, lebih mungil dari sebuah charger telepon seluler. Menurut Suyudi, hand skimmer seperti itu dapat ditemukan dengan mudah karena dijual bebas di pasaran. "Fungsi aslinya adalah untuk scan/ memindai kartu absen di kantor-kantor," ucapnya.

Untuk itu Suyudi mengatakan, pihaknya akan mengawasi dan memantau peredaran skimmer tersebut di Jakarta. "Mungkin akan dibuat tim khusus untuk itu," katanya. Untuk kasus ini, ia mencurigai pelakunya merupakan sindikat internasional karena melibatkan warga China dan digunakan di berbagai negara.

"Kami curiga Wang Zhen hanyalah makelar data hasil curian Empih dan mentransfer data tersebut ke pihak lain serta bukan dia yang membuat kartu kredit palsu itu," ungkap Suyudi. Wang Zhen dan Empih dijerat pasal 363 KUHP mengenai pencurian berat dan 263 mengenai pemalsuan. Mereka terancam hukuman di atas 5 tahun penjara.

Dodi Iskandar, Perwakilan dari AKKI yang menjadi saksi ahli dalam kasus ini memberikan tips kepada pemilik kartu kredit untuk selalu waspada. "Jangan pernah sedetik pun melepaskan pandangan mata dari kartu kredit saat melakukan transaksi," pesannya. Ia mengatakan pengawasan seperti itu sangat diperlukan karena pelaku pencurian data menggunakan hand skimmer ini sangat lihai dalam melakukan aksinya.

Sementara kepada pihak penjual barang atau penerima uang dalam transaksi, ia meminta untuk memperhatikan hologram dan nomor kartu kredit untuk membedakan kartu kredit asli dan palsu. "Sebaiknya miliki contoh gambar kartu kredit keluaran bank agar dapat membedakannya dengan yang palsu," pungkasnya. (red/*bj)

Asyik Main HP, Karyawati Ancol Tewas Disambar Kereta

JAKARTA, MP - Nasib naas menimpa Ida Farida (20). Karyawati pada salah satu stand makanan di Taman Impian Jaya Ancol tewas setelah tersambar kereta listrik Benteng Ekspres jurusan Kota-Rangkasbitung saat korban melintas di perlintasan rel kereta api Kampung Bandan RT 12/2, Pademangan, Jakarta Utara, Rabu (27/1) sore. Korban yang saat itu sedang asyik mendengarkan lagu dari handphone-nya dengan headset sepertinya tidak mendengar adanya kereta yang melintas.

Informasi yang berhasil dihimpun menyebutkan, sebelum kejadian, korban yang merupakan warga Kampung Bandan RT 12/2, Pademangan, Jakarta Utara terlihat berjalan menuju WTC Manggadua. Namun, saat melintasi perlintasan rel kerata api, korban sepertinya tidak mendengar laju kereta KRL Benteng Ekspres dari arah Kota menuju Tanjungpriok.

“Warga sudah berteriak, tapi korban tetap tidak mendengar. Akhirnya, korban pun disambar KRL yang datang dari arah Kota,” ujar Kholik (25), salah seorang saksi mata yang juga warga setempat. Akibatnya, sambung Kholik, tubuh korban sempat terpental sejauh lima meter dengan kondisi tubuh mengenaskan. Kepala korban terlihat pecah, selain itu, kedua kaki dan tangan korban pun tampak putus. Jenazah korban akhirnya dibawa ke RSCM untuk diotopsi.

Keluarga korban yang tiba di lokasi kejadian, sempat menangis histeris saat melihat jenazah Ida. Ibu korban pun terlihat pingsan saat mengetahui jenazah putrinya sudah tidak bernyawa lagi. Umar (23), salah seorang kerabat korban mengungkapkan, sebelum kejadian, korban hendak pergi ke WTC Manggadua. “Kebetulan hari ini dia libur kerja menjaga stand makanan di Ancol. Tapi naas, ia tewas ditabrak kereta,” sesal Umar.

Kanit Reskrim Polsek Pademangan, Iptu Agus Widjajanto, mengatakan, korban ditemukan tewas mengenaskan setelah ditabrak KRL Benteng Ekspres tujuan Kota-Rangkasbitung.

“Tidak ada unsur kriminal hanya kecelakaan biasa. Berdasarkan informasi saat itu warga sudah berteriak memperingati korban, namun tidak didengar karena korban sedang asyik mendengar lagu dari handphone-nya,” tandasnya. (red/*bj)

Selasa, Januari 26, 2010

Korban Pembobolan ATM Kembali Lapor Polisi

JAKARTA, MP - Banyaknya warga yang mengaku kehilangan uang di ATM belakangan ini, memotivasi banyak orang yang menjadi korban pembobolan mulai berani melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian. Kali ini yang menjadi korban aksi pembobolan uang dalam ATM itu adalah Sudarti (50), warga Kebon Kosong VIII 47 A, RT 011/02, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Wanita paruh bayu itu melaporkan kasus pencurian uang sebesar Rp 6 juta dari ATM BRI miliknya ke Polres Jakarta Pusat, Selasa (26/1). Dirinya mengaku telah kehilangan uang saat akan menarik uang pada tanggal 19 Agustus 2009 lalu. “Saat itu saya mau mengambil uang saya sebesar Rp 6 juta rupiah. Rencananya untuk dipakai keperluan menjelang bulan puasa," ujar Sudarti.

Saat itu, Sudarti mengaku langsung ke bank untuk minta konfirmasi, namun karena tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dirinya mencoba mengikhlaskan uang tabungannya tersebut. Terlebih, saat itu pihak bank justru mengatakan rekeningnya telah kosong sejak beberapa bulan lalu.

Namun menyeruaknya kasus pembobolan uang yang ramai belakangan ini membuat dirinya akhirnya mencoba memberanikan diri melaporkan kejadian itu ke Polres Jakarta Pusat. “Saya melaporkan bukan berharap uang kembali, tapi agar pelakunya dapat ditangkap dan diberi hukuman,” tegasnya.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Suwondo Nainggolan, menyarankan Sudarti agar melapor ke Polda Metro Jaya. "Untuk kasus ini sebaiknya melapor ke Polda, karena sudah ada bagian khusus yang menangani" sarannya.

Tapi, Sudarti tidak mau melakukannya karena lokasi Polda yang cukup jauh, sedangkan ia sendiri banyak kesibukan. Akhirnya untuk melanjutkan laporan ini Suwondo memerintahkan petugas Sentra Pelayanan Kepolisiaan (SPK) Jakpus menerima laporan Sudarti untuk kemudian dilimpahkan ke Polda Metro Jaya. (red/*bj)

Polisi Kesulitan Cari Jenazah Korban Babe

JAKARTA, MP - Penyidik dari kepolisian kesulitan mencari jejak jenazah korban mutilasi yang dilakukan oleh Baekuni alias Babe (49) karena pelaku pembunuh 8 bocah itu sulit mengingat tempat korbannya dikuburkan.

"Kondisi di lapangan kesulitan dalam pencarian jejak jenasah (korban)," kata Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Boy Rafli Amar, di Jakarta Selatan, Senin.

Boy mengatakan, Polda Metro Jaya bersama tim Pusat Laboratorium Forensi (Puslabfor) Polda Jawa Tengah berusaha keras untuk mencari jejak jenazah korban mutilasi oleh Babe di dua lokasi, yakni Purworejo dan Magelang.

Penyidik menemui hambatan karena tersangka membutuhkan waktu untuk mengingat kembali lokasi para korban dikuburkan.

Penyidik mencari jejak jenazah korban mutilasi untuk mencari fakta di tempat kejadian perkara (TKP) yang akan dijadikan penguatan alat bukti.

"Itu yang dilakukan (penyidik) selama tiga hari di luar wilayah," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya.

Selain di Magelang dan Purworejo, penyidik juga membawa Babe ke Kuningan, Jawa Barat, guna mencari alat bukti terkait korban bernama Aris dan Teguh.

Boy menjelaskan, penyidik akan menjalani tes Deoxyribonucleic acid (DNA) terhadap jenazah Ardi dan Teguh melalui pembandingnya dari keluarga yang mengaku orang tuanya untuk memastikan identitas korban.

Ia mengungkapkan, penyidik tidak bisa memaksakan Babe untuk mencari korbannya dalam waktu singkat karena tersangka butuh ketenangan agar hasil penyelidikan berkualitas.

Polda Metro Jaya menangkap pelaku sodomi dan mutilasi, Baekuni alias Babe menyusul ditemukannya potongan tubuh Ardiansyah (10) di kawasan Banjir Kanal Timur (BKT), Cakung, Jakarta Timur.

Hingga saat ini, Babe mengaku sudah mensodomi dan memutilasi terhadap delapan anak, yakni Aris (tahun 1998), Irawan Imran (1999), Teguh, Ardi (2004), Riki, Yusuf Maulana, Adi (2007), Rio (2008), Arif (2009) dan Ardiansyah (2010). (red/*ant)

Senin, Januari 25, 2010

Keluarga Korban Perkosaan Protes Terdakwa Hanya Divonis 4 Tahun

BEKASI, MP - Tidak terima dengan putusan hakim yang menghukum terdakwa perkosaan ringan, keluarga korban teriak-teriak di ruang sidang PN Bekasi. Selain itu mereka juga mengejar terdakwa hingga ke ruang tahanan Kejari Bekasi, Senin sore.

Pertahi Banurea, 28, alias Kiki, terhukum yang oleh Ny Kasufi Esti, Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebelumnya dituntut 10 tahun 6 bulan, karena telah melanggar pasal 285 perkosaan yang ancaman hukumannya maksimal 12 tahun penjara.

Dalam sidang yang dimpimpin Majelis Hakim pimpinan Jhon Pieter, semua bukti dan keterangan saksi di persidangan menjelaskan kalau terdakwa pada 13 Agustus 2009, sekitar pukul 22:00, telah secara sah memperkosa Wiwi Widianingsih, 26, karyawati swasta saat berada korban sendiri di rumah kontrakannya di Jl Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi.

Hakim juga menyimpulkan kalau terdakwa terbukti secara sah, setelah memeriksa keterangan saksi, dan bukti visum serta sprei bernoda darah. ”Terdakwa dinyatakan bersalah, dijatuhi dihukum 4 tahun penjara,” ujar Jhon Pieter.

Mendengar putusan itu Wiwi Widianingsih, sontak berteriak dan menilai persidangan tidak adil. “Saya menderita seumur hidup, karena kejadian itu tetapi terdakwa hanya dihukum 4 tahun. Mana pertimbangan hakim dengan tuntutan jaksa yang minta terdakwa dihukum 10 tahun 6 bulan,” ujarnya sambil berteriak di ruang sidang.

Mendengar teriakan itu Jhon Pieter , berujar. ”Ibu tenang. Putusan ini saya dapat mempertanggungjawabkan,” ujarnya.

Tidak senang dengan penjelasan itu, keluarga korban segera mengejar terdakwa yang saat itu dikawal oleh petugas keamanan ke Rutan Kejari Bekasi. ”Saya akan laporkan ke komisi yudisial, karena putusan itu aneh,” ujar Aris, kakak korban saat dihubungi Pos Kota.

Anehnya terhadap keputusan hakim itu, terdakwa banding. “Sudah dihukum ringan, tapi masih banding,” sesal Aris, yang mengaku pihaknya segera melayangkan surat itu. (red/*pk)

Dilarang Nonton Bokep, Suami Pukul Istri

JAKARTA, MP – Istri yang mengandung biasanya disayang suaminya. Namun, wanita ini justru sebaliknya. Ia mendapat perlakuan tidak manusiawi dengan dianiaya bapak dari cabang bayi yang dikandung.

Tak terima dengan perlakuan itu, Ade (41), datang ke Polres Metro Jakbar dengan bibir jontor, Senin (25/1) sore. Wanita 41 tahun itu melaporkan ulah IA (44), suaminya. Kepada polisi, Ade menjelaskan bahwa suaminya itu hobi nonton film porno alias bokep.

“Saya nggak terima. Suami saya harus diberi pelajaran, dicerai pun saya siap,” ujar wanita asal Magelang, Jateng, ini berlinangan air mata.

Wanita ini menikah dengan IA setelah memiliki tiga anak dari suaminya terdahulu. Setelah bercerai, ketiga anaknya itu dibawa mantan suami.

Setahun lalu, Ade menikah dengan IA yang berstatus duda tanpa anak. “Niatnya menikah memang untuk memiliki anak,” kata wanita yang tengah hamil tiga bulan ini. “Ternyata setelah ia menjadi calon bapak, bukan perhatian pada bayinya eh..saya malah dianiaya.”

Menurutnya, penganiayaan dialaminya di rumahnya di Kelapa Dua, Kebon Jeruk. Ia mengaku kesal dengan ulah suami yang setiap malam tak pernah tidur karena menonton film porno.

Ade menilai suaminya aneh. Soalnya, pria yang bertugas di bagian akuntan sebuah perusahaan pajak itu selalu telat pergi kerja. Selain itu, begadang juga membuat IA jadi sakit-sakitan. Namun, ketika Ade menegur agar tak terus menerus begadang, suaminya justru marah. “Saya sakit hati. Ia memukul mulut saya dengan remote DVD,” ujarnya.

“Saya ke polisi supaya ia tahu tindakannya itu salah dan ia harus membayar kesalahannya.” (red/*pk)

Lima Menit Rp 30 Juta Raib di Bank Mandiri

JAKARTA, MP - Pembobolan tabungan semakin merebak di berbagai tempat termasuk Jakarta. Limbong, 53 tahun, pegawai Perusahaan Listrik Negara (PLN) cabang Medan, Sumatera Utara, mengaku tabungannya di Bank Mandiri dibobol Rp 30 juta.

"Kejadiannya semalam, cuma lima menit hilang Rp 30 juta," ungkapnya seusai melapor di Sentra Pelayanan Kepolisian Daerah Metro Jaya, Senin (25/1).

Limbong bersama rekannya Zulkifli merupakan nasabah Bank Mandiri cabang Medan. Keduanya tiba di Jakarta, Minggu (24/1), untuk mengikuti pendidikan dan latihan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Namun sekitar pukul 22.00 Wib, ia mendapat pemberitahuan dari layanan SMS banking Bank Mandiri bahwa telah terjadi penarikan uang dalam jumlah besar. "Dari SMS ada penarikan Rp 1 juta, Rp 500 ribu, berkali-kali. Saya langsung telepon Mandiri agar rekening saya diblokir," tambahnya.

Total jumlah pembobolan berkisar Rp 30 hingga Rp 35 juta. "Tidak tahu di mana ditariknya karena hanya dari SMS," kata Limbong.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar mengatakan, pihaknya segera memproses laporan pembobolan yang diterima. "Semua akan kami proses, ini butuh waktu," ujarnya.

Sementara itu pengaduan nasabah BCA asal Cipayung, Mariani, yang melapor pekan lalu sudah memasuki pemeriksaan saksi. "Sudah dipanggil dua orang saksi," kata Boy. (red/*tif)

Toko Emas di Bekasi Dirampok

BEKASI, MP - Kawanan perampok menggasak sepuluh kilogram emas dan uang tunai Rp 20 juta dari toko emas milik Li Songko, 35 tahun, di pasar Pamor, Kampung Selangcawu RT 01/ RW 01, Kelurahan Wanasari, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi, Senin (25/1) siang. Pelaku diperkirakan lebih dari sepuluh orang, semuanya memakai senjata api untuk melumpuhkan korbannya.

Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi Kabupaten Komisaris Besar Herry Wibowo, mengatakan pelaku datang mengendarai sepeda motor. Empat orang di antaranya masuk ke dalam toko emas, empat orang menyebar di samping kiri kanan toko, dan yang lainnya siaga di atas sepeda motor. "Mereka profesional, sudah lebih dulu menggambar lokasi yang hendak dirampok," kata Herry kepada Tempo.

Empat pelaku yang masuk langsung memuntahkan tima panas ke atas langit-langit toko, sembari mengancam akan menembak Li dan enam orang karyawannya jika melawan. Mereka kemudian leluasa mengambil perhiasan emas berupa cincin, kalung, dan gelang dari etalase. Kemudian membuka paksa brankas dari besi baja, di dalamnya ada dua emas batangan dan uang tunai Rp 20 juta.

Menurut Herry, kawanan perampok itu bekerja sangat cepat. Tidak sampai 10 menit, mereka kabur memakai sepeda motor ke arah Cikarang-Bekasi-Laut.

Tim identifikasi Polres Metropolitan Kabupaten Bekasi di lokasi kejadian menemukan sidik jari dan sketsa sejumlah pelaku. Mereka, kata Herry, merupakan sindikat tindak kejahatan yang berasal dari luar wilayah Bekasi. "Sketsa wajah mereka sudah kami gambar dan sangat cocok dengan keterangan korban dan sejumlah saksi mata di lokasi kejadian," katanya.

Penggunaan senjata api, Herry melanjutkan, bisa mereka dapatkan dengan cara membeli secara ilegal, atau merampas milik anggota TNI/Polri. Sebab di beberapa wilayah banyak aparat hukum kehilangan senjata api. "Kami sudah mengerahkan anggota memburu para pelaku."

Salah seorang saksi mata Sugianto, mengatakan kawanan perampok sebagian menunjukkan wajahnya dan sebagian lagi memakai helm. Salah seorang di antaranya, sempat menodongkan pistol kepadanya meminta tidak turut campur. "Saya diancam mau ditembak kalau menghalang-halangi," kata dia. Sugianto adalah pedagang handphone persis di samping toko emas itu. (red/*tif)

Edan Bapak Perkosa Anak Kandung Dua Kali

JAKARTA, MP – Sableng dan edan demikian yang pantas disandang W (41), warga Pademangan Timur, Jakarta Utara, yang tega memperkosa anak kandungnya sendiri. Sebut saja korban bernama Bunga berusia 14 tahun merupakan siswi kelas 2 SMP.

"Korban mengaku baru dua kali diperkosa oleh ayahnya," kata Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Pademangan, Inspektur Dua Agus Widjajanto, Senin (25/1).

Kini korban diduga hamil lima bulan hasil dari perbuatan biadab ayahnya itu. Pelaku yang berprofesi sebagai sopir bajaj ini melakukan aksi bejat itu di dapur rumahnya. Bahkan W juga mengancam putrinya agar tidak mengadu kepada siapapun. "Pelaku memperkosa korban saat istrinya sedang tidur atau keluar," kata Agus.

Kasus ini terbongkar karena korban mengeluh kepada kakaknya yang berusia 18 tahun bahwa ia tidak kunjung datang bulan. "Namun tidak pernah mengaku siapa yang menghamili," kata kakak korban. Akhirnya aksi bejat ini diketahui menantu tersangka. Saat itu, tersangka sedang memperkosa putrinya.

Menurut ibu korban, 45 tahun, sebenarnya ia sudah tahu kejadian ini sejak Oktober 2009. "Kami tak melapor karena ini adalah aib keluarga," kata ibu korban.

Namun, menantu tersangka akhirnya melaporkan tersangka ke polisi hari ini (25/1). Tersangka pun ditangkap polisi dan kini sedang menjalani pemeriksaan di Kepolisian Resor Jakarta Utara. (cok)

Brankas Kantor Asuransi Dibobol, Rp 26 Juta Amblas

JAKARTA, MP - Brankas milik PT Mitra Dana Atmareksa Jalan Penganten Ali, Ciracas, Jakarta Timur, dibobol maling pada Senin (25/1). Uang tunai Rp 26 juta dibawa kabur maling yang diduga lebih dari satu orang itu.

"Brangkasnya dibuka paksa dengan dicongkel," kata Kepala Polsek Ciracas Komisaris Dani Hamdani kepada wartawan di ruangannya. Pelaku hanya meninggalkan surat-surat perusahaan asuransi itu. Sementara semua uang tunai dibawa pelaku.

Peristiwa ini pertama kali diketahui oleh satpam yang datang pagi tadi. Lokasi brangkas, berada di dalam gedung yang terkunci. "Mereka masuk lewat jendela yang berjeruji," kata Dani. Jeruji itu juga dirusak pelaku.

Sebelum masuk ke dalam kantor, pelaku melompati pagar beton setinggi tiga meter, dengan memanfaatkan pohon. Tidak ada orang dalam yang dicurigai dalam peristiwa ini. "Pelaku tidak langsung masuk ke ruangan yang ada brankasnya," kata Dani. (cok)

Minggu, Januari 24, 2010

Dihipnotis, Seorang Perempuan Kehilangan Rp 200 Juta

JAKARTA, MP - Dengan berpura-pura ingin menukarkan uang dolar Brazilia, kawanan penjahat berhasil memperdaya seorang perempuan, di Jakarta. Peristiwa itu terjadi, Minggu (24/1) sekitar pukul 14.30. Namun, tiga orang dari kawanan penjahat berhasil dibekuk anggota Polsek Kelapa Gading dan masyarakat, tidak jauh dari lokasi kejadian. Kini polisi masih mengejar satu atau dua orang penjahat lagi yang berhasil kabur.

Wiwik Sulistiani (43), warga Jembatan Besi, Jakarta Barat, tidak menyangka dirinya akan mengalami kerugian lebih dari Rp 200 juta. Dia dihipnotis oleh beberapa orang laki-laki yang mengaku sebagai Warga Negara Singapura yang sedang mencari mata uang rupiah. Dalam pertemuan itu, sebagian pelaku beraksen Bahasa Indonesia dengan aksen Melayu, sehingga membuat korban percaya.

Awalnya Wiwik menerima sebuah pesan pendek di telepon genggamnya untuk berkenalan di Jembatan Besi. Di pesan pendek itu sudah dijelaskan ada orang yang ingin menukarkan uang dolar dengan rupiah. Seperti kerbau dicucuk hidungnya, Wiwik pun mau berkenalan sambil membawa uang Rp 40 juta dari rumah untuk diserahkan kepada orang yang baru dikenalnya itu.

Setelah bertemu, Wiwik diajak naik ke mobil Toyota Avanza yang dibawa pelaku berwarna abu-abu tua metalik bernomor polisi B-1104-UFR. Mereka lalu mengambil uang di Bank Bukopin Roxy sekitar Rp 190 juta. Setelah itu mereka berkeliling hingga ke kawasan Kelapa Gading.

Sesampainya di sebuah toko buah, di Jalan Kelapa Nias, Wiwik diminta turun untuk membeli buah. Saat turun itulah, Wiwik ditendang oleh seorang pelaku, dan kemudian pelaku kabur. Rupanya, setelah ditendang, Wiwik menjadi sadar, dan berteriak minta tolong. “Saya ditipu, saya ditipu,” kata Kapolsek Kelapa Gading Komisaris Marudut L Panjaitan.

Mendengar ada orang minta tolong, warga sekitar pun bereaksi. Pada saat yang sama, ada mobil patroli yang melintas. Para penjahat itupun dikejar. Mereka tidak bisa berkutik ketika mobil mereka terkena lampu merah. Tiga orang pelaku berhasil ditangkap. Namun masih ada pelaku yang melarikan diri dengan membawa koper berisi uang.
Ketiga pelaku itu adalah Suwardi, Yahya, dan Hengki. Mereka langsung digelandang ke Polsek Metro Kelapa Gading. Dalam pemeriksaan polisi, mereka mengaku telah melaku penipuan dengan hipnotis sebanyak 10 kali dalam waktu seminggu terakhir. Pada penipuan yang kesebelas, mereka tertangkap.

Dalam aksinya selama seminggu itu, Suwardi mengaku beraksi di Bogor dengan hasil tipuan Rp 5 juta, di Kota Rp 10 juta, di Kemang Rp 3 juta, di Tangerang Rp 15 juta, di Kalideres Rp 20 juta, Warakas Rp 6 juta, Cilincing Rp 10 juta, Cibinong Rp 10 juta, Jalan Kramat Raya Rp 8 juta, dan Kelapa Gading Rp 21 juta.

“Kami berharap, agar warga masyarakat yang merasa menjadi korban penipuan hipnotis ini di ke-10 tempat itu, bisa datang ke Polsek Kelapa Gading untuk mengenali pelaku,” imbau Kapolsek.

Kapolsek yakin, kejahatan dengan hipnotis ini dilakukan oleh sindikat. “Kami masih mengejar pelaku yang melarikan diri. Namun kami sudah mengantongi identitas mereka,” tegas Panjaitan.

Barang bukti yang disita adalah satu unit mobil Avanza, beberapa buah telepon genggam, beberapa slip setoran BCA, dan uang Rp 40 juta yang tidak berhasil dibawa lari pelaku. (cok)

Sadis, Anak Bunuh Bapak Kandung

JAKARTA, MP - Seorang bapak dibunuh anak kandungnya. Peristiwa yang menggemparkan ini terjadi di Jalan Kamal Muara, RT 12 RW 01 Kamal Muara, Penjaringan, Jakarta Utara. Korban bernama Djow How Lim,75, sementara anaknya yang menjadi tersangka, Djow Tjen Lung,44, kini dijebloskan ke tahanan Polsek Penjaringan untuk pemeriksaan lebih lengkap.

Menurut saksi, Yatin, korban sering dipukuli tersangka. Kali ini lebih parah, leher dicekik, hidung mengeluarkan darah. Korban dulunya montir AC rumah, kulkas. Sementara rumah korban sekaligus bengkel AC.

"Namun, pelaku yang bernama Djow Tjan Liong (44 tahun) ini diduga menderita gangguan jiwa," kata Kepala Kepolisian Sektor Metro Penjaringan Ajun Komisaris Polisi N. Sihaloho, saat dihubungi wartawan, Minggu (24/1).

Peristiwa penganiayaan hingga meninggal ini, dilakukan anaknya saat Tolim sedang tidur di kamar. "Korban tewas akibat kepalanya diinjak-injak, dan sempat dibekap pakai kaki," ujarnya.

Untungnya, ia melanjutkan, warga sekitar mendengar kegaduhan dan teriakan saat penganiayaan berlangsung. Hanya, warga tidak sempat berbuat banyak untuk menyelamatkan korban. "Warga langsung mengamankan pelaku, dan segera melapor ke polisi," kata Sihaloho.

"Sedangkan korban yang sudah tua renta ini tidak mampu bertahan, sehingga akhirnya meninggal."

Saat ini, polisi telah menangkap dan mengamankan pelaku yang diduga tidak waras tersebut di kantor Kepolisian Sektor Metro Penjaringan. Selanjutnya, polisi akan memeriksa pelaku untuk memastikan kondisi kejiwaannya. (cok)

Gagal Merampok, Pembantu Diperkosa

JAKARTA, MP – Rumah ditinggal majikan, wanita pembantu diperkosa dua pria kenalan barunya di Perumahan Citra, Kalideres. HP dan anting-anting korban pun digasak dua bandit mesum itu.

Kepada petugas Polsek Kalideresi, Ev, 20, dan Nursiah, 21, mengaku kenal dengan kedua pria itu seminggu lalu. Hubungan berlanjut hingga keduanya diajak jalan-jalan ketika Sukirno, majikan, pergi ke Aceh.

Ketika kembali ke rumah, kedua pelaku mengacak-acak harta majikannya. Gagal mendapat harta, Ev diperkosa. Sedangkan Nursiah tidak diperkosa. Namun, kedua wanita itu diikat kaki dan tangannya lalu ditinggal pergi setelah HP dan anting-anting korban dibawa kabur. (red/*pk)

Korban Digedam, ATM Dibobol

SURABAYA, MP - Kriminalitas di ATM Bank terus terjadi. Tak hanya pembobolan rekening, ternyata pelaku juga melakukan aksi gendam kepada korban yang hendak mengambil uang di ATM. Seorang perempuan bercadar digendam. Akibatnya, uang Rp 1,5 juta amblas. Seusai kejadian, korban tak langsung melapor ke polisi. Tapi, suami korban Dery,44, warga Sidotopo Lor langsung melapor ke Polres Surabaya Timur. Atas laporan ini, petugas langsung melakukan penyelidikan.

Kasat Reskrim Polres Surabaya Timur, AKP Hartoyo membenarkan bahwa ada korban gendam saat mengambil uang di ATM. “Memang benar tadi sore ada seorang ibu-ibu yang digendam saat mengambil uang di ATM. Saat ini, korban masih kita periksa guna penyelidikan,” ujar Hartoyo di Mapolres Jalan Kapasan Surabaya, Minggu (24/1).

Peristiwa tersebut berawal ketika korban mengambil uang ke BCA Jalan Kertopaten. “Korban diantar suami dan seorang anaknya datang ke ATM BCA dengan menumpang becak,” kata Kacong, salah seorang saksi di TKP.

Begitu tiba di ATM BCA, korban masuk ke ruang ATM. Tak lama, mobil B 1691 QL, berhenti di depan ATM. Lalu salah seorang penumpangnya yang diketahui berkulit putih masuk ke ruang ATM.

“Ruang ATM itu memang memiliki dua mesin. Jadi, waktu itu saya gak curiga kalau pria itu akan melakukan kejahatan. Tak lama, seorang penumpang mobil ikut masuk ke dalam ATM,” terang pria berusia 30 tahun ini.

Nah, di dalam ATM itulah, kedua pelaku ini melakukan aksinya. Waktu itu, salah satu pelaku berpura-pura kalau kartu ATM-nya rusak. Pelaku ini lalu meminta korban untuk melihat kartu ATM-nya.

Entah kenapa, korban menuruti permintaan pelaku. Diduga, saat itu korban telah digendam atau hipnotis pelaku. Setelah itu, korban memberikan kartu ATM miliknya.
Usai mendapatkan kartu ATM milik korban, pelaku lalu membuang kartu ATM miliknya. Setelah itu, kedua pelaku mengambil uang milik korban. Setelah itu pelaku mengembalikan kartu ATM milik korban dan keluar.

Setelah pelaku keluar ATM, barulah korban sadar kalau telah digendam oleh pria tersebut. Saat dicek, ternyata uang tabungannya sebesar Rp 1,5 juta telah habis. Korban pun lemas dan dengan diantar suaminya, korban melapor ke Polres Surabaya Timur.

Kapolsek Simokerto AKP Aditya Puji Kurniawan menyesalkan terjadinya pencurian di dalam ATM. “Sebenarnya kejadian itu tak perlu terjadi bila korban hati-hati dengan tak percaya dengan orang yang baru dikenalnya,” ujarnya.

Selain itu, Aditya juga menyesalkan korban tak langsung melapor ke Polisi. “Di depan TKP itu, ada anggota saya yang baru saja melakukan patroli. Saat kejadian itu, anggota masih beristirahat di lokasi,” tambahnya.

Bahkan, lanjutnya, anggota sudah curiga dengan pelaku dan telah mencatat nopol mobil pelaku. “Anggota saya curiga karena pelaku lama di dalam ATM. Tapi karena korban tak langsung memberitahu anggota saya, maka anggota saya terlambat melakukan pengejaran terhadap mobil pelaku,” katanya. (red/*pk)

Sabtu, Januari 23, 2010

13 Pelaku Sindikat Pembobol ATM Dibekuk Polisi

JAKARTA, MP - Tim khusus Mabes Polri dan Polda berhasil menangkap 13 orang pelaku yang diduga kelompok sindikat pembobolan uang nasabah bank melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polr Inspektur Jenderal Edward Aritonang di Jakarta Selatan, Sabtu, mengatakan, penangkapan pelaku di wilayah hukum Polda Bali, Kalimantan dan Medan.

"Dari hasil pemeriksaan bisa dikaitkan yang tertangkap di Kalimantan, Bali dan Medan, jumlah mereka 13 orang," kata Edward.

Edward mengungkapkan, polisi juga menyita barang bukti, seperti peralatan pengganda, kartu ATM, alat penempel stiker, beberapa PIN, nomor rekening, komputer dan sejumlah uang tunai.

Berdasarkan pemeriksaan, sindikat pelaku menggunakan empat jenis modus operandi untuk membobol dana nasabah melalui ATM bank skala besar itu.

Modus operandi pertama adalah mengakses data kartu ATM melalui alat skimmer dengan memasang kamera tersembunyi yang merekam aktivitas nasabah di ruang ATM ketika bertransaksi, termasuk saat mengetik PIN.

Modus kedua, mereka menempelkan nomor telepon layanan bank palsu. Dengan nomor layanan bank palsu yang mereka tempel di dekat mesin ATM, mereka mengelabuhi nasabah yang menelpon minta bantuan dan meminta identitas serta PIN nasabah.

Modus ketiga, pelaku menggunakan alat penjepit kartu sedemikian rupa, kemudian memberi nomor telepon customer 14000 dan menempatkan operator gadungan, pelaku mengeluarkan kartu yang terjepit dan bertransaksi setelah meminta identitas dan PIN nasabah.

Modus terakhir pelaku merekam dan mengintip data nasabah termasuk PIN, lalu menjualnya kepada pembobol ATM seharga Rp1 juta per data dengan cara menggunakan pesan singkat sistem perbankan.

Edward menyatakan hingga saat ini polisi sudah mendapatkan laporan kerugian dari 36 nasabah yang tersebar di Bali dan sekitarnya, Kalimantan dan Jakarta meliputi pada bank nasional, seperti Bank Mandiri, BCA, BNI, BII, BRI dan Bank Mandiri.

"Bahkan ada nasabahnya orang asing dan kerugian sementara mencapai Rp5 miliar," ujar Edward. (red/*ant)

Reformasi Hukum Masih Terseok-seok

JAKARTA, MP - Pakar hukum tata negara Prof Dr Jimly Asshidiqie SH pada orasi ilmiah di Universitas Jayabaya Jakarta, Sabtu, menyatakan bahwa reformasi hukum dan peradilan di Indonesia masih terseok-seok.

"Lembaga penegakan hukum dan peradilan belum berubah secara mendasar mengikuti langgam perubahan di bidang politik dan ekonomi," katanya pada orasi bertema "Membangun Negara Hukum".

Pada acara yang dirangkai dengan pelantikan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Alumni Universitas Jayabaya 2009-2014 itu, Jimly menyatakan bahwa pembaruan hukum 11 tahun terakhir berjalan sepotong-sepotong tanpa arah peta yang jelas.

"Akibatnya perubahan sistem norma hukum belum menghasilkan kinerja negara hukum yang ideal," kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Jimly menambahkan pembentukan berbagai peraturan perundang-undangan baru juga belum tersosialisasikan sehingga pelaksanaannya terkendala.

Pembentukan lembaga-lembaga baru, katanya, juga mengakibatkan tumpang tindih dan belum berhasil menempatkan diri secara tepat dalam sistem kenegaraan baru.

Begitu pula dalam proses penegakan hukum, aparat penyelidik, penyidik, penuntut, pembela, hakim pemutus, dan aparatur pemasyarakatan masih bekerja dengan kultur kerja tradisional dan cenderung primitif.

"Lihatlah bagaimana kasus Bibit dan Chandra memberi tahu mengenai kebobrokan penegakan hukum. Lihat pula kasus istana dalam penjara yang melibatkan Artalyta," kata Jimly mencontohkan.

Jimly yang disebut-sebut masuk dalam Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) mengusulkan sistem peradilan dievaluasi dan diubah secara mendasar agar proses dan produknya menjamin keadilan.

Menurut Jimly, sebaiknya diadakan sistem kamar dalam penanganan perkara, tidak lagi sistem majelis.

Dengan sistem kamar, katanya, perkara pidana, perdata umum, bisnis, agama, tata usaha negara, dan militer, dapat ditangani secara profesional oleh hakim yang memang menguasai bidang hukum terkait.

Aparat penegakan hukum perlu direformasi secara mendasar, katanya.

"Polisi harus mengubah wataknya menjadi organisasi sipil, jangan lagi militeristik. Kejaksaan dan KPK harus bertindak sebagai lembaga penegak keadilan bukan sekadar penegak peraturan," katanya mencontohkan.

Sementara itu Ketua Umum DPP Ikatan Alumni Universitas Jayabaya Bursah Zarnubi

mengutip pendapat pakar hukum Satjipto Rahardjo bahwa perlu pembaruan hukum secara progresif.

"Terpenting adalah mewujudkan keadilan, membentuk tatanan, kaidah, dan perilaku baru yang menegakkan hukum," kata Bursah yang juga Ketua Umum DPP Partai Bintang Reformasi. (red/*ant)

Gas Meledak, Tiga Orang Luka

BEKASI, MP - Sebanyak tiga orang luka serius dan dilarikan ke rumah sakit akibat ledakan cukup keras yang terjadi di Perumahan Firdaus IV Kampung Pondok Benda, Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih Bekasi, Sabtu. - Polisi menduga ledakan yang terjadi di rumah Nomor B1 itu berasal dari kompor gas.

Kapolsek Jatiasih AKP Ahmad Kusnindar di lokasi kejadian mengemukakan hal itu. namun, kata dia, polisi masih menyelidiki kasus ini. Beberapa regu polisi dikerahkan ke lokasi kejadian, termasuk unit-unit kendaraan untuk operasional penyelidikan.

Polisi melakukan olah kejadian dan mengumpulkan barang bukti. meski menduga adanya sumber ledakan yang berasal dari gas, tetapi polisi mengemukakan, belum ditemukan adanya tabung gas yang meledak.

Untuk sementara, kata Kusnindar, pihaknya menduga ledakan terjadi akibat selang gas yang bocor. tetapi polisi masih menyelidiki kasus ini lebih lanjut.

Sementara itu berdasarkan pantauan di lokasi, rumah No.B1 tersebut mengalami kerusakan hebat, Genteng yang terbuat dari beton berantakan, kusen pintu dan jendela juga terlepas. Bahkan rumah yang semula terdapat plafon rapi, seluruh plafon hancur.

Posisi rumah tersebut berada di pojok perumahan. tetangganya yang menghuni rumah sebelahnya, No.B2 tidak mengetahui banyak mengenai penghuni rumah ini karena baru tiga hari menempati rumah ini.

Polisi yang segera datang ke lokasi kejadian langsung memasang garis pembatasan (police line). Warga perumahan dan warga sekitar juga segera datang ke lokasi setelah mendengar adanya ledakan.

Informasi yang dihimpun dari warga menyebutkan, ketiga korban akibat ledakan gas itu adalah pekerja sebuah agen distribusi gas Pertamina. Warga pernah mengingatkan agar mereka tidak menyimpan atau menampung tabung gas di perumahan itu.

Sementara itu aparat kepolisian juga belum menetapkan tersangka dalam kasus ledakan tabung gas tersebut. Kapolsek Jatiasih AKP Ahmad Kusdinar menyatakan, masih mengembangkan kasus ledakan tabung gas tersebut dan penyebab ledakan disebabkan oleh ketidaksengajaan.

"Tentunya kita akan mendalami apakah ada unsur kelalaian atau pelanggaran lain terkait perijinan. Yang jelas lokasi kejadian merupakan rumah tinggal yang tidak dilengkapi ijin untuk usaha penyimpanan tabung gas," ujarnya.

Hingga kini dari tiga korban yaitu Arifin (20) yang menderita luka berat dibagian kepala di rawat di RS Rawa Lumbu, sementara Yohanes (22) juga mendapat pengobatan atas luka-lukanya di RS tersebut dan Subur (42) menderita luka ringan.

Satu korban lain yang menderita luka ringan yaitu Junaidi tidak diketahui keberadaannya setelah ledakan. belum ada satupun korban yang dimintai keterangan oleh luka maupDari empat orang korban

Aparat menyita 38 tabung gas ukuran 12 kg dan 145 buah ukuran 3 kg serta satu kompor gas merek Todachi berikut selang yang menjadi pemicu ledakan.

Untuk sementara polisi menyimpulkan ledakan terjadi akibat gas yang bocor dan terkumpul disatu ruangan. Ketika penghuni akan menyalakan kompor gas untuk memasak terjadilah ledakan hingga mengakibatkan rumah rusak berat.

Rumah beratap genteng coklat tersebut mengalami kerusakan pada bagian atap, plafon hancur, pintu depan terlepas serta kerusakan lain pada kusen, namun kaca tidak pecah.(red/*ant)

Masyarakat Diminta Tidak Khawatir Gunakan ATM

JAKARTA, MP - Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri Inspektur Jenderal Edward Aritonang meminta masyarakat tidak perlu khawatir untuk bertransaksi melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM), meski tetap harus waspada.

"Masyarakat agar tetap tenang dan terus mempercayai sistem pengamanan yang dilakukan bank," kata Edward di Mabes Polri di Jakarta Selatan, Sabtu.

Namun demikian, Edward menuturkan nasabah bank harus tetap waspada dan tidak mudah percaya dengan orang atau oknum yang menawarkan bantuan jika menemukan masalah saat melakukan transaksi melalui ATM.

Kadiv Humas menjelaskan berdasarkan keterangan dari pihak bank menyatakan pembobolan rekening melalui ATM, apabila tidak menemukan data identitas nasabah termasuk kode nomor rahasia atau PIN.

Jenderal bintang dua itu mengimbau masyarakat agar memperhatikan situasi di sekitar lokasi ATM saat hendak melakukan transaksi dan memeriksa apabila ada alat yang mencurigakan pada bagian memasukkan kartu.

"Jika ada kejanggalan segera ganti nomor rahasianya," ujar Edward.

Hingga saat jumlah nasabah yang melaporkan kehilangan dana tabungan mencapai 36 orang yang tersebar di daerah Bali dan sekitarnya, Kalimantan, serta Jakarta pada sejumlah bank, seperti Bank Mandiri, BCA, BNI, Bank Permata, BII dan BRI.

Sementara itu, polisi berhasil menangkap pelaku yang diduga terlibat sindikat pembobol ATM sebanyak 13 orang beserta barang bukti seperti peralatan pengganda, kartu ATM, alat penempel stiker, beberapa PIN, nomor rekening, komputer dan sejumlah uang tunai.

"Pelaku mampu merekam PIN sebanyak 264.000 nomor," terang Edward seraya mengatakan tim khusus Mabes Polri belum menemukan indikasi adanya keterlibatan oknum pegawai internal bank terkait kasus pembobolan ATM itu.(red/*ant)

Polisi Tahan Lima Penculik Siswa di Medan

MEDAN, MP - Satuan Reskrim Poltabes Medan menahan lima pelaku pemerasan dan penculikan siswa di Medan, Jumat (22/1) malam sekitar pukul 23:00 WIB.

Kepala Satuan Reskrim Poltabes Medan, Kompol Gidion AS di Medan, Sabtu mengatakan, lima tersangka itu adalah Reza Z (20), penduduk Jalan Datuk Kabu da Hasien (27), penduduk Jalan Industri Medan.

Kemudian, Fernandus (28) penduduk Jalan Mandala By Pass, Arianti alias Dedek (26), penduduk Jalan Datuk Kabu dan Ronald (26), penduduk Jalan Mustafa Medan.

Lima tersangka itu melakukan penculikan terhadap Steven (14), siswa Perguruan Wiyata Utama yang berlokasi di Jalan Wahidin Medan ketika pulang dari sekolah, Kamis (21/1).

Pelaku menutup mata korban dengan lakban dan membawanya ke sebuah tempat di Pasar III Jalan Datuk Kabu, Kecamatan Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang.

Kemudian, pelaku menghubungi keluarga korban dan meminta uang tebusan sebesar Rp150 juta disertai ancaman akan membunuh Steven jika permintaan itu tidak dipenuhi.

Namun karena keluarga korban menyatakan tidak mampu menyediakan uang sebanyak itu pelaku menutup kembali teleponya.

Pada Jumat (22/1), ayah korban yang bernama Joni membuat pengaduan tentang penculikan terhadap anaknya itu ke Mapoltabes Medan.

Malam harinya, pelaku menghubungi keluarga korban lagi dan menurunkan uang tebusannya menjadi Rp100 juta yang disanggupi pihak keluarga.

Didampingi personel Poltabes Medan, keluarga korban mengantar uang tebusan itu ke Jalan Selam II di kawasan Mandala Medan sekitar pukul 22:30 WIB.

Dua pelaku penculikan, yakni Reza dan Hasien yang datang menjemput uang tebusan itu langsung ditangkap pihak kepolisian.

Karena mencoba melarikan diri ketika akan ditangkap, petugas melepaskan tembakan yang mengenai kaki sebelah kiri dua pelaku tersebut.

Sedangkan tiga pelaku lain ditangkap di tempat tinggal masing-masing, katanya didampingi Kanit Jathanras Satuan Reskrim Poltabes Medan, AKP Faidir. (red/*ant)

Jumat, Januari 22, 2010

2 Rekening Bank BCA Tanjungpriok Dibobol

JAKARTA, MP - Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara menerima laporan dua korban pembobolan rekening bank di Jakarta Utara. Pelapor yang masing-masing tinggal di Tanjung Priok dan Plumpang, Jakarta Utara, ini merupakan nasabah Bank Central Asia (BCA)

Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara, Komisaris Adex Yudiswan, menduga dua nasabah tersebut merupakan korban pembobolan kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Masing-masing korban yang namanya masih dirahasiakan itu kehilangan uang sebesar Rp 5,7 juta dan Rp 1,5 juta, di rekeningnya.

"Mereka baru mengetahui kehilangan setelah memeriksa rekening melalui ATM, hari Kamis (21/1) kemarin," kata Adex, saat dihubungi melalui telepon, Jumat (22/1). "Dan mereka langsung melaporkan kasus ini ke kami, pada hari itu juga."

Kejadian itu, ia melanjutkan, langsung ditanggapi dengan pengumpulan berbagai informasi guna mendukung penyelidikan lebih lanjut. "Ini menjadi atensi kami, sebab kasus pembobolan rekening bank lewat ATM sedang marak," ujar dia.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Metro Jakarta Utara telah membongkar sindikat pembobol rekening nasabah bank dengan modus meminta korban mendaftar fasilitas phone banking. Permintaan ini disampaikan melalui pesan pendek, dengan alasan sebagai pemenang undian.

Langkah selanjutnya, melalui telepon, pelaku memandu korbannya untuk mendaftar fasilitas phone banking di mesin ATM. Pelaku berdalih pendaftaran tersebut sebagai syarat memperoleh hadiah undian yang telah dimenangkan.

Setelah proses pendaftaran rampung, pelaku meminta korban menyebutkan nomor kartu ATM dan PIN phone banking yang telah dibuat agar hadiah bisa ditransfer langsung ke rekening. Pada modus ini, pelaku tidak meminta uang sepeser pun, dan pembobolan rekening baru dilakukan setelah beberapa bulan kemudian.

Pada kasus ini, polisi menangkap lima tersangka penipuan tersebut di Perumahan Taman Pondok Gede, Bekasi, sekitar awal Januari. Para tersangka itu berasal dari Palembang, yaitu Doni Saputra (21 tahun), Amir (15 tahun), Yandri (24 tahun), Telet (29 tahun), dan Arya Kamandanu (20 tahun).

Aksi para pelaku telah berlangsung sejak 2007, dengan korban yang mencapai sekitar 3.000 orang, hampir di seluruh Indonesia. Uang yang sudah mereka ambil diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Dari tangan pelaku disita 16 unit telepon genggam, puluhan SIM card berbagai operator, puluhan buku tabungan dan kartu ATM berbagai bank, serta uang tunai Rp 24,5 juta.

Para pelaku diancam dengan hukuman penjara selama 15 tahun terkait dengan Pasal 378 KUHP dan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2003 tentang tindak pidana pencurian uang. (cok)

Ditinggal Kekasih, Pria Nekad Bakar Diri

BANDUNG, MP - Rudi Hartono (28), pria beristri yang tinggal di Bandung, Jawa Barat, nekad mambakar dirinya pada Jumat lantaran kekasihnya hendak menikah dengan pria lain.

Aksi Rudi yang menghebohkan warga Gang Abadi Kelurahan Babakan Targong, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, ia lakukan usai shalat Jumat sekitar pukul 12.30 WIB.

Menurut saksi mata, Iroh (55), Rudi membakar dirinya setelah menyiram tubuhnya dengan bensin dari dalam sebuah botol. "Saat itu saya sedang keluar mencari makan siang. Saya terkejut ada pemuda yang menyiramkan botol dan mengancam akan membakar diri," kata Iroh.

Iroh yang mengira apa yang dilakukan Rudi hanya bercanda, kaget ketika Rudi yang juga membawa korek gas benar-benar membakar diri.

Warga yang melihat aksi Rudi itu langsung menyiramkan air untuk menyelamatkan aksi nekadnya.

Rudi masih tergeletak kritis di Rumah Sakit Immanuel karena terluka parah di bagian dada dan kaki.

Kekasih Rudi bernama Lia, sekarang dimintai keterangan di Polsek Babakan Ciparay.

Menurut adik ipar Lia, Iyus Irawan (36), mengatakan bahwa kakaknya itu adalah janda beranak dua dan Kamis depan akan menikah dengan pria lain. (red/*ant)

5 Anjal Mengaku Mengalami Kejahatan Seksual

JAKARTA, MP - Sekitar empat anak jalanan yang berkeliaran di kawasan Jakarta Utara, mengaku pernah mengalami kejahatan seksual. Salah satu dari empat bocah laki-laki berusia sekitar 12-14 tahun itu mengaku korban kejahatan seksual yang dilakukan oleh APS atau Abang Kacamata.

Selain empat bocah itu, Polres Metro Jakarta Utara bekerja sama dengan Dinas Sosial DKI Jakarta, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dan psikolog serta dokter dari Universitas Yarsi, juga menemukan seorang anak perempuan berusia 12 tahun, yang mengaku kabur dari rumahnya di Jawa Tengah karena diperkosa ayahnya dua minggu lalu.

Kelima bocah ini telah didata oleh polisi dan diimbau untuk membuat laporan polisi. “Sampai kini belum ada yang membuat, tetapi ada satu anak yang mengatakan akan membuat laporan,” kata Kasat Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Utara Komisaris Adex Yudiswan.

Walaupun telah mengaku pernah mengalami kejahatan seksual, namun polisi tidak melakukan pemeriksaan dubur terhadap mereka. “Pemeriksaan fisik baru akan dilakukan jika telah ada pengaduan. Keperluannya untuk bukti visum,” jelas Adex.

Sebab menurutnya, pemeriksaan dubur korban merupakan proses penyidikan yang dilakukan petugas kepolisian. “Kerjasama antara polisi dan dokter forensik yang akan melakukan pemeriksaan dubur tersebut. Yang kita periksa nantinya adalah anak-anak yang telah dipastikan jadi korban dan mau menjadi saksi.”

Dalam kegiatan Community Police atau polisi masyarakat, Polres Metro Jakarta Utara menggelar kegiatan di enam titik. Yakni perempatan Coca Cola-Kelapa Gading, Stasiun Tanjung Priok, depan Pos Polisi Ancol, depan Rumah Duka Atma Jaya, Halte bus Plumpang, dan di Tanah Merdeka-Cilincing.

Dalam acara itu, sebanyak 500 anak diajak berdialog santai oleh 30 petugas. Mereka juga dihibur dengan badut, film, dan makanan. Mereka terlihat gembira karena mereka jarang sekali mendapat hiburan seperti itu.

Dalam dialog tersebut petugas juga mengajak anak jalanan dan orangtuanya untuk lebih waspada terhadap berbagai bentuk kejahatan, baik sodomi maupun pemerkosaan. Mereka juga diminta untuk mengenali foto APS, tersangka kejahatan seksual yang telah menyodomi 22 kali dari 17 anak jalanan, menurut Adex polisi dan dokter akan membimbing anak jalanan agar lebih waspada dengan berbagai bentuk kejahatan yang dapat menimpa mereka setiap saat. "Termasuk kejahatan seksual, baik sodomi maupun pemerkosaan, " tambahnya.

Ditambahkan Adex, di enam titik tersebut polisi juga menyebar foto tersangka pelaku sodomi, APS atau yang dikenal dengan 'Abang Kacamata'.

Aji (14), salah seorang anak yang diajak berdialog mengaku tidak pernah mengenal APS. Namun dia mengenal Babe di Pulogadung Trade Center, yang ditangkap Polda Metro Jaya. “Babe itu sebenarnya orangnya baik. Dia sering memberi kami makan, lalu mengajak nonton TV. Tetapi setelah itu kami disuruh mandi,” cerita Aji yang sering mengamen di jalan.

Aji mengaku pernah diminta melayani Babe, dengan iming-iming uang Rp 20.000. “Tetapi saya tidak mau, lalu saya kabur saja,” kata Aji yang mengaku paling takut dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja. (cok)

Rekening Nasabah BCA di Cipayung Dibobol

JAKARTA, MP - Niat Maryani Siahaan (48), warga RT 02/02 Nomor 22, Cipayung, Jakarta Timur untuk menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi terancam gagal. Sebab, uang tabungan sebesar Rp 15 juta di BCA mendadak terkuras habis. Merasa jadi korban pembobolan ATM, ia pun buru-buru melaporkan kasus ini kepada aparat kepolisian.

Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan menyebutkan, korban sontak kaget saat melakukan transaksi di BCA Cabang Pasar Kramatjati, Kamis (21/1) kemarin. Ia mendapati saldo tabungannya berkurang Rp 15 juta. Karuan saja ia langsung histeris dan meminta kepada petugas BCA untuk segera memblokir tabungan miliknya.

Ani, sapaan akrab Maryani Siahaan, mengaku sangat jarang mengambil uang tunai melalui ATM, kecuali dalam keadaan mendesak. Karena tabungannya itu diperuntukan untuk masa depan dua buah hatinya yang masih sekolah. Selama ini biaya kebutuhan hidup ditanggung oleh suaminya.

”Niat saya, semula tabungan itu akan digunakan untuk masa depan anak-anak. Karena mereka semua masih sekolah, jadi perjalanannya masih panjang. Tapi sekarang malah dikuras orang. Padahal suami saya sendiri tidak tahu nomor-nomor PIN ATM saya, apalagi orang lain,” katanya, Jumat (22/1).

Seingatnya, selama ini ia hanya mengambil uang di beberapa lokasi saja seperti ATM di Tamini Square, ATM Pusat Grosir Cililitan (PGC), dan di swalayan Naga di kawasan Cipayung. Selain di lokasi tersebut, ia mengaku tidak pernah melakukan transaksi atau mengambil uang di ATM manapun. Terakhir, ia mengambil uang untuk keperluan mendadak melalui ATM yaitu pada tanggal 4 November 2009 lalu di swalayan Naga di kawasan Cipayung. Uang yang diambilnya pun tak banyak, hanya sekadar untuk kebutuhan dadakan. Anehnya, pada Kamis (21/1) siang kemarin, saat ia akan menyetor uang, mendapati bahwa saldonya telah dikuras habis oleh pihak lain.

Oleh petugas BCA cabang Kramatjati, ia diminta untuk segera melapor ke kantor pusat BCA melalui Hallo BCA. “Dan pernyataan yang saya terima, semuanya akan diproses selama kurang lebih 10 hari,” ungkapnya.

Berdasarkan keterangan petugas BCA, kata Ani, uang miliknya itu dibobol secara bertahap sebanyak tiga kali. Namun mengenai waktu pengambilannya sejauh ini belum dapat diketahui. Atas kejadian tersebut, kini ia mengaku pasrah dan menyerahkan kasus ini sepenuhnya pada pihak BCA. ”Setelah adanya kejadian ini, saya hanya bisa pasrah dan menunggu pihak bank menyelesaikan masalah ini sesegera mungkin," tukasnya. (red/*bj)

Kamis, Januari 21, 2010

Razia Dubur Anak Jalanan di Bekasi Nihil Korban Sodomi

BEKASI, MP - Razia dubur anak jalanan yang dilakukan Kepolisian Resor Metropolitan Bekasi, dua hari ini, belum menemukan adanya korban kekerasan seksual menyimpang. Jumlah anak usia di bawah 15 tahun yang telah diperiksa ada 16 anak.

Kepala Polres Metropolitan Bekasi Komisaris Besar Imam Sugianto mengatakan, razia dubur anak intensif dilakukan setelah pelaku mutilasi yang menyodomi setiap korbannya Baekuni alias Babe terungkap. "Kami mengantisipasi jangan sampai ada korbannya berkeliaran di jalan," kata Imam.

Anak jalanan tersebut dirazia di beberapa ruas utama di Kota Bekasi, saat mengamen dan meminta uang kepada pengguna jalan. Seperti di Perempatan Bulak Kapal, depan Terminal Bekasi, perempatan Universitas Islam "45" Bekasi, perempatan Bekasi Timur, dan perempatan Jalan Achmad Yani.

Teknis pemeriksaan dubur anak jalanan, kata Imam, dilakukan tim dokter dari Polres Metropolitan Bekasi. "Hasilnya masih nihil," katanya.

Razia, tambah Imam, akan terus dilakukan. Kegiatan tersebut sekaligus untuk membersihkan ruas-ruas jalan di Kota Bekasi dari banyaknya pengaman dan pengemis. Setiap anak yang terjaring razia, dibawa ke Departemen Sosial untuk diberi pembinaan. (red/*tif)

Rabu, Januari 20, 2010

3000 Nasabah Bank Ditipu, Rp 30 Miliar Dikuras

JAKARTA, MP - Unit Reskrim Polres Jakarta Utara bersama tim Fraud Banking Investigation Bank Mega mengungkap penipuan perbankan dengan modus baru. Sedikitnya 3000 nasabah bank termakan tipu daya komplotan yang telah menggasak Rp 30 miliar dari korbannya.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Utara Kompol Adex Yudiswan mengatakan komplotan ini telah melakukan aksinya sejak Agustus 2008 dan berhasil tertangak pada 13 Januari 2010. Setiap minggunya ada 3 - 4 orang menjadi korban aksi mereka dengan penghasilan minimal Rp 1 Juta dan maksimal Rp 10 juta. “Kepada polisi,komplotan ini telah menipu 3 ribu orang korban dan mendapatkan Rp 30 miliar,” kata Kompol Adex.

Polisi telah menangkap kelima anggota komplotan yakni Doni Saputra, 21, Arya Kamandanu alias Kanang, 20, Yandri bin Sawari, 27, Telet bin Mayam, 30, dan Amir bin Ling, 15. Kelimanya memiliki peran masing-masing. Doni yang merupakan otak dari komplotan ini bertugas mencari korban dan memandu korban ke mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Doni adalah pemilik banyak rekening dan dan ATM dari berbagai bank yang dibelinya dari seseorang. Sedangkan Arya, Yandri, Amir, dan Telet, bertugas mencari korban menggunakan nomor acak. “Modus mereka memberitahukan calon korbannya sebagai pemenang hadiah melalui ponsel,” ungkap Kompol Adex. Mereka mendapat bagian 10% dari korban yang berhasil mereka perdayai.

Pengungkapan kasus penipuan ini bermula dari laporan korban Anri Yulianto, 29, pada 12 Januari 2010 lalu. Saat itu korban diberitahukan melalui layanan pesan singkat (SMS) menerima hadiah dari suatu perusahaan. Karena percaya korban dengan mudah dipandu pelaku ke mesin ATM sesuai dengan miliknya. “Pelaku selanjutnya meminta personal identification number (PIN) dan nomor kartu ATM dengan dalih akan mentransfer hadiah ke rekening,” ungkap Anri kepada polisi. Korban pun melakukan transaksi di sebuah bank di Jalan Enggano, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Setelah mengusai PIN SMS, phone banking, atau nomor kartu korbannya, pelaku dengan mudah menguras uang korbannya. Untuk mengelabui identitas, pelaku menarik dana lewat transaski phone banking atas rekening yang sudah dibelinya dari orang lain. Korban baru sadar setelah mengecek saldo rekeningnya yang seluruhnya dipindah bukukan dengan rekening milik orang lain.

Setelah diselidiki dan dilakukan penyidikan, didapat informasi pelaku bertempat tinggal di Taman Pondok Gede, Bekasi. Saat ditangkap polisi hanya berhasil menangkap Arya dan Telet. Sedangkan pelaku lainnya sempat melarikan diri. Beregerak cepat polisi akhirnya menangkap Doni, Amir, dan Yandri di daerah Bekasi.

Polisi mengamankan barang bukti belasan buku tabungan dari berbagai bank, belasan ATM, ratusan sim card, dan uang tunai Rp 24,5 juta. Pelaku akan dijerat dengan pasal 378 KUHP, pasal 3 dan pasal 6 UU nomor 15 tahun 2002 yang diubah menjadi UU nomor 25 tahun 2003 tentang tindak pidana pencucian uang. (cok)

Selasa, Januari 19, 2010

Cemburu, Suami Bakar Diri dan Istri

JAKARTA, MP - Korban kebakaran di Jl Baladewa RT 13/11, Tanahtinggi, Joharbaru, Jakarta Pusat, Senin (18/1) pukul 10.30, bertambah satu orang. Jika sebelumnya korban tewas hanya satu, kini bertambah menjadi dua. Masing-masing adalah Ben Nyat (36) dan istrinya Liana (26).

Informasi yang berhasil dihimpun di lapangan menyebutkan, korban adalah pasangan suami istri. Jika Ben Nyat tewas saat kejadian, namun istrinya tewas setelah sempat menjalani perawatan di Rumah Sakit Islam Cempakaputih. Liana tewas pada Selasa (19/1) pukul 04.00 pagi.

Kebakaran yang terjadi pada Senin malam itu diduga akibat Ben Nyat membakar diri dan istrinya. Pemicunya adalah korban terbakar api cemburu terhadap istrinya, apalagi Liana sering meminta cerai pada Ben Nyat tapi tidak pernah ditanggapi. Selain itu, diduga korban juga memiliki utang banyak dan belum mampu melunasinya.

Dedy (19), satu warga setempat mengatakan, kebakaran hanya terjadi pada salah satu kamar korban di lantai dua. Saat kejadian, pintu kamar dalam keadaan terkunci. Namun setelah didobrak warga, korban tengah berpelukan dan sudah mengalami luka bakar. “Warga langsung mendatangi ke sumber api yang ternyata di sebuah kamar milik korban. Karena pintu terkunci maka pintu didobrak dan diketahui korban sudah terbakar dalam keadaan berpelukan,” ujar Dedy.

Iwan (35), saksi mata lainnya mengatakan, diduga kebakaran itu terjadi karena korban sengaja membakar diri bersama istrinya dengan menggunakan bensin. “Pada sore hari sebelum kejadian Ben nyat membeli bensin tapi tidak disangka kalau itu akan digunakan untuk membakar diri. Istrinya sering minta cerai pada suaminya,” ucapnya.

Pardi (55), salah satu keluarga korban mengaku sedih melihat insiden memilukan ini. Selama ini ia melihat keluarga korban hidup rukun. Mengenai pemakaman kedua jenazah, ia masih menunggu keluarganya dari Kalimantan. “Untuk rencana pemakamannya kami menunggu keluarga yang lain dari Kalimantan,” paparnya.

Wakil Lurah Tanah Tinggi, Ali Asiq mengaku prihatin atas insiden tersebut. Untuk mengusut kasus ini ia menyerahkan sepenuhnya pada aparat kepolisian. “Kami turut prihatin dan tidak menyangka kejadian ini bisa terjadi. Kasus ini masih dalam proses penyelidikan aparat kepolisian," ujarnya. (red/*bj)

Senin, Januari 18, 2010

Herman Sarens Sudiro Ditangkap Pomdam Jaya

TANGERANG, MP - Pensiunan perwira tinggi Angkatan Darat, Brigjen Purn Herman Sarens Sudiro, ditangkap paksa oleh Pomdam Jaya di rumahnya di Taman Telaga Golf, Vermont Park Land, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Senin (18/1).

"Pihak Pomdam (Polisi Militer Kodam) Jaya saat ini tengah bernegosiasi dengan pihak pengacara Pak Herman Sarens untuk membawa Pak Herman ke Pengadilan Tinggi Militer Jakarta," ucap Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Brigjen Christian Zebua.

Menurut Christian, Herman telah mendapat vonis atas sebuah kasus yang ditangani oleh Pengadilan Tinggi Militer Jakarta. Sudah beberapa kali Herman tidak menanggapi panggilan yang dilayangkan pengadilan. Pengadilan pun meminta kepada Pomdam Jaya untuk menangkap paksa Herman. "Kasusnya apa, saya tidak tahu persis. Silakan tanya ke pihak pengadilan militer," ucap Christian.

Saat ini sejumlah polisi militer mendatangi rumah Herman. Pihak Pomdam Jaya tengah bernegosiasi dengan pengacara Herman. "Pihak Pomdam Jaya melakukan upaya-upaya persuasif," katanya.

Bantah Lakukan Pengelapan Aset

Sementara itu Brigjen Purn Herman Sarens Sudiro membantah telah melakukan pengelapan aset milik negara berupa tanah di Jalan Warung Buncit Raya No. 301, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan yang dituduhkan kepadanya.

Herman Sarens Sudiro melalui supir pribadinya Senin (18/1) membagikan foto copy pernyataannya kepada wartawan di pintu gerbang pos penjagaan rumah yang terletak di Blok G-5 No. 18 di Cluster Vermont Park Perumahan BSD Serpong, Tangerang Selatan, Banten yang berisikan bantahan terhadap tuduhan tersebut.

Sedangkan bantahan tersebut bahwa tanah miliknya yang berada di Jalan Warung Buncit No 301 itu merupakan pembelian Herman sewaktu menjadi Asisten Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi (KOTI) tahun 1966/1967, bukan aset negara atau TNI.

Bahkan Herman Sarens menyebutkan tanah seluas tiga hektar dibeli dari Ngudi Gunawan, salah seorang pedagang sebesar Rp 10 juta dan mutlak menjadi milik Herman sejak saat itu.

Sementara itu, Komandan Pusat Polisi Militer Angkatan Darat, Mayjen TNI Subagja Djiwapradja, mengatakan pihaknya berupaya memanggil paksa Herman Sarens dari kediamannya karena yang bersangkutan sudah tiga kali tidak memenuhi surat pemanggilan oleh oditur militer terkait masalah penguasaan aset TNI.

Subagja menjelaskan adanya aparat Polisi Militer di rumah Herman bukan pengepungan tapi pemanggilan paksa.

Herman Sarens dikenal sebagai mantan diplomat, pengusaha, tokoh olah raga menembak dan berkuda, serta promotor tinju.

Subagja mengatakan, pemanggilan pertama dilakukan pada Januari 2009, kedua pada Februari dan ketiga pada Maret 2009.

Herman Sarens, katanya tidak pernah memenuhi panggilan tersebut dengan berbagai alasan termasuk alasan sakit hingga harus berobat ke Singapura.
Dia mengatakan, kasus tersebut sebenarnya sudah terjadi sejak 1980-an, karena pada saat itu yang bersangkutan masih anggota militer maka yang menanganinya adalah polisi militer.

Setelah bersatus sipil (pensiun), lanjut Subagja, maka Herman Sarens menolak panggilan dari pihak oditur militer dan meminta agar yang memanggil adalah polisi.
Pemantauan di kediaman Herman Sarens bahwa petugas TNI dari satuan Polisi Militer masih berjaga dan berusaha masuk ke rumah itu untuk melakukan pengeledahan.

Hingga berita ini diturunkan belum satu pun pihak keluarga atau kuasa hukum Herman Sarens yang memberikan keterangan terkait persoalan kasus tersebut kecuali surat yang dibawa supirnya itu. (red/*wk)

Menderita HIV/AIDS , Pengedar Ganja Tak Ditahan

TANGERANG, MP - Tersangka Ha, 27, pengedar ganja kelas berat dengan barang bukti 31 Kg yang ternyata menderita HIV AIDS tidak ditahan, malah ada info ia jadi sopir taksi.

Menurut Kasat Narkoba Polres Metro Kabupaten Tangerang,Kompol Rusdi Raumin,SH pihaknya sebenarnya siap melimpahkan berkas perkaranya ke Kejari Tangerang.Namun, pelimpahan berkas perkara beserta tersangka Ha ditolak jaksa, karena tersangka menderita HIV AIDS.

Petunjuk jaksa tersangka harus diobati hingga sembuh baru berkasnya diterima kejaksaan. Dengan penolakan jaksa tersebut, Rusdi kesulitan untuk menahan tersangka karena harus diobati lebih dulu.

“Tersangka kami lepas dari tahanan untuk berobat dibiayai keluarganya,” jelasnya sambil menyebutkan sejak dilepas September 2009 lalu dikenakan wajib lapor seminggu sekali. Ada kekhawatiran tersangka dimanfaatkan bandar untuk mengedarkan ganja lagi,karena kalo tertangkap toh polisi tidak bisa menahan lagi.

Tersangka Ha ditangkap Agustus 2009 saat transaksi dengan petugas yang menyamar jadi pembeli ganja 1 Kg dengan harga Rp 2 juta. Ia sempat ditembak kakinya karena kabur.

Petugas yang menggeledah rumahnya di Kelurahan Kenanga,Cipondoh menemukan 30 Kg ganja disembunyikan di plafon. Ia hanya sempat ditahan 2 bulan tapi setelah sakit HIV AIDS lalu dilepas karena jaksa tak mau menerima pelimpahan berkasnya.

“Dia harus berobat dulu,tapi sampe kapan sembuhnya gak tahu,”jelas Rusdi sambil mengatakan kalo jaksa siap menerima berkas dan tersangkanya ia siap melimpahkan.(red/*pk)

Ibu Jadikan Anak Kurir Narkoba

JAKARTA, MP - Sosok ibu idealnya selalu mendidik anak menjadi manusia yang baik dan berprestasi, misalnya di bidang pendidikan. Tapi YN, 46 tahun, yang tinggal di Jalan Tanah Tinggi IV, Johar Baru, Jakarta Pusat, malah sebaliknya. Dia sengaja mengajari anak kandungnya yang berusia 15 tahun, DS, menjadi kurir narkoba.

Realita ini ketahuan setelah ibu rumah tangga ini ditangkap oleh petugas dari Unit Narkoba Polsek Metro Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Cerita kriminal ini berawal dari laporan warga kepada polisi. Bahwa di sekitar rumah mereka, marak penjualan narkoba. Nah, dari sana, polisi kemudian mengembangkannya. Dari hasil pendalaman, polisi menaruh curiga pada YN.

Untuk memastikan bahwa YN merupakan salah satu penjual narkoba, datanglah polisi ke rumahnya pada Jumat 8 Januari 2010 lalu. Setelah melalui serangkaian tanya jawab, polisi langsung menggeledah rumah itu. Hasilnya, dari rumah itu anggota polisi menemukan sebanyak satu gram shabu-shabu.

Waktu itu, polisi langsung meminta YN dan DS ikut ke kantor polisi untuk diperiksa lebih lanjut untuk benar-benar memastikan siapa pemilik narkoba.

Di kantor polisi, akhirnya YN mengakui ikut-ikutan mengedarkan narkoba. Dia juga bilang terpaksa melibatkan anaknya karena tidak punya pegawai lain.

Barang-barang terlarang yang dia jual, katanya, didapatkan dari seorang bandar di daerah Ketapang. Sayangnya, polisi tidak bisa menangkap si bandar karena sudah keburu kabur setelah mendengar YN di kantor polisi.

Kepala Satuan Narkoba Polres Jakarta Bara Komisaris Kristian Siagian mengatakan sebenarnya YN adalah suami seorang penjual narkoba. Tapi pasangan hidup YN kini sudah ditahan di LP Cipinang. Jadi kesimpulan Kristian, YN merupakan penerus bisnis suaminya.

Atas kasus ini, tersangka terancam dikenakan Pasal 112 Ayat 1 junto 132 Ayat 1 UU RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman mati.

Kasus ini telah menambah rantai perdagangan narkoba di Jakarta Barat. Dalam rentang waktu 1 hingga 18 Januari 2010, Polres Jakarta Barat berhasil mengungkap 49 kasus narkoba dengan jumlah tersangka yang ditahan mencapai 58 tersangka. (red/*vnc)

Bos Minta Onani Gak Bayar, Dibunuh

JAKARTA – Kisah pembunuhan berlatar belakang onani berhasil diungkap jajaran Polres Metro Jakarta Utara. Khoen Hardjanto, (56) bos toko suku cadang mobil di Taman Sari, Jakarta Barat, yang dibunuh pelaku pada pada Senin (11/1) lalu oleh karyawannya sendiri.

Peristiwa tersebut terjadi di Komplek Gading Griya Pratama VI Blok 1 No. 10 RT 08/20, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara , dilakukan oleh YR (23).Pembunuhan terhadap bosnya dilakukan dengan menghujami berkali-kali si bos dengan gunting.

Yr warga Kampung Cijambe RT 017/06, Bantar Waru, Indramayu, Jawa Barat, membunuh berlatar belakang dendam terhadap Si Bos.

Kapolres Jakarta Utara Kombes Rudi Sufahriadi mengatakan pelaku tertangkap pada Kamis (14/1) oleh tim gabungan Satuan Reskrim Polres Jakarta Utara. "Pelaku ditangkap di Indramayu," tegas Rudi, Senin (18/1). Pelaku sebelumnya sempat berpindah tempat ke Bekasi, Pulogadung, lalu ke Cirebon, Jawa Barat hingga akhirnya tertangap di Indramayu.

Motif pelaku melakukan pembunuhan pertama diketahui karena pelaku dendam karena diminta untuk dionani dengan upah Rp 50 ribu namun tidak dibayar korban. Termasuk upah 13 hari kerja pelaku yang juga belum dibayar, bahkan Onani yang keseringan hingga empat kali dilakukan tapi tidak dibayarkan Si Bos.

Kapolres juga mengatakan pelaku menggunakan gunting untuk membunuh korbannya. Di tubuh korban terdapat belasan luka tusukan di dada, di punggung, luka sabetan di pinggang, dan sebuah luka hantaman benda tumpul di kepala belakang. Korban yang tidak berdaya selanjutnya dikunci di salah satu kamar di rumah yang akan dijual keluarga korban.

Pelaku membuang gunting untuk membunuh di buang ke selokan rumah. Serta membawa barang milik korban seperti helm, dompet, dan kunci. "Kunci dan domper korban ditinggalkan pelaku di angkot saat dia melarikan diri," tegas Kombes Rudi.

Barang bukti yang ditemukan polisi, satu buah gunting yang telah dipersiapkan oleh pelaku. Gunting itu dibawa pelaku dari tempat tinggal pelaku di Bekasi. Termasuk satu unit ponsel Nokia 1200 dan dompet warna cokelat berisi ATM 4 buah dan uang tunai seniali Rp 200 ribu.

Pelaku akan dikenakan pasal 340 subsider 363 KUHP dengan ancaman hukuman seumur hidup atau minimal kurungan 20 tahun penjara.(cok)

Sabtu, Januari 16, 2010

Menikah, Babeh Tak Pernah Ngeseks

JAKARTA, MP - Raut wajah Baekuni alias Babeh (48) terlihat tak ada rasa penyesalan, meski dalam pengakuannya kepada polisi pembunuh tujuh bocah dan empat korban di antaranya dimutilasi itu beberapa kali mengucapkan kata menyesal. Bahkan selama menikah pun Babeh mengaku tak pernah melakukan hubungan intim hingga istrinya meninggal.

"Saya menyesal, saya menyesal. Saya khilaf," ujar Babeh kepada wartawan di sela gelar kasus di Polda Metro Jaya.

Keluar dari ruang tahanan mengenakan baju orange dan celana pendek biru, Babeh masih sempat tersenyum meski setelah itu wajahnya terus menunduk.

Babeh mengaku sudah sejak kecil suka dengan laki-laki. Rasa cintanya pada lelaki terus terbawa hingga dia menikah hingga istrinya meninggal.

Polisi hingga kemarin masih mendalami kemungkinan Babeh tidak hanya membunuh tujuh anak. Puluhan foto anak-anak kecil ditemukan polisi dari laci rumah Babeh. Dari foto tersebut juga ada gambar bocah yang menjadi korban kekejaman Babeh.

"Sejauh ini Babeh hanya mengakui korbannya tujuh anak. Tapi, polisi masih terus mendalami kemungkinan ada korban lain," ujar Kepala Satuan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Kasat Jatanras Ditreskrimum) Polda Metro Jaya, AKBP Nico Afinta, dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya.

Menurut Nico, korban kebiadaban Babeh bukan cuma ditemukan di wilayah Jakarta, tapi pelaku juga pernah melakukan aksinya di Kuningan, Jawa Barat. "Kami masih menyelidiki kasus ini sebab tidak tertutup kemungkinan masih ada korban lainnya," katanya.

Bocah yang dibunuh Babeh dan dibuang di Kuningan bernama Aris. Peristiwanya terjadi tahun 1998. Babeh mengenal Aris saat keduanya bertemu di Terminal Bus Kampungmelayu, Jakarta Timur. Aris kemudian diajak Babeh ke kampung istrinya di Kuningan.

Setibanya di Kuningan, Babeh langsung membawa Aris ke sungai di daerah Ciwaru di Pasar Kuningan. Di sungai itu Babeh membunuh Aris dengan menenggelamkan bocah ke air hingga tewas. Setelah itu Babeh mengangkat mayat Aris dan disodomi.

Menurut pengakuan Babeh, Aris merupakan korban pertamanya. Lalu sembilan tahun kemudian Babeh membunuh lagi. Bocah yang menjadi korbannya bernama Riki. Bocah ini dibunuh dengan cara dijerat lehernya dengan tali rafia. Setelah tewas, Riki disodomi dan jasadnya dimasukan ke kantong plastik lalu dibuang ke Terminal Bus Pulogadung, Jakarta Timur.

Tahun 2007, tepatnya 30 April, untuk untuk kali ketiga Babeh membunuh secara berantai. Yusuf Maulana sama nasibnya seperti Riki. Bocah ini dijerat, disodomi, dan jasadnya dibuang di halte Warung Jengkol, Kelapagading, Jakarta Utara.

Babeh mengenal Yusuf saat bocah ini mengamen di Terminal Bus Pulogadung. Yusuf kemudian diajak ke kontrakannya di Gang Masjid RT/RW 06/02, Pulogadung. Sesampainya di rumah kontrakan, Babeh mengajak bersetubuh namun ditolak Yusuf.

Aksi Berubah

Nico mengatakan, modus yang dilakukan Babeh mengalami perubahan. Tiga korban sebelumnya tidak dimutilasi. "Makin lama dia makin pintar. Empat korban berikutnya dimutilasi. Tapi, perbuatan tersangka tidak ada kaitannya dengan sindikat penjualan organ tubuh manusia," ujar Nico.

Januari 2008, Rio jadi korban keganasan Babeh. Setelah bertemu di Stasiun Jatinegara, Rio diajak ke kontrakannya. Rio menolak saat diajak bersetubuh. Babeh kesal hingga dia naik pitam. Di tangan Babeh, Rio tewas lalu disodomi. Tubuhnya dimutilasi menjadi empat bagian dan dimasukan ke karung. Malamnya, Babeh membawa karung tersebut naik bus ke arah Bekasi Timur.

Tiga korban lainnya yang juga disodomi dan dimutilasi adalah Arif Kecil, Adi, dan yang teraklhir Ardiansyah (9). Kecurigaan polisi bahwa kemungkinan korban Babeh masih ada terindikasi dari barang bukti pakaian yang dikenakan Rio, salah satu korban, berupa baju karate bertuliskan Inkai Jawa Tengah.

"Untuk itu kami akan berkoordinasi dengan Polda Jawa Barat dan Polda Jawa Tengah untuk memastikan apakah ada korban lain yang pernah ditemukan di sana. Kami juga mengimbau jika ada masyarakat yang kehilangan bocah dan sampai sekarang belum ditemukan segera datang ke Polda Metro Jaya sambil membawa foto korban untuk ditanyakan ke Babeh," kata Nico.

Kehidupan suram Babeh akibat trauma masa lalunya. Saat berusia 12 tahun, Babeh pernah disodomi seorang lelaki dewasa di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, ketika baru datang dari kampungnya, Magelang, Jawa Tengah. Kejadian ini membuat kepribadian Babeh berubah.

Guru Besar Psikologi UI, Prof Sarlito Wirawan mengatakan, Babeh memiliki kelainan orientasi seksual. Babeh tidak mengalami gangguan jiwa dan dia seorang homoseksual bawaan. Babeh juga seorang pedofilia atau penyuka anak-anak serta punya reaksi nekrofilia, melakukan hubungan seksual dengan mayat.

TUJUH BOCAH KORBAN BABEH:

1. Aris dibunuh di Kuningan, Jawa Barat, tahun 1997. Tubuh Aris tidak dimutilasi.

2. Pada 2005, menghabisi Riki, berusia sekitar 9?12 tahun. Tubuh Riki tidak dipotong?potong dan jasadnya ditemukan di Pulogadung.

3. Jasad Yusuf ditemukan di kawasan Warung Jengkol, Kelapagading 30 April 2007 dalam sebuah kardus. Tubuhnya utuh dan lehernya dijerat tali.

4. Adi (12), jasadnya ditemukan di Pasar Klender, Jakarta Timur, 9 Juli 2007. Tubuh Adi dipotong menjadi 2 bagian, lengkap dengan kepala.

5. Arif (6) dipotong menjadi 4 bagian dan jasadnya dimasukkan kardus dan dibuang di kawasan Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, 15 Mei 2008.

6. Rio dimutilasi menjadi 4 bagian, ditemukan warga di trotoar depan Bekasi Trade Center (BTC), Bekasi pada Januari 2008.

7. Ardiansyah (9) jasad pengamen jalanan ini ditemukan tanpa kepala dengan tubuh dipotong menjadi empat bagian dan dibuang di bawah jembatan KBT, Jalan Raya Bekasi, Cakung, Jakarta Timur pada 8 Januari 2010. Kepala Ardiansyah ditemukan di bawah jembatan di kawasan Terminal Pulogadung.

Sumber: Kasat Jatanras Polda Metro Jaya, AKBP Nico Afinta

(red/*wk)

Abang Kandung Lagi Tidur Dihabisi

MEDAN, MP - Sadis demikian gelar yang disandang A Hoi, penduduk Jalan Starban, Gang Bersama, Medan Polonia, Sabtu (16/1) nekat membunuh abang kandungnya, Tai Ngong alias Alun,52, saat sedang tertidur. Kanit Reskrim Polsekta Medan Baru Iptu Fachrur Rozi memastikan korban tewas di tempat, setelah kehabisan banyak darah.

Menurutnya, pelaku berusia 42 tahun menyerang korban saat sedang tidur dengan sebilah pisau. “Pelaku menikam bagian leher korban,” katanya.

Belum jelas motif pembunuhan itu, karena saat ini pelaku tampak stres, sehingga belum bisa memberikan keterangan dengan jelas.

Hanya saja menurut Rozi, beberapa kali pelaku sempat mengaku mendapat bisikan ghaib, yang disebutnya berasal dari malaikat untuk menghabisi nyawa abang kandungnya. Anehnya, setelah membunuh korban, pelaku kembali dibisiki agar membunuh dirinya sendiri, agar dipertemukan kembali di surga.”Keterangannya masih ngawur, kami menduga pelaku mengalami gangguan jiwa,” lanjutnya.

Ditambahkannya, proses penangkapan pelaku juga mendapat perlawanan alot. Pasalnya pelaku mengarahkan pisau kepada petugas, serta mengancam akan menikam dirinya bila ditangkap. “Tersangka terpaksa kami lumpuhkan dengan memukul tangannya pakai kayu. Saat ini kondisi belum stabil,” tuturnya. (red/*pk)

Disuruh Ibunya, Siswa SMP Kurir Narkoba

JAKARTA, MP - Tergiur keuntungan besar, seorang ibu nekat menjadikan anak kandungnya yang masih duduk di kelas III SMP sebagai kurir narkoba. Kenyataanya, bukan pundi-pundi rupiah yang mereka dapatkan, malah harus menjadi tahanan polisi.

Adalah Yeni alias Yeyen (46), ibu yang tega menjadikan anaknya sebagai kurir narkoba itu. Tiga bulan lamanya, Yeni yang tercatat sebagai warga Tanahtinggi, Joharbaru, Jakarta Pusat ini, menjadikan anaknya sebagai kurir narkoba.

Namun sayang putaran roda bisnis haram yang dilakukan Yeni terhenti setelah petugas Polsektro Tanjungduren menangkapnya ketika melakukan transaksi di kawasan Roxy, Jakarta Barat. Dari tangan Yeni disita 200 gram sabu-sabu senilai Rp 320 juta.

"Yeni merupakan salah satu bandar besar sabu-sabu di Jakarta. Sudah lama dia menjadi target operasi kami. Baru kali ini dia bisakami tangkap," kata Kapolsektro Tanjungduren Kompol Joni Iskandar.

Joni mengatakan, Yeni merupakan bandar yang memasok sabu-sabu kepada para pengecer yang biasa menjual sabu-sabu ke hotel-hotel dan tempat hiburan. "Dia sulit ditangkap karena kerap berpindah-pindah tempat ketika bertransaksi," ujar Joni.

Akan tetapi, polisi yang sudah mengintai perempuan yang memiliki enam orang anak dan enam orang cucu ini melihat Yeni melakukan transaksi sabu-sabu. Tanpa pikir panjang polisi meringkusnya. Hanya saja seorang lelaki yang menjadi pelanggan Yeni bisa melarikan diri.

"Ketika transaksi kami mendapati bukti sabu-sabu seberat 0,5 gram. Kemudian kami menggeledah rumahnya dan menemukan sabu-sabu lainnya. Totalnya menjadi 200 gram." ungkap Joni.

Ketika petugas menggeledah rumah Yeni, Dd anak ke empat Yeni pulang ke rumah. Bocah ini ternyata baru pulang mengantarkan sabu-sabu ke pelangganya. Di tangannya masih ada sisa sabu-sabu yang belum diantarkan.

Terkejut melihat ada polisi di rumahnya, Dd kemudian membuang sabu- sabu yang ada di tangannya. Namun, hal ini dipergoki oleh polisi. Dd pun akhirnya digelandang polisi.

Sementara itu, Yeni mengaku sudah tiga bulan menjalankan bisnis haram ini. "Saya bisa terjun ke bisnis ini ketika mengunjungi suami saya di penjara. Di sana saya bertemu dengan seorang bandar dan mengajak saya untuk bekerja sama," tutur Yeni.

Yeni menyatakan berminat dengan tawaran itu meskipun berisiko ditangkap polisi. Keuntungan yang besar menjadi alasannya. "Sejak suami saya dipenjara, saya kebingungan untuk menghidupi anak dan cucu saya," kata Yeni yang menuturkan jika suaminya di penjara karena kasus narkoba pula.

Usaha narkoba yang dijalankan Yeni ini ternyata dijadikan bisnis keluarga. Dd yang masih duduk di bangku sekolah dijadikan kurir. Yeni mengaku tidak mempercayai orang lain untuk menjadi kurir karena banyak berbohong dan berutang.

Bisnis yang dijalankan Yeni dengan anaknya ini ternyata maju dengan pesat dalam waktu singkat. Dalam satu bulan, ia bisa menjual 200 gram sabu-sabu. Dalam seratus gram sabu-sabu yang dijualnya, Yeni bisa mendapatkan keuntungan Rp 20 juta.

Sementara itu, Dd mengaku tidak bisa menolak keinginan ibunya yang memintanya sebagai kurir narkoba. Selain karena diperintah oleh ibunya, Dd juga bisa memperoleh uang banyak dengan mengantarkan sabu-sabu. (red/*pk)
Related Posts with Thumbnails